Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783

168

Daerah pedalaman ini hanya pernah dikunjungi oleh dua pekerja Inggris di EIC yang tidak membuat catatan apa pun mengenai perjalanan mereka. Saya akan merujuk pada sebagian penuturan mereka untuk memberikan penjelasan singkat tentang kondisi geografisnya. Yang pertama adalah dari Charles Miller yang pada 19 September 1770 melakukan perjalanan dari Benteng Marlborough ke Bentiring di sungai Bengkulu, kemudian melanjutkannya ke Pagaradin, Kadras, Gunung Raja, Gunung Ayu. Kalindang. dan Jambu, tempat dia mendaki perbukitan yang membatasi dengan daerah Kompeni yang diketahuinya tertutup dengan banyaknya pepohonan.

Dusun pertama di sisi lainnya bernama Kalubar. Dusun tersebut terlelak di tepi sungai Musi. Dari sana dia menempuh jalur perjalanan ke tempat bernama Kapiyong dan Parahmu. tempat asal semua penduduk membawa hasil produksi, negeri mereka menuju Palembang melalui jalur sungai, Turunnya hujan dan kesulitan-kesulitan yang disebabkan oleh para pemandu menghalanginya melanjutkan perjalanan ke daerah pedalaman, tempat pohon akasia ditebang, dan membuatnya kembali ke arah perbukitan pada tanggal 10 Oktober, lalu berhenti di Tabat Bubut.

Baca Juga:  Kepala Dinas PPPA Provinsi  Sumsel Dukung Ratu Sinuhun Layak Diusulkan sebagai Pahlawan Nasional Perempuan dari Sumsel

Dataran di sekitar Musi digambarkannya sebagai dataran yang rata, bertanah hitam dan cukup subur, serta bersuhu sedang. Dia sebenarnya berniat melintasi perbukitan menuju Ranailebar pada tanggal 11 Oktober, tetapi dia ter. sesat di jalan di hutan dan tiba keesokan harinya di Beyol Bagus,sebuah dusun di daerah Kompeni, kemudian dari sana dua melanjutkan ke Gunung Raja.

Jalan yang ditempuhnya sebagian berada di salah satu anak sungai Bengkulu yang bernama Air Bagus yang dasarnya tersusun atas batuan kerikil besar dan sebagian lagi melewati dalam yang rata yang seluruhnya tertutupi oleh hutan bambu. Dan Gunug Raja, dia kembali menyusuri sungai Bengkulu menggunakan rakit bambu menuju Bentiring dan tiba di Benteng Marlborough pada tanggal 18 Oktober. Penjelajah yang lain adalah Charles Campbell.

Baca Juga:  Syekh Kemas Ahmad Bin Abdullah, Sang Ulama Besar Masjid Agung Palembang

Dalam surat pribadinya tertanggal Maret 1802 (merujuk pada saya untuk informasi yang lebih terperinci pada jurnal-jumal yang belum sampai ke tangan saya), dia mengatakan, “Kami melintasi perbukitan di dekat belakang The Sugadoaf (gunung) dan memasuki lembah Musi. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan pemandangan negeri yang romantic dan indah ini, semua sisinya terkunci oleh pegunungan megah, dan dialiri oleh sungai besar yang bisa dilayari perahu-perahu ukuran sangat besar.

Baca Juga:  KCFI Sumsel Gelar Bedah Buku “Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang"

Setelah tersambung dengan muara sungai Lematang dan sejumlah aliran sungai kecil lainnya, terbentuklah sungai Palembang. Setelah alur perjalanan diarahkan ke balik perbukitan besar di Sungai Lemau, dalam tiga hari kami menemukan Labun, lalu menyeberangi sejumlah sungai yang cukup besar yang bermuara di sungai Kataun. Setelah maksud kami di sana tercapai, kami pulang melalui tepian Musi di dekat dusun Kalubat. Di sana kami menembus hutan dan mendaki gunung, menjelang malam kami tiba di sebuah desa di hulu sungai Bengkulu. Hanya ada satu bukit di sana.

Komentar Anda
Loading...