Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783

168

Akibat masuknya perak dalam jumlah yang cukup besar tanpa adanya jalur penjualan yang jelas, timbul indikasi bahwa dia memiliki harta karun berjumlah besar. Bea cukai untuk barang dagangan impor tetap berada di tangan syahbandar yang diperlukan untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga raja dengan aturan~aturan tertentu dan untuk me menuhi kebutuhan lainnya. Sebagian besar pembantu rumah tangga panqeran adalah perempuan.

Mata uang negeri ini dan satu-satunya uang yang boleh diterima dalam kas kerajaan adalah dolar Spanyol. Namun, ada juga mata uang yang biasa beredar berupa sejenis koin kecil yang dikeluarkan oleh otoritas kerajaan. Mata uang koin itu disebut piti. Bentuknya berupa potongan plat dari campuran timah hitam dan timah putih serta memiliki lubang berbentuk kotak di tengahnya (seperti koin uang Cina), lalu dirangkai dalam paket-paket yang masing-masing paketnya terdiri dari lima keping. Enam belas keping koin tersebut (berdasarkan Batavian Transactions) nilainya sama dengan satu dolar. Dalam mengukur nilai emas, satu tail dianggap sebagai sepersepuluh kati (satu sepertiga pon) atau setara dengan yang seberat dua seperempat dolar Spanyol.

Baca Juga:  Pernah Disinggahi Soekarno dan Keluarga, Rumah Limas Dr AK Gani di Jalan Merdeka Kini Terancam Roboh, Tidak Pernah Diperhatikan 

Wilayah kota berada di dataran landai berawa yang berjarak bebe~ rapa mil di atas delta sungai, sekitar 60 mil dari laut, begitu jauh dari pergunungan di pedalaman sehingga pegunungan tersebut tidak bisa terlihat. Kota ini membentang sekitar delapan mil di sepanjang kedua tepi sungai dan sebagian besar wilayahnya dibatasi oleh tepian sungai tersebut serta anak sungainya yang bermuara di sungai besar. Bangunan-bangunannya, kecuali istana raja dan masjid, seluruhnya terbuat dari kayu atau bambu yang didirikan di atas tiang-tiang dan sebagian besar ditutupi dengan atap jerami dari daun palma.

Komentar Anda
Loading...