
Kegiatan kali ini berlangsung di Lapangan Cantik, wilayah kerja PT Sele Raya Belida yang berada di Desa Lembak, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Senin 8 Juni 2026.(BP/ist)
Muara Enim, BP- Deru mesin produksi terdengar bersahutan di tengah hamparan lahan yang dikelilingi kebun dan permukiman warga di Desa Lembak, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim. Di kawasan inilah Sumur Cantik, salah satu lapangan produksi milik PT Sele Raya Belida, terus bekerja menjaga aliran energi yang menjadi bagian penting bagi kebutuhan nasional.
Namun, pada Senin (8/6/2026), perhatian puluhan jurnalis yang datang ke lokasi bukan hanya tertuju pada aktivitas pengeboran dan produksi minyak dan gas bumi. Mereka juga menyaksikan bagaimana industri hulu migas berupaya hadir di tengah masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan Media Field Trip 2026 yang digelar SKK Migas Perwakilan Sumbagsel bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) wilayah Sumatera Selatan dan Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Field Superintendent PT Sele Raya Belida Elvi Kurnia Hakim, Ketua Forum Jurnalis Migas Sumsel H. Oktaf Riyadi, serta puluhan wartawan dari berbagai media di Sumatera Selatan.
Di bawah terik matahari Muara Enim, para jurnalis diajak meninjau fasilitas produksi Lapangan Cantik yang berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektare dengan delapan sumur produksi aktif. Lapangan ini merupakan bagian dari empat wilayah produksi yang dikelola PT Sele Raya Belida dengan total area operasional sekitar delapan hektare.
Dari kejauhan,terlihat hanyalah hamparan lahan terbuka dengan sejumlah instalasi produksi. Namun semakin dekat, semakin tampak bahwa kawasan ini merupakan bagian dari sistem yang bekerja tanpa henti menjaga pasokan energi nasional.
Lapangan Cantik berdiri di atas lahan seluas sekitar 1,2 hektare dengan delapan sumur produksi aktif. Kawasan tersebut merupakan bagian dari empat lapangan produksi yang dikelola PT Sele Raya Belida dengan total area operasi mencapai delapan hektare.
Di tengah kawasan operasi yang dikelilingi hamparan perkebunan dan permukiman warga, Lapangan Cantik masih menjadi salah satu penopang produksi gas PT Sele Raya Belida (SRB).
Meski hanya menyisakan satu sumur aktif, kontribusi Lapangan Cantik tetap signifikan. Saat ini lapangan tersebut mampu menghasilkan gas sekitar 1,3 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Seluruh aktivitas produksi didukung fasilitas operasi yang berdiri di area seluas hampir 1,5 hektare.
Produksi dari Lapangan Cantik menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keberlanjutan pasokan energi di tengah tantangan alamiah berupa penurunan produksi sumur-sumur migas yang telah beroperasi dalam jangka panjang.
Tidak hanya mengandalkan Lapangan Cantik, PT Sele Raya Belida juga mengelola Lapangan Sungai Anggur Selatan yang berada dalam wilayah kerja yang sama. Kedua lapangan tersebut menjadi tulang punggung operasional perusahaan dalam mendukung produksi migas sekaligus berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Meski tidak sebesar lapangan migas raksasa di daerah lain, keberadaan lapangan ini juga menjadi salah satu penyumbang penting produksi minyak dan gas bumi nasional.
Field Superintendent PT Sele Raya Belida, Elvi Hakim, menceritakan asal-usul nama Sumur Cantik yang selama ini kerap mengundang rasa penasaran.
Menurutnya nama Sumur Cantik dipilih sebagai simbol harapan agar sumur tersebut menghasilkan minyak dengan kualitas dan produksi yang baik.
“Nama Sumur Cantik ini merupakan doa dan harapan agar sumur yang dibangun mampu memberikan hasil produksi yang baik,” ujarnya.
Elvi hanya tersenyum ketika menceritakan kisah yang berkembang di masyarakat setempat mengenai sumur yang memiliki nama yang unik tersebut.
“Dahulu kawasan ini masih berupa hutan. Masyarakat sering bercerita tentang adanya ‘tetangga-tetangga yang tak kasat mata’. Dari situlah kemudian muncul nama Sumur Cantik,” katanya.
Cerita itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi masyarakat sekitar, nama tersebut menjadi bagian dari identitas yang membedakan lapangan migas ini dari lokasi produksi lainnya.
Di balik namanya yang unik, Sumur Cantik memegang peran strategis. Dari lokasi inilah para jurnalis dapat melihat secara langsung bagaimana minyak bumi diproduksi melalui proses yang panjang, menggunakan teknologi modern serta standar keselamatan yang ketat.
Dari lokasi tersebut, para wartawan dapat menyaksikan secara langsung proses produksi migas yang dijalankan dengan menerapkan prosedur operasional dan standar keselamatan yang ketat.
Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Sumbagsel, Safei Sapri, menjelaskan bahwa kegiatan kunjungan lapangan ini sengaja dilakukan agar media memperoleh gambaran yang utuh mengenai industri hulu migas.
“Kami ingin teman-teman media melihat langsung bagaimana operasi hulu migas dijalankan. Tidak semua informasi yang beredar di masyarakat sesuai dengan kondisi di lapangan. Karena itu kami membuka ruang agar media dapat melihat fakta secara langsung,” ujarnya.
Menurut Safei, tantangan terbesar industri migas saat ini adalah menjaga produksi di tengah karakteristik sumber daya minyak dan gas yang terus mengalami penurunan alami.
Karena itulah berbagai kegiatan pengembangan, perbaikan sumur, hingga eksplorasi cadangan baru terus dilakukan.
Sayang, saat kunjungan berlangsung, Sumur Cantik sedang menjalani proses workover, yakni serangkaian pekerjaan teknis untuk meningkatkan kembali kemampuan produksi sumur.
Aktivitas tersebut menyebabkan produksi dihentikan sementara demi mendukung pekerjaan pengaktifan kembali sumur secara aman.
“Target produksi nasional harus dijaga. Salah satu tugas utama kami adalah menahan laju penurunan produksi sekaligus mendorong kegiatan eksplorasi dan pengembangan agar produksi dapat meningkat,” kata Safei.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan menurutnya, pemerintah menargetkan produksi minyak nasional mencapai 610 ribu barel per hari pada 2026 sebagai bagian dari upaya mewujudkan ketahanan dan swasembada energi nasional.
Menariknya, pihak PT Sele Raya Belida tidak hanya berbicara soal produksi energi. Perusahaan justru menyoroti berbagai program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang telah direalisasikan sepanjang tahun 2025.
PR Supervisor PT Sele Raya Belida, Valentina, menegaskan bahwa keberhasilan industri migas tidak semata diukur dari jumlah produksi, tetapi juga dari sejauh mana keberadaan perusahaan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
“Kami ingin keberadaan perusahaan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi produksi energi, tetapi juga mampu berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat,” katanya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menyasar sektor kesehatan, pendidikan, infrastruktur, lingkungan, hingga bantuan kemanusiaan.
Di bidang kesehatan, perusahaan melaksanakan sunatan massal bagi 50 anak dari 10 desa di Kecamatan Gunung Megang dan Kecamatan Lembak. Selain itu, bantuan peralatan kesehatan untuk puskesdes, layanan pengobatan gratis, serta pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita di Kabupaten Banyuasin juga menjadi bagian dari program yang dijalankan.
Sementara di sektor pendidikan, PT Sele Raya Belida merehabilitasi tujuh sekolah dasar, membangun 12 unit jamban sekolah, serta meningkatkan sarana dan prasarana Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Desa Pagar Bulan, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin.
Bagi masyarakat desa, program-program tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar dibandingkan angka-angka dalam laporan perusahaan. Kehadiran ruang belajar yang lebih layak, fasilitas sanitasi yang memadai, hingga akses layanan kesehatan yang lebih baik merupakan investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi kawasan pesisir Sumatera Selatan, PT Sele Raya Belida juga berupaya mengambil peran melalui program konservasi mangrove.
Bersama SKK Migas dan sejumlah KKKS lainnya, perusahaan melaksanakan penanaman mangrove di Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin. Program ini bertujuan menjaga ekosistem pesisir sekaligus memperkuat perlindungan alami terhadap abrasi dan perubahan iklim.
Tidak hanya itu, perusahaan juga mendukung pembangunan infrastruktur masyarakat melalui perbaikan jalan, rehabilitasi fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK), serta berbagai program sosial lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar wilayah operasi.
Ketika bencana alam melanda berbagai daerah di Indonesia, perusahaan turut ambil bagian dalam kegiatan kemanusiaan, termasuk memberikan bantuan kepada korban bencana di Aceh dan sejumlah wilayah lainnya.
Industri migas selama ini sering dipandang hanya dari sisi eksplorasi dan produksi. Padahal, di balik operasional sumur-sumur migas terdapat tanggung jawab sosial yang tidak kalah penting.
Apa yang dilakukan PT Sele Raya Belida menunjukkan bahwa keberadaan industri energi dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga lingkungan.
Valentina mengatakan sejumlah program PPM baru telah disiapkan untuk tahun 2026 dan akan direalisasikan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat.
Bagi SKK Migas, perusahaan migas, dan insan pers yang hadir dalam Media Field Trip 2026, kunjungan ke Lapangan Cantik bukan sekadar agenda rutin tahunan. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa energi tidak hanya lahir dari sumur-sumur produksi, tetapi juga dari kolaborasi, kepedulian sosial, dan komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat.
Di tengah upaya menjaga ketahanan energi nasional, keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika minyak dan gas berhasil diproduksikan, melainkan ketika manfaatnya dapat dirasakan hingga ke ruang kelas, puskesdes, jalan desa, dan rumah-rumah warga yang berada di sekitar wilayah operasi. Sebab pada akhirnya, energi yang paling berharga adalah energi yang mampu menggerakkan kehidupan.
Ketua Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumatera Selatan, H. Oktaf Riyadi, menyambut baik pelaksanaan Media Field Trip yang dinilainya menjadi sarana penting bagi wartawan untuk memahami industri migas secara langsung.
“Kegiatan seperti ini memberikan kesempatan bagi jurnalis untuk melihat langsung bagaimana proses operasi hulu migas berlangsung di lapangan,” katanya.
Menurut Oktaf, pengalaman melihat langsung fasilitas produksi migas akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dibandingkan hanya menerima informasi melalui paparan atau data tertulis.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu menambah wawasan dan menghasilkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas serta edukatif bagi masyarakat.
“Kami berharap kegiatan hari ini dapat menambah ilmu pengetahuan teman-teman jurnalis sehingga dapat menghasilkan tulisan yang lebih baik dan lebih mendalam mengenai industri migas,” ujarnya.#udi