Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783

175

Penampilan bangunan tersebut memang tidak menarik sama sekali. Ada juga sejumlah besar rumah terapung yang kebanyakan adalah toko-toko yang terbuat dari rakil bambu yang ditambatkan ke tiang-tiang. Ketika sang pemilik toko ini tidak lagi suka dengan posisinya, mereka akan memindahkannya lebih ke hulu atau ke hilir menggunakan arus pasang menuju posisi yang nyamam seperti karakteristik alam di negeri sekitarnya yang dilimpahi luapan arus sehingga jalan darat jarang digunakan, hampir semua komunikasi memang dilakukan menggunakan sarana perahu yang terlihat bergerak dalam jumlah ratusan ke segala arah tanpa henti.

Baca Juga:  Sumsel Banyak Memiliki Pahlawanan Yang Layak Dijadikan Pahlawan Nasional

Wilayah dalam atau istana dikelilingi oleh tembok tinggi, sehingga tidak ada bangsa Eropa yang mengetahui bagian interiornya, tetapi bagian luarnya luas, megah dan terdapat banyak hiasan. Berdampingan dengan tembok lni, pada sisi bawah , terdapat benteng yang kokoh, berbentuk persegi. beratap. menghadap sungai. dan terdapat satu lagi di bawahnya.

Pada kedua benteng itu, banyak meriam berat dipasang, lalu ditembakkan pada kesempatan-kesempatan khusus. Di tengah-tengah antara kedua benteng tersebut terlihat suatu medan atau lahan kosong yang bagian ujungnya terhubung dengan balerong atau balairung, tempat sultan mengadakan pertemuan dengan khalayak umum.

Baca Juga:  Perlu Ada Pelurusan Sejarah Makam Ario Dillah di Palembang

Balairung ini merupakan bangunan yang biasa saja dan terkadang dimanfaatkan sebagai gudang, tetapi bangunan ini dihiasi dengan senjata-senjata yang disusun di sepanjang dindingnya. Masjid kerajaan berdiri di belakang istana dan dan gaya arsitektumya sepertinya dibangun oleh orang Eropa.

Masjid ini merupakan suatu bangunan persegi panjang dengan jendela-jendela kaca, pilar-pilar, dan suatu kubah. Tempat pemakaman para penguasa berada di Palembang lama, sekitar satu league ke arah hilir sungai di mana tanahnya tampak lebih tinggi karena sudah lama menjadi tempat pemukiman.

Baca Juga:  Palembang Kaya dengan Makam-makam Bersejarah, Namun Banyak Tak Dirawat

Kebijakan para pangeran di sini, yang mana mereka sendiri juga merupakan orang asing. selalu mendukung keberadaan para pemukim Asing.

Komentar Anda
Loading...