Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783
Daerah pedalaman ini dibagi menjadi propinsi-propinsi yang masing-masing dipercayakan sebagai sebuah perdikan atau pemerintahan untuk salah satu anggota keluarga kerajaan atau keluauga bangsawan yang melaksanakan pengelolaannya kepada para deputi dan tanpa terlalu memperhatikan perlakuan terhadap rakyatnya.
Para pangeran yang merupakan keturunan dan pangeran zaman dulu di negeri ini mengalami banyak penindasan dan ketika terpaksa datang ke istana. Tidak ada seremonial tertentu yang diadakan untuk menyambutnya.
Para penguasa kerajaan Palembang saat ini dan sebagian besar para penduduk di kotanya awalnya berasal dari Jawa. Seperti yang sudah diduga, hal ini merupakan akibat dari penaklukan oleh penguasa Majapahit pada periode sebelumnya atau berdasarkan sejumlah anggapan lain, akibat penaklukan oleh penguasa Banten pada periode yang lebih modern.
Sebagai bukti adanya penaklukan oleh Banten baik secara nyata maupun nominal, hal ini bisa ditemukan dalam tulisan tentang penjelajahan pertama bangsa Belanda yang menyatakan. “Pada tahun 1596 raja Banten digulingkan di dekat Palembang, sebuah kota yang memberontak di Sumatera, tempat dia dikepung;”
Belanda mendapatkan kehormatan menobatkan ke atas tahta salah satu anggota keluarga sultan yang memerintah (1780) yang bernama Ratu Ahmad Baharuddin. Putra sulungnya menyandang gelar Pangeran Ratu yang setara dengan gelar Raja Muda dalam kerajaan Melayu.
Kekuasaan kerajaan tidak dibatasi oleh larangan hukum apa pun, tetapi apabila tidak didukung oleh pasukan tentara bayaran, titahnya sering diabaikan oleh para bangsawan. Meskipun tidak ada pemasukan dari pajak ataupun kontribusi, hasil keuntungan yang diperoleh dari perdagangan lada dan khususnya timah sangatlah besar.