Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783
Karya dari William Marsden tersebut merupakan sebuah prestasi besar dalam mengkaji wilayah-wilayah asing di luar benua Eropa. Tulisan Marsden tentang Sumatera merupakan sebuah karya besar pada abad ke-18 yang ditulis berdasarkan hasil riset dan observasi yang sudah tergolong canggih apabila meninjau kurun waktu di mana ia hidup.
Buku History of Sumatra (1783) yang terdiri dalam enam kelompok menceritakan mengenai:
a. Bab 1 : Menceritakan tentang karakteristik geografis wilayah Sumatera, mulai dari udara, metereorologi, iklim, kondisi tanah dll.
b. Bab 2-4 : Menceritakan tentang penduduk dan kehidupan sosiologi-antropologis masyarakat Sumatera pada masa itu.
c. Bab 5-8 : Menceritakan tentang flora dan fauna serta komoditi pertambangan yang terdapat di Sumatera.
d. Bab 9-15 : Menceritakan tentang kebudayaan, hukum, adat istiadat, dan tata perilaku masyarakat Sumatera pada masa itu.
e. Bab 16-21 : Menceritakan tentang perbedaan penduduk atar daerah hingga sejarah kerajaan-kerajaan di Sumaetra.
f. Bab 22 : Mulai menceritakan tentang awal kolonialisasi.
g. Bab 23 : Menceritakan tentang pulau-pulau lepas pantai pesisir barat Sumatera.

Hulunya berada di daerah Musi. Tepatnya di belakang jajaran perbukitan yang terlihat dari Bengkulu. Bagian hulu tersebut dinamakan Air Musi, sedangkan di bagian yang lebih rendah dinamakan Tatong.
Berseberangan dengan kota Palembang dan pos dagang VOC, sungai ini memiliki lebar lebih dari satu mil dan cukup nyaman dilayari oleh kapal-kapal yang dirancang dengan syarat airnya tidak melebihi 14 kaki. Kapal-kapal yang lebih besar telah berlayar di sana untuk kepentingan militer (seperti pada tahun 1660 saat tempat ini diserang dan dihancurkan oleh bangsa Belanda), tetapi pelaksanaannya disertai dengan kesulitan akibat banyaknya gundukan.
Pelabuhan ini sering dikunjungi oleh kapal-kapal dagang khususnya dari Jawa, Madura, Bali, dan Sulawesi yang membawa beras, garam, dan kain-kain hasil produksi pulau-pulau tersebut. Ada juga opium, barang kelontong dari Hindia Barat dan komoditas Eropa lainnya yang dipasok oleh bangsa Belanda dari Batavia atau oleh mereka yang dikenal sebagai penyelundup. Sebaliknya, mereka menerima lada dan timah yang berdasarkan perjanjian lama yang dibuat oieh Sultan dan secara resmi diperbaharui pada tahun 1777 kedua komoditas tersebut secara eksklusif dikirimkan kepada Kompeni dengan harga yang telah ditetapkan dan tidak ada bangsa Eropa lainnya yang diizinkan berda gang dan berdayar di dalam wilayah kekuasaannya.