Palembang dan Sekitarnya di Tahun 1783

168

Kota yang berada di bagian hilir sungai sebagian besar dihuni oleh para penduduk dari Cina. Cochinchina, Kamboja, Siam, Patani yang terletak di pesisir semenanjung, Jawa, Sulawesi, dan daerah lain di kawasan timur. Terlebih lagi, para ulama Arab dideskripsikan oleh bangsa Belanda sebagai suku yang jumlah anggotanya sangat banyak dan merugikan. Meskipun mereka kerap bertlndak semena~mena dan menjarah para penduduk yang lugu, mereka tetap saja dimuliakan oleh para penduduk.

Agama Islam berlaku di seluruh wilayah kekuasaan sultan, kecuali di daerah dekat pesisir yang bernama Salang, tempat para penduduk aslinya yang disebut orang kubu hidup di dalam hutan seperti hewan liar. Literatur negeri ini dikatakan terbatas pada kajian Al Our’an. Namun, pendapat-pendapat semacam ini menurut saya terlalu cepat terbentuk atau dinyatakan oleh orang-orang yang tidak kompeten dalam memperoleh informasi yang diperlukan.

Baca Juga:  Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Harap Semua Pihak Jaga Makam Bersejarah

Bahasa yang dlgunakan oleh raja dan orang-orangnya dl istana adalah bahasa Jawa tingkat tinggi, dicampur dengan sejumlah serapan idiom asing. Dalam interaksi umum dengan orang-orang asing, percakapan selalu dilakukan dalam bahasa Melayu dengan pengucapan (sudah dljelaskan sebelumnya) akhiran vokal ‘a’ yang diganti dengan vokal ‘o’.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Palembang sendiri (aksara yang mereka gunakan) adalah aksara bahasa setempat yang dicampur dengan aksara umum Jawa. Bangsa Belanda, yang tulisannya tentang adat istiadat dan watak penduduk negeri ini kami jadikan rujukan dan bisa ditemukan dalam Batavian Transactions jilid 3 halaman 122, mendeskripsikan mereka yang tinggal di dataran rendah sebagai penduduk yang sama sekali tidak berkepribadian baik dan dipenuhi semua sifat buruk, sementara mereka yang tinggal di pedalamanan dikatakan sebagai orang bodoh, yaitu orang-orang sederhana yang menunjukkan banyak kepasrahan dibawah penindasan. Namun diakui bahwa mereka hanya memiliki sedikit informasi tentang masyarakat pedalaman ini karena adanya kecurigaan dan kecemburuan berlebihan dari pemerintah, sehingga pemerintah pun waspada terhadap upaya apapun yang dilakukan Belanda untuk masuk ke negeri ini.

Komentar Anda
Loading...