Penamaan Masjid SMB Tidak Bisa Mewakili Fakta Sejarah SMB I dan SMB II

Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Sumatera Selatan (Sumsel) dipimpin ketuanya Farida R Wargadalem berserta jajaran sempat meminta klarifikasi hal tersebut kepada pengurus Yayasan Masjid Agung Palembang namun hasilnya tidak membuahkan suatu solusi, Selasa (29/1).
Palembang, BP
Penamaan pada Plang Nama Masjid Agung Palembang yang seharusnya dituliskan dengan nama “Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo namun hanya dituliskan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) terus menuai protes berbagai kalangan di kota Palembang.
Malahan pihak Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) cabang Sumatera Selatan (Sumsel) dipimpin ketuanya Farida R Wargadalem berserta jajaran sempat meminta klarifikasi hal tersebut kepada pengurus Yayasan Masjid Agung Palembang namun hasilnya tidak membuahkan suatu solusi, Selasa (29/1) siang di Masjid Agung, Palembang.
Menurut Farida R Wargadalem dalam pertemuan tadi pihak Yayasan Masjid Agung Palembang akan menyampaikan keberatan MSI cabang Sumsel.
“ Kita mendengar dulu , secara langsung bagaimana, tadi yang menghadapi kita tadi pak Andi Syarifuddin sama pak Hamid, Wakil Sekretaris , dia menjelaskan bahwa, itu tuh memang nama asli dia ngomongke SMB Jaya Wikramo, kalau kita tambah-tambah merusak sejarah , intinya seperti itu, dalam naskah-naskah tidak ada kata satu , dua, intinya gitu, aku bilang dengan dia memang dibudaya kita ada seperti itu, di Komering nama cucu dikasih nama akasnya, tapi fakta sejarah kita bahwa SMB II sudah pahlawan , itu fakta sejarah, ada angka dua, orang akan tanya satunya dimana, “ kata Farida, Selasa (29/1).
Dirinya juga menyampaikan harusnya ada diskusi sebelum memutuskan nama Masjid SMB namun mereka (Pengurus Yayasan Masjid Agung , Palembang) bilang sudah keputusan bersama dan tidak mungkin menghilangkannya.
“Betul tapi alangkah bagusnya mendengar semua pihak, buktinya ada reaksi, kalau tidak ada apa-apa tidak mungkin ada reaksi, makin banyak yang bereaksi itu menunjukkan orang memiliki perhatian yang besar, orang merasa memiliki, itu bagus,” katanya.
Selain itu nama SMB tidak bisa diwakilkan SMB I dan SMB II, karena sosok SMB I dan SMB II adalah sosok yang sama-sama hebat.
Dan menurut dosen FKIP Sejarah Unsri ini, pihak Yayasan Masjid Agung Palembang dal;am pertemuan tersebut beranggapan dan berpendapat merekalah yang benar.
“Bener,itu bener, tapi kita ada fakta sejarah, kita punya SMB II lantas satunya kemana?, mereka menganggap kalau di buat satu dan dua adalah anaknya, tidak bisa macam begitu, aku paling tidak suka dengan menulis SMB itu sudah mewakili keduanya , tidak bisa, fakta sejarah itu tidak bisa di wakili, apalagi menyangkut tokoh, tidak bisa,” katanya.
Karena itu menurt Farida setelah pertemuan tadi pihaknya akan lihat perkembangan selanjutnya.
“ Kita tadi tabayun ya, klarifikasi kita ingin dengar langsung kita tidak mau dari pihak ketiga, argumen kita itu punya landasan akademisnya,” katanya.
Sedangkan baik Andi Syarifuddin dan Rahmat Zeth ketika dihubungi Hpnya tidak aktip.
Sedangkan Ketua Yayasan Masjid Agung Palembang, Ir Kgs H Ahmad Syarnubi mengatakan, kalau tanggal 2 Februari adalah acara peresmian nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin yang akan dihadiri Gubernur Sumsel Herman Deru.
Mengenai protes sejumlah pihak terkait peresmian nama Masjid Sultan Mahmud Badaruddin yang harusnya Masjid Sultan Mahmud Badaruddin I atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo.
“Tidak ada SMB I atau SMB II enggak ada sebenarnya, jadi kita rangkumlah dua duanya, jadi kita tidak memilahkan SMB I, SMB II , iya khan , Masjid Agung itu didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo kemudian dirawat, dimakmurkan termasuk oleh Sultan Mahmud Badaruddin Hasan itu yang disebut II sekarang itu, jadi itu maksud kita tidak menyebut I, II dan memang tidak ada I, II,” kata Ahmad Syarnubi ketika dihubungi, Senin (28/1) lalu .
Sedangkan Persatuan Zuriat Palembang (PZP) bersama-sama berbagai unsur yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Zuriat Palembang Darussalam (AMZPD) menolak atas pemberian nama Masjid Agung Palembang menjadi Masjid Sultan Mahmud Badaruddin (SMB).
Mereka sudah sudah bertemu perwakilan Kanwil Bank Mandiri Wilayah Sumsel, Selasa (29/1). Namun rombongan belum bisa bertemu Wagub Sumsel Mawardi Yahya lantaran Wagub pergi ke BPK.
“ Kita hanya memasukkan surat saja ke Pemprov Sumsel,” kata salah satu rombongan vebri Al Lintani. #osk