Varian Baru Corona Muncul di Afrika, WHO Sebut Varian Omicron Kategori Menghawatirkan

Jakarta, BP—Varian baru dari virus corona telah teridentifikasi di Afrika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (26/11/21), telah resmi menamai varian tersebut dengan nama varian Omicron, nama varian baru COVID-19 itu, pertama kali disebut sebagai garis keturunan B.1.1.529 dan dikategorikan sebagai varian yang mengkhawatirkan (VoC) berdasarkan kategorisasi WHO, sebagaimana varian Delta dan Beta.
Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis WHO tentang Covid-19, mengatakan bahwa varian Omicron ini memiliki kemampuan besar bermutasi dengan karakteristik yang mengkhawatirkan.
“Varian ini memiliki sejumlah besar mutasi, dan beberapa mutasi ini memiliki beberapa karakteristik yang mengkhawatirkan.” kata Maria dalam videonya yang diunggah di twitter.
Beberapa fakta yang telah diketahui mengenai varian baru ini, telah terdapat 82 kasus teridentifikasi. Saat ini telah terdapat sebanyak 82 kasus teridentifikasi dari varian ini, dengan detail 77 kasus di Provinsi Gauteng, Afrika Selatan 4 kasus di Botswana dan 1 kasus di Hong Kong (terkait perjalanan dari Afrika Selatan), demikian informasi yang dikutip dari BBC News, Sabtu (27/11).
Sementara itu, Profesor Tulio de Oliveira, Direktur Centre for Epidemic Response & innovation Afrika Selatan, mengatakan varian baru ini punya 50 mutasi secara keseluruhan, lebih dari 30 di antaranya terdapat pada spike protein.
Banyaknya mutasi ini menjadi perhatian karena virus ini menjadi sangat berbeda dengan yang awalnya muncul di Wuhan, China. Hal ini dapat berarti vaksin yang saat ini dirancang untuk virus awal, bisa tidak seefektif untuk virus varian baru.
Sementara itu, Pemerintah Inggris kini berupaya melarang penerbangan dari enam negara, yaitu Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, dan Eswatini. Selain itu, mereka juga mewajibkan para pelancong yang kembali dari beberapa negara dari bagian selatan Afrika untuk menjalani karantina.
Kekhawatiran yang muncul adalah varian baru ini dapat memicu wabah baru di banyak negara, berpotensi menembus vaksin yang ada saat ini, dan mempersulit upaya untuk membuka kembali ekonomi dan perbatasan. #rid/net