18 Tahun JAPFA for Kids Membangun Fondasi Generasi Sehat Indonesia

0
Japfa For Kids (Sumber poto: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.japfacomfeed.japfa_for_kids&hl=id)

Palembang, BP- Tepat seperempat abad menuju Indonesia Emas 2045, bangsa ini masih berhadapan dengan salah satu pekerjaan rumah paling mendasar sekaligus paling mengancam masa depannya: gizi anak.

 

Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5 hingga 12 tahun masih berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk. (https://harian.disway.id/read/947683/japfa-soroti-18-tahun-perjalanan-japfa-for-kids-lewat-akjj-2026).

Kementrian  Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), sementara itu, mencatat sekitar 8,1 juta keluarga di Indonesia masuk dalam kategori keluarga risiko stunting (KRS). Dari jumlah itu, sekitar 2,9 juta keluarga tidak memiliki jamban layak, 1,7 juta keluarga tidak memiliki akses air minum utama yang layak, serta 4,3 juta pasangan usia subur masuk dalam kategori “4 terlalu”  melahirkan terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, atau memiliki anak terlalu banyak. Prevalensi stunting nasional pada 2025 tercatat di level 18,8 persen, dengan target pemerintah untuk menurunkannya hingga di bawah 5 persen menjelang 2045. (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260520160719-255-1360463/81-juta-keluarga-ri-berisiko-stunting-sanitasi-jadi-sorotan)

Di tengah gambaran besar yang masih menyisakan kegentingan itu, sebuah program tanggung jawab sosial perusahaan justru menawarkan secercah harapan yang terukur, terdokumentasi, dan terbukti bekerja di lapangan.

Selama 18 tahun, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) melalui program JAPFA for Kids telah menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan dapat mengubah status gizi ribuan anak secara nyata. Bukan sekadar proyek amal tahunan, melainkan ekosistem perubahan perilaku yang dibangun dari dalam sekolah, melibatkan guru, orang tua, puskesmas, dan pemerintah daerah, dengan pendekatan yang tidak hanya memberi, tetapi juga mengedukasi, memantau, dan memberdayakan.

Setiap kebijakan publik maupun inisiatif swasta layak dinilai dari satu ukuran paling dasar: apakah ia membawa perubahan? Pada kasus JAPFA for Kids, jawabannya terdokumentasi dengan jelas.

Data internal JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program pada tahun 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami malagizi (gizi kurang dan gizi buruk). Angka ini memang masih signifikan, tetapi di situlah intervensi dimulai. Sepanjang tahun 2024, program ini berhasil mendorong sebanyak 762 dari 1.479 anak dengan kondisi malagizi  atau setara 51,5 persen  untuk naik status menjadi gizi baik.

Namun, pencapaian yang lebih signifikan terjadi pada 2025. Dari 1.034 siswa dengan kondisi gizi kurang dan buruk, sebanyak 646 anak berhasil meningkat menjadi gizi baik, atau 62,5 persen. Peningkatan efektivitas dari 51,5 persen menjadi 62,5 persen dalam hanya satu tahun menunjukkan bahwa strategi intervensi tidak statis; ia terus disempurnakan berdasarkan evaluasi dan data.

Hingga tahun 2025, program ini telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia. Jangkauan yang meluas hingga ke berbagai pelosok Nusantara  dari Aceh hingga Papua ini bukanlah sekadar angka, melainkan representasi dari fakta bahwa masalah malagizi tidak mengenal batas administratif dan membutuhkan pendekatan lokal yang adaptif di setiap wilayah. (https://www.rmoljatim.id/18-tahun-japfa-for-kids-konsisten-tekan-angka-malagizi-anak-melalui-karya-jurnalistik-2026)

Selaras dengan keberhasilan ini, kepala sekolah pelaksana program juga merasakan dampak langsungnya. Musri, Kepala SD Kemantren Paciran di Lamongan, menyatakan bahwa kondisi kesehatan siswa di sekolahnya secara umum cukup baik, dan tidak ditemukan kasus stunting. Namun, ia menilai program “one day one egg” dan pelatihan guru tetap sangat membantu dalam meningkatkan perhatian terhadap kesehatan siswa secara berkelanjutan.

“Program seperti ini sangat bagus dan saya sangat mendukung. Baru pertama kali ada program dari pihak luar dengan model seperti sekarang,” ujarnya. Ia berharap program dari JAPFA dapat terus berjalan dan dikembangkan, terutama dalam mendukung pemenuhan protein anak-anak melalui variasi menu seperti ikan, telur, dan ayam. (https://duta.co/japfa-for-kids-gelar-pelatihan-guru-dan-program-gizi-anak-di-sd-kemantren-paciran-dorong-pemenuhan-gizi-anak)

Keberhasilan program tidak datang dari intervensi tunggal. Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan bahwa JAPFA for Kids dijalankan melalui pendekatan holistik yang mencakup beberapa pilar sekaligus.

Pertama, pemberian protein hewani berupa satu butir telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa yang teridentifikasi malagizi. Mengapa telur? Sebagai sumber protein hewani yang kaya asam amino esensial lengkap, telur telah terbukti dalam berbagai studi ilmiah memiliki peran krusial dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.

Ahli Gizi dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., menegaskan bahwa protein hewani mengandung asam amino esensial lengkap yang sangat dibutuhkan untuk mencegah stunting dan mendukung kognisi anak. “Program seperti JAPFA for Kids sangat krusial karena tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga membangun literasi gizi di lingkungan sekolah,” jelasnya. (https://beritajatim.com/18-tahun-japfa-tetap-konsistensi-membangun-gizi-bangsa-dari-jatim)

Baca Juga:  Pelaku Jambret Nyaris Diamuk Massa

Kedua, pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital. Penggunaan teknologi di sini bukan sekadar gimmick. Data antropometri yang dikumpulkan secara berkala dan terekam secara sistematis memungkinkan tim program untuk melacak perkembangan individu siswa, mendeteksi sejak dini jika terjadi stagnasi atau penurunan status gizi, dan menyesuaikan intervensi secara cepat.

Ketiga, program Hari Sehat JAPFA (HSJ) yang menjadi wahana pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di sekolah. Tidak cukup hanya memberikan telur; anak-anak juga harus diajari untuk mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan lingkungan sekolah, serta memahami mengapa konsumsi protein hewani itu penting. HSJ mengemas edukasi ini dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan: senam bersama, pemeriksaan kesehatan, cek kuku, hingga makan bekal bersama dengan menu gizi seimbang. (https://padek.jawapos.com/pendidikan/2605220042/lanjutkan-rangkaian-akjj-2026-japfa-dorong-kolaborasi-suarakan-pentingnya-gizi-seimbang-di-sumatera-barat)

Keempat, pelatihan guru dan pendampingan orang tua. Guru dilatih untuk menjadi agen perubahan di sekolah, sementara orang tua dilibatkan dalam penyediaan bekal sehat dan didampingi untuk memahami prinsip-prinsip gizi seimbang di rumah. Perubahan perilaku tidak akan bertahan jika hanya terjadi di dalam pagar sekolah; ia harus meluas hingga ke lingkungan keluarga.

JAPFA juga menerapkan prinsip sharing contribution bukan sekadar donor, melainkan mitra yang mengajak sekolah, guru, orang tua, puskesmas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dan berkontribusi aktif. “Kami hadir tidak sebagai donatur akan tetapi mengajak semua elemen untuk bekerja sama, berkontribusi untuk mencapai tujuan bersama,” tegas Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA. Inilah yang membedakan JAPFA for Kids dari sekadar program pemberian makanan gratis, ia adalah gerakan perubahan kolektif yang berbasis data dan keberlanjutan. (https://www.srikandinews.com/2026/05/22/japfa-for-kids-program-unggulan-atasi-gizi-anak-diterapkan-perdana-di-sdn-001-teluk-bintan/#respond)

Data agregat nasional penting untuk memberikan gambaran makro. Namun, esensi dari sebuah program yang telah berjalan selama 18 tahun tidak akan pernah utuh tanpa menyentuh tanah, sekolah, dan wajah-wajah anak-anak yang hidupnya berubah. JAPFA for Kids tidak berjalan di ruang hampa; ia menjejakkan kaki di berbagai pelosok Indonesia, dari pesisir Jawa hingga pedalaman Sumatera, dari kepulauan Riau hingga Maluku Utara. (https://www.srikandinews.com/2026/05/22/japfa-for-kids-program-unggulan-atasi-gizi-anak-diterapkan-perdana-di-sdn-001-teluk-bintan/#respond)

Pada peringatan 18 tahun program ini di tahun 2026, JAPFA menyelenggarakan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 yang mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa .Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”, sekaligus menyoroti implementasi program di beberapa lokasi kunci. (https://harian.disway.id/read/947683/japfa-soroti-18-tahun-perjalanan-japfa-for-kids-lewat-akjj-2026)

Di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, program ini melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah. Kawasan pesisir utara Jawa ini memiliki karakteristik sosial-ekonomi yang beragam. Sebagian besar anak di wilayah ini mendapatkan asupan protein hewani dari ikan, tetapi pengetahuan tentang gizi seimbang dan praktik hidup bersih masih menjadi tantangan tersendiri. Di SD Kemantren Paciran, misalnya, meskipun secara umum kondisi kesehatan siswa dinilai baik, program ini tetap diterima dengan antusias karena memberikan pendekatan yang sistematis dan terukur. Pembagian telur kepada siswa dilakukan setiap hari, dan pemantauan status gizi dilakukan secara berkala dengan melibatkan guru sebagai ujung tombak. (https://duta.co/japfa-for-kids-gelar-pelatihan-guru-dan-program-gizi-anak-di-sd-kemantren-paciran-dorong-pemenuhan-gizi-anak)

Di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, program JAPFA for Kids menjangkau lebih dari 5.000 siswa di 32 sekolah dasar di Kecamatan Margasari. Dari 32 sekolah tersebut, 13 sekolah melaksanakan intervensi Hari Sehat JAPFA setiap minggu yang berfokus pada edukasi gizi dan pembiasaan perilaku sehat, sementara 19 sekolah lainnya ditetapkan sebagai sekolah inti yang juga menjalankan intervensi khusus bagi siswa dengan status gizi malnutrisi. Bupati Tegal, H. Ischak Maulana Rohman, menyambut positif dan berharap kolaborasi ini berlanjut tidak hanya di tahun berjalan, tetapi ke tahun-tahun berikutnya. (https://www.japfacomfeed.co.id/index.php/sinergi-japfa-dan-pemkab-tegal-dorong-gizi-seimbang-di-sd)

Di Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat, melalui program di Lintau Buo, JAPFA membawa manfaat bagi lebih dari 2.000 penerima yang terdiri dari siswa dan guru dari 14 sekolah dasar. Program ini tidak hanya mengedukasi siswa, tetapi juga melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan setempat dalam penandatanganan nota kesepahaman sebuah bentuk sinergi kelembagaan yang menjadi fondasi keberlanjutan program. Para guru mendapatkan pelatihan agar mampu menyampaikan edukasi gizi secara sederhana dan menarik, sementara orang tua terlibat dalam penyediaan bekal sehat untuk anak-anak bergizi kurang.

Baca Juga:  Pembayaran Tiket LRT Gunakan Uang Elektronik Dinilai Tidak Efisien

Ketua TP PKK sekaligus TP Posyandu Kabupaten Tanahdatar, Lise Eka Putra, bahkan menyoroti sistem pemantauan gizi harian dalam program ini sebagai contoh baik untuk diterapkan pada program pemberian tablet tambah darah bagi siswa SMP dan SMA. (https://padek.jawapos.com/tanahdatar/2365981054/japfa-for-kids-tingkatkan-gizi-anak-sd-di-lintau-buo-gandeng-sekolah-dan-pemerintah-daerah)

Di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, program JAPFA for Kids melibatkan lebih dari 2.700 siswa dan 200 guru dari dua belas sekolah. Pada peringatan 18 tahun program pada Mei 2026, rangkaian kegiatan lapangan dipusatkan di SDN 6 Batang Anai, yang dihadiri oleh manajemen JAPFA, para guru, tokoh masyarakat, dan perwakilan siswa. Beragam kegiatan digelar: senam bersama, pemeriksaan kesehatan, makan bersama dengan menu gizi seimbang, hingga seleksi siswa SD untuk pemain catur. (https://padek.jawapos.com/pendidikan/2605220042/lanjutkan-rangkaian-akjj-2026-japfa-dorong-kolaborasi-suarakan-pentingnya-gizi-seimbang-di-sumatera-barat)

Di sini, prinsip sharing contribution terlihat jelas program ini tidak berjalan satu arah, tetapi melibatkan seluruh pemangku kepentingan lokal, dari kepala puskesmas hingga wali nagari, dalam sebuah gerakan kolektif. (https://padangkita.com/18-tahun-mengabdi-japfa-for-kids-tekan-angka-malagizi-di-sumatera-barat-dan-luncurkan-akjj-2026)

Namun, salah satu kisah keberhasilan paling mencolok datang dari  Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Di sini, program yang dimulai pada Maret 2025 ini berhasil menurunkan angka malnutrisi hingga 60 persen hanya dalam enam bulan.( https://suaraserumpun.com/2026/02/23/menurunkan-60-persen-malnutrisi-program-japfa-for-kids-2026-menyasar-14-sekolah-di-bintan/#primary)

Dari 2.318 siswa yang menjadi peserta, sebanyak 184 anak yang terdeteksi malnutrisi mendapatkan tambahan satu butir telur setiap hari. Hingga Januari 2026, total telur yang telah didistribusikan mencapai 65.029 butir, dengan tingkat konsumsi telur di sekolah mencapai 86,82 persen. Hasilnya, dari 193 siswa yang mengikuti pendampingan intensif, sebanyak 144 anak menunjukkan perbaikan status gizi. (https://radarsatu.com/2026/02/24/tekan-malnutrisi-japfa-for-kids-sasar-ribuan-siswa-sd-di-bintan)

Bupati Bintan Roby Kurniawan memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, langkah PT JAPFA bukan sekadar investasi bisnis, melainkan bentuk kepedulian sosial yang nyata terhadap masa depan anak-anak di Bintan. “Ini adalah kolaborasi luar biasa. JAPFA menunjukkan kepeduliannya pada masa depan generasi daerah ini. Kami berharap program berkelanjutan seperti ini bisa terus diperluas cakupannya,” ujar Roby. (https://radarsatu.com/2026/02/24/tekan-malnutrisi-japfa-for-kids-sasar-ribuan-siswa-sd-di-bintan)

Program tahun 2025 yang menjangkau 13 sekolah di Kecamatan Toapaya dan Gunung Kijang ini kini dilanjutkan pada 2026 dengan menyasar 14 sekolah di Kecamatan Teluk Bintan, sementara sekolah-sekolah yang telah menjalankan program pada 2025 akan mendapatkan pendampingan lanjutan melalui JAPFA for Kids Awards. (https://suaraserumpun.com/2026/02/23/menurunkan-60-persen-malnutrisi-program-japfa-for-kids-2026-menyasar-14-sekolah-di-bintan/#primary)

JAPFA for Kids tidak berjalan sendiri. Aspek ilmiah program ini diperkuat melalui kolaborasi dengan para ahli dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Prof. Sandra Fikawati menekankan pentingnya intervensi gizi berbasis protein hewani pada usia sekolah dasar. “Masa sekolah dasar adalah periode kritis untuk memastikan pertumbuhan fisik dan kecerdasan otak berjalan optimal,” jelasnya. (https://beritajatim.com/18-tahun-japfa-tetap-konsistensi-membangun-gizi-bangsa-dari-jatim)

Keterlibatan akademisi memastikan bahwa strategi intervensi yang diterapkan tidak sekadar baik secara intuitif, tetapi juga terbukti secara ilmiah dan selaras dengan kebijakan kesehatan nasional.

Selain itu, JAPFA juga secara konsisten membangun sinergi kelembagaan dengan pemerintah daerah di setiap wilayah operasional. Di Kabupaten Tegal, penandatanganan nota kesepahaman bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan setempat menjadi awal dari pelaksanaan program di 32 sekolah dasar. Di Tanahdatar, nota kesepahaman serupa ditandatangani untuk melibatkan 14 sekolah dalam program. Di Bintan, pemkab setempat melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas berkomitmen melakukan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan program, sementara peran guru dianggap krusial sebagai garda terdepan dalam memantau perkembangan fisik siswa. (https://radarsatu.com/2026/02/24/tekan-malnutrisi-japfa-for-kids-sasar-ribuan-siswa-sd-di-bintan)

Di tingkat nasional, JAPFA juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus berupaya menekan angka malagizi. Data internal JAPFA 2025 menunjukkan bahwa dari total 15.498 siswa di sembilan lokasi pelaksanaan program, sekitar 6,6 persen masih memiliki status gizi kurang dan buruk angka yang lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Ini mengindikasikan bahwa intervensi yang terfokus dan berkelanjutan dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada pendekatan yang bersifat massal dan tidak terdiferensiasi. (https://www.poultryindonesia.com/id/angkat-tema-18-tahun-japfa-for-kids-untuk-generasi-penerus-bangsa-japfa-kembali-selenggarakan-akjj)

Memasuki tahun ke-18, JAPFA for Kids semakin menyadari bahwa perjuangan melawan malagizi tidak cukup dimenangkan di lapangan saja. Ia juga harus dimenangkan di ruang public di media, di percakapan keluarga, di kesadaran kolektif bangsa. Untuk itulah, JAPFA menyelenggarakan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 untuk ketiga kalinya. (https://www.rmoljatim.id/18-tahun-japfa-for-kids-konsisten-tekan-angka-malagizi-anak-melalui-karya-jurnalistik-2026)

Baca Juga:  Kegiatan Restorasi Gambut Berdayakan 1.000 Desa

AKJJ 2026 yang digelar di Jakarta pada 12 Mei 2026 dan di Surabaya pada 19 Mei 2026 ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. Ia adalah platform kolaborasi strategis antara dunia usaha, media, dan para ahli untuk memperluas dampak edukasi publik. Tema yang diangkat “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa .

Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan” menegaskan bahwa persoalan malagizi membutuhkan pendekatan lintas sektor. Media memiliki peran sentral dalam menjembatani data yang rumit dan cerita-cerita inspiratif dari lapangan, serta menggerakkan perubahan perilaku di tingkat masyarakat.

Rachmat Indrajaya menyampaikan pentingnya kolaborasi dengan rekan-rekan media. “Melalui AKJJ 2026, kami ingin memperkuat kolaborasi bersama rekan-rekan media untuk meningkatkan kesadaran publik dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa,” ujarnya. “Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” tambahnya. (https://www.poultryindonesia.com/id/angkat-tema-18-tahun-japfa-for-kids-untuk-generasi-penerus-bangsa-japfa-kembali-selenggarakan-akjj)

Langkah ini memastikan bahwa isu gizi anak tidak hanya menjadi konsumsi publik secara sporadis, tetapi diangkat secara berkualitas, berimbang, dan berdampak. (https://www.rmoljatim.id/18-tahun-japfa-for-kids-konsisten-tekan-angka-malagizi-anak-melalui-karya-jurnalistik-2026)

Rachmat Indrajaya, menyatakan bahwa keberlanjutan program ini selama 18 tahun bukanlah sekadar rutinitas. “Keberlanjutan program ini selama 18 tahun adalah cermin komitmen kami untuk tidak sekadar hadir, namun memberikan dampak nyata bagi kesehatan anak-anak Indonesia,” ujarnya. (https://beritajatim.com/18-tahun-japfa-tetap-konsistensi-membangun-gizi-bangsa-dari-jatim)

Peringatan 18 tahun di tahun 2026 dirayakan serentak di berbagai lokasi. Di Lamongan, JAPFA menggelar pelatihan guru dan program gizi anak di SD Kemantren Paciran sebagai bagian dari peringatan langsung di lapangan. (https://duta.co/japfa-for-kids-gelar-pelatihan-guru-dan-program-gizi-anak-di-sd-kemantren-paciran-dorong-pemenuhan-gizi-anak)

Di Sumatera Barat, peringatan dilaksanakan selama dua hari di Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman, menghadirkan Dosen FKM UI Asih Setiarini sebagai pemateri, serta melibatkan 36 tenaga pendidik dari 12 sekolah binaan.

Sepanjang 18 tahun, filosofi program telah bergeser secara signifikan. Jika di awal peluncurannya JAPFA for Kids lebih banyak dilihat sebagai program donasi, kini ia telah bertransformasi menjadi ekosistem pemberdayaan yang berpusat pada sekolah. Prinsip  sharing contribution  menjadi fondasi utamanya. JAPFA hadir bukan sebagai penguasa yang memberi dan pergi, melainkan sebagai mitra yang mendampingi, membangun kapasitas lokal, dan menciptakan sistem yang dapat terus berjalan bahkan setelah pendampingan langsung berakhir.( https://padangkita.com/18-tahun-mengabdi-japfa-for-kids-tekan-angka-malagizi-di-sumatera-barat-dan-luncurkan-akjj-2026)

 

Penutup

Di tengah kabar tentang 8,1 juta keluarga risiko stunting dan target pemerintah yang masih harus diperjuangkan untuk menurunkan prevalensi stunting dari 18,8 persen di 2025 menjadi di bawah 10 persen pada 2030 dan kurang dari 5 persen menjelang Indonesia Emas 2045, ada ruang untuk tidak sekadar prihatin, tetapi juga berharap. (https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20260520150159-255-1360429/cegah-stunting-bkkbn-target-1-juta-keluarga-masuk-program-genting)

JAPFA for Kids telah membuktikan bahwa dengan intervensi yang terencana, terukur, dan berbasis kolaborasi, status gizi ribuan anak dapat ditingkatkan secara signifikan. Dari 51,5 persen siswa malagizi yang berhasil naik status menjadi gizi baik pada 2024, menjadi 62,5 persen pada 2025 trend peningkatan ini bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari pendekatan sistematis yang terus dievaluasi, diperbaiki, dan diperluas jangkauannya.

Dengan kehadiran AKJJ 2026, harapan besar juga disematkan pada dunia media. Jurnalis tidak hanya bertugas melaporkan persoalan, tetapi juga mengedukasi, menginspirasi, dan menggerakkan. “Kolaborasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Kami berharap sinergi antara dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat dapat terus diperkuat demi mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa,” tutup Rachmat. (https://www.poultryindonesia.com/id/angkat-tema-18-tahun-japfa-for-kids-untuk-generasi-penerus-bangsa-japfa-kembali-selenggarakan-akjj)

18 tahun mungkin terasa panjang. Namun, dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, 18 tahun hanyalah satu babak awal. Pertanyaan yang tersisa bagi kita semua apakah kita akan melanjutkan momentum ini, memperluas jangkauannya, memperkuat fondasinya, dan memastikan bahwa setiap anak Indonesia, dari mana pun asalnya, berhak tumbuh sehat, cerdas, dan siap menyambut masa depan?

Jawabannya, sekali lagi, tergantung pada kemauan kita untuk tidak hanya membaca data tetapi juga mengubahnya menjadi aksi. Dan di situlah, seperti ditunjukkan oleh 18 tahun JAPFA for Kids, perubahan sejati dimulai.#udi

 

 

Komentar Anda
Loading...