Dizaman walikota Palembang M Ali Amin (Ayah dari almarhum budayawan Palembang Johan Hanafiah) hingga Tjek Yan, lomba bidar seluruh kampung ikut serta, jadi tidak ada satupun kampung ketinggalan mengikuti lomba Bidar, misalnya di Kampung Guguk Sungai Aur nama Bidarnya Putri Mayang Sari.
Tapi sekarang Bidar masih ada tapi sepertinya di kampung-kampung di Palembang tidak ikut, tapi dari perusahaan –perusahaan ikut menjadi peserta lomba bidar.
Tapi sekarang apa mau dikatakan tidak mungkin lomba Bidar dilaksanakan, kita harus patuh dengan perintah pemerintah terkait pandemi covid-19, sehingga tahun ini tidak diadakan lomba Bidar di Palembang.
Namun Kini Apalah Daya
Musibah Datang Tiba-Tiba
Datang Penyakit Virus Corona
Yang Datang Dari Negeri Cina
Mari Kita Sama Berdoa
Kehadiran Allah SWT
Agar Terhindar Dari Penyakit Virus Corona
Yang Telah Menyerang Sebagian Dunia
Lomba Bidar Tidak Akan Punah
Insya Allah Akan Terjadi Pada Tahun-Tahun Dimuka
Yang Akan Diselenggarakan Oleh Dinas Pariwisata
Setelah Ada Izin Dari Pemerintah
Asal Mula Lomba Bidar Di Sungai Musi

Alkisah dari zaman dahulu kala Raja Palembang mempunyai kerabat, misalnya saudara sepupu, misan , mindo, mereka ada perselisihan paham.
Raja Palembang takut jika perselisihan ini berlanjut maka rakyat akan mendapat susah maka ada diantara mereka , kerabat Palembang ini harus mengundurkan diri dari Palembang daripada ada perselisihan.
Salah seorang kerabat Raja Palembang ini namanya Aryo Carang, dia mengundurkan diri dari Palembang dengan beberapa kerabat yang lain dengan menaiki perahu tongkang yang beratapkan kajang.
Kemudian dia mengelilingi Sungai Musi mencari tempat yang pantas untuk mereka duduki pada suatu hari mereka bertemu dengan tempat yang kelihatannya sangat tenang sebuah hutan kecil yang ditumbuhi ilalang serta pohon- pohon cempaka mulia, pohon cempaka putih dan cempaka Abang daun nipah dan dapur angsoka batang kemuning batang sedap malam kenanga dan lain-lain bunga-bunga yang bunga bunga yang harum mewangi.
Melihat tempat tersebut yang sangat rindang maka Aryo Carang turun ke daerah itu dan akhirnya mereka tinggal di tempat itu akhirnya tempat itu menjadi ramai karena ada penduduk dari daerah lain yang juga tinggal di kampung itu Aryo Carang mempunyai seorang anak yang bernama Putri Dayang Merindu setelah bertahun-tahun mereka tinggal di tempat tersebut, Putri Dayang Merindu pun telah menjadi dewasa pada suatu hari Dayang Merindu beserta kawan-kawannya turun mandi ke tepian sungai Musi.
Putri Dayang Merindu turun mandi dengan membawa sebuah bokor yang akan di isinya dengan perhiasan, dikala mandi Putri Dayang Merindu dan kawan-kawan asyik sekali mandi, mereka berenang dan berkejar-kejaran di tepian Sungai Musi, asik mandi gembira ria setelah itu mereka pulang.
Asik Mandi Gembiro Rio
Lupo Dengen Apo Yang di Bakto
Bokor Hanyut ditengah Segaro
Itulah Awal Malopetako