Tanpa diketahui, Bokor Putri Dayang Merindu kemudian hanyut di tepian Sungai Musi dan terdampar di tepian mandi Raja-Raja Palembang, Lalu Pangeran Muda Kemala Negara turun mandi ke tepian segara kemudian terlihat bokor terdampar di tepian mandi yang berisi gelang kalung anting-anting serta rambut yang sangat panjang melihat isi bokor tersebut pangeran muda Kemala Negara yakin bahwa yang pemilik bokor itu adalah seorang gadis yang berambut panjang setelah itu dia perintahkan kepada hulubalang untuk mencari siapa pemilik bokor itu.
Hulubalang mencari keliling negeri hutan dan rimba dijelajahi kemudian setelah mencari kemana-mana ketemulah tempat pemilik bokor itu yaitu Putri Dayang Merindu, hulubalang menyampaikan apa yang dilihatnya dan siapa pemilik bokor itu lalu Pangeran Muda Kemala Negara memerintahkan memerintahkan keluarganya untuk melamar Putri Dayang Merindu dengan membawa tenong (Sampai sekarang dalam upacara adat perkawinan Palembang kalau melamar tetap membawa tenong)
Namun apalah daya, Putri Dayang Merindu menolak lamaran itu karena dia telah bertunangan dengan seorang pemuda dari daerahnya itu yaitu yang bernama Dewa Jaya.
Lalu Pangeran Muda Kemala Negara, murka karena lamarannya ditolak lalu dia mengatakan…. aduhai Putri Dayang Merindu berani menolak lamaranku coba kau lihat di luar itu datang beribu bala tentaraku… wahai engkau pemuda desa mari kita mengadu tenaga…
Kemudian Pangeran Muda Kemala Negara bertempur dengan Dewa Jaya, di saat mereka bertempur itu tiba-tiba muncullah sang Sunan sang raja yang mengatakan…. aduhai ananda Kemala Negara , janganlah engkau angkara murka… jika terjadi malapetaka tentu banyak korbankan jiwa , baiklah diadakan sayembara lomba bidar di tengah segara kemudian pertempuran dihentikan .
Kelab Sunan Wentenken Undi
Lumban Bidar di Sungi Musi
Sinten Cepet Sampe Ke Negri
Dionyo Lah Yang Angsal Putri
Maka terjadilah perlombaan Bidar atau perahu panjang dari kedua pemuda tersebut mereka mendayung Bidar dengan sangat sepenuh kekuatan dan mengerahkan seluruh tenaga untuk mencapai ke tempat negeri Palembang karena terlalu capek sampai di tepian Musi Palembang kedua-duanya menghembuskan nafas yang terakhir.
Namun apalah daya Bidar kelebu di Sungai Musi, kedua bujang tak bernyawa lagi.
Melihat kedua pemuda itu tidak bernyawa lagi Putri Dayang Merindu sedih, dia menghadap raja Palembang.
Aduhai Baginda Yang bijak Bestari
Hamba Akan Membunuh Diri
Mohon Badanku Ditetak dua
Demi Untuk Keadilan Jua
Separuh di makam Kemala Negara
Separuh di Pusara Dewa Jaya
Raja menganggukkan kepalanya tanda setuju, kemudian Putri Dayang Merindu mengambil pisau , begitu akan menusukkan pisau di dada , hulubalang siap dengan pedangnya begitu ditusukkan kedada, langsung di tetak dua oleh hulubalang.
Namun Apoken Dayo Diri
Bidar Kelebu di Tengah Sungi
Bujang Nano Benyawo Lagi
Dayang Merindu Munuhlah Diri