Lembaga Survey Hanya Predator Demokrasi

Jakarta, BP— Anggota DPR RI FPDIP Maruarar Sirait mengatakan, semua hasil survei tergantung pada rekam jejak lembaga survei itu sendiri. Kejujuran dan profesionalisme lembaga survei menjadi taruhan kepada masyarakat serta ditentukan oleh kompetensi
“Sama dengan dokter, kalau orang itu sakit, ya tak bisa dibilang sehat,” ujar Maruarar di ruangan wartawan DPR Jakarta, Kamis (21/3).
Banyaknya lembaga survei yang menempatkan pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma’ruf mengungguli pasangan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, kata Maruarar, itulah realita, bukan rekayasa. “Masing-masing mempunyai strategi untuk menang dan masyarakat udah cerdas memilih. Namun demikian, kita tetap bersatu, bersaudara jelang dan sesudah pemilu,” kata Maruarar.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyatakan, tidak percaya dengan hasil survei, karena sering berbeda dengan kondisi masyarakat sesungguhnya. Apalagi, lembaga survei sekaligus menjadi konsultan politik. “Sehingga lembaga survei hanya menjadi predator demokrasi dan alat provoganda politik,” tutur Fadli.
Direktur SMRC Sirojuddin Abbas menegaskan, idealnya lembaga survei harus dilakukan secara akademik. Sehingga kredibilitas survei bisa dipertanggungjawabkan.
Dikatakan, kredibilitas lembaga survey akan baik kalau reputasi dan dikerjakan dengan baik, memiliki sumber daya manusia (SDM) profesional, jujur dalam presentasi dan runutan survei yang disampaikan ke masyarakat harus jelas.
“Proses dan metodologinya harus jelas, karena tidak cukup hanya dengan statistik agar masyarakat tidak bingung. Berbeda dengan survei internal karena tak bisa diverifikasi, hanya hasilnya yang dipublis. Sehingga tak menggambarkan realitas, tapi opini,” paparnya. #duk