Debat Capres-Cawapres Tidak Pengaruhi Pemilih

10
Fahri Hamzah. Foto Antara

Jakarta, BP–Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan, debat capres dan cawapres tidak berbeda dengan pola cerdas cermat atau cerdas tangkas di sekolah. Pertanyaan udah disusun oleh KPU dan panelis sehingga publik belum bisa melihat kemampuan calon presiden atau calon wakil presiden.

“Seharusnya KPU hanya menentukan tema debat saja. Biarkan debat berlangsumg natural, alami dan intens untuk mengetahui tingkat kecerdasan, emosi serta kemampuan menguasai panggung dari calon tersebutm” ujar Fahri di ruangan wartawan DPR Jakarta, Kamis (14/3).

Baca Juga:  Forhati Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan dan Ekosistem Laut

Anggota Fraksi PDIP, Eriko Sutarduga berharap rakyat bisa langsung bertanya dalam debat capres-cawapres. Sehingga rakyat sebagai pemilih akan mengetahui secara detail sosok  capres-cawapres yang akan dipilih pada  Pilpres April 2019.

“Ini pesta demokrasi untuk rakyat. Alangkah menariknya kalau rakyat bisa langsung bertanya kepada kandidat dalam debat capres-cawapres nanti,” kata Eriko.

Jika  rakyat bertanya kata Eriko,  rakyat akan  mengetahui kapasitas dan jejak rekam calon pemimpin bangsa  untuk lima tahun ke depan. Wartawan dari televisi juga diberi kebebasan untuk menggali pertanyaan terhadap kedua kandidat sekaligus menyiarkan debat tersebut. “Saya yakin dengan model itu debat  sangat menarik,” jelasnya.

Baca Juga:  Menjauhkan Parpol dari Demokrasi Bertentangan Dengan Konstitusi

Menurut  Eriko, debat capres-cawapres yang telah berlangsung beberapa kali tidak berpengaruh banyak kepada rakyat. Terutama bagi mereka yang belum mempunyai pilihan atau swing voters. “Memang ada peningkatan 50,6 persen rakyat menyaksikan debat di TV, tapi tetap belum memenuhi keinginan rakyat,” tambahnya.

Peneliti dari CSIS   Arya Fernandes menyebutkan, debat capres ditonton sekitar 1,5 juta rakyat. Twitter mencatat 1,5 juta cuitan mewarnai debat kedua capres 2019 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto pada Minggu (17/2).

Baca Juga:  Menaker Teken Aturan Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan di Usia 56 Tahun

Twitter mencatat  puncak percakapan terjadi  pukul 22.00 sampai 23.00 WIB. Dalam kurun waktu 60 menit, setidaknya ada 290 ribu cuitan per menit. Selama debat berlangsung, berbagai tagar wara-wiri, berseliweran di lini masa Twitter.

“Seharusnya debat itu menjadi referensi utama bagi rakyat untuk menentukan pilihan. Debat harus kaya akan gagasan dan banyak hal-hal yang baru agar kedua capres-cawapres mendapat dukungan maksimal dari rakyat,” paparnya. #duk

Komentar Anda
Loading...