BP/DUDY OSKANDAR Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) yang juga sejarawan kota Palembang Syafruddin Yusuf
Palembang, BP
Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sriwijaya (Unsri) yang juga sejarawan, Syafruddin Yusuf menilai, untuk penyelamatan cagr budaya di kota Palembang dan Sumatera Selatan (Sumsel) menurutnya kekuatannya ada di pemerintah daerah melalui aturan dan kebijakannya namun semuanya kembali ke dana.Menurutnya jika tempat bersejarah ini diselamatkan bisa menghasilkan pendapatan bagi daerah.
Menurutnya pemimpin daerah itu harus ada mainset sejarah dan main set budaya.
“Kita kadang berpikir antara melestarikan aset dengan pariwisata sering tolak belakang, aset yang ada di rombak untuk pariwisata tapi ketika merombak menyalahi aturan itu yang banyak terjadi dikita, ” katanya, Jumat (12/10).
Akibatnya bayak sejarah ota Palembang dan Sumsel banyak hilang akibat kurang data dan tempat tempat bersejarah kena gusur
“”Contoh perang lima hari lima malam itu jembatan karang dekat gedung walikota Palembang itu tempat pertempuran itu jadi sudah sulit banyak tempat bersejarah di kota Palembang sudah di bongkar dengan tanah, tidak usah jauh jauh monumen kavaleri depan pasar Cinde itu dipindahkan padahal itu tempat pertempuran lima hari lima malam yang heroik dengan belanda , daerah itu tiga kali jatuh di rebut Belanda.
” Malam tank depan cinde di pindahkan sekendak kendanya itu artinya menghilangkan data sejarah, ” katanya.
Menurutnya hal yang lama harusnya tetap ada kalau mau bangun cari tempat lain.
Dia melihat pemerintah kurang peduli dengan cagar budaya dimana harusnya Palembang mencontoh kota Jakarta, Surabaya yang masih memiliki peninggalan bangunan lama.
” Talang semut itu perumahan Belanda dan rumahnya banyak berubah arsiteknya itu mentengnya Palembang, ” katanya.
Dia mengaku kadang sedih, apakah pembangunan harus menghancurkan situs sejarah dan budaya.
“Kalau misalnya melakukan tulisan budaya atau sejarah, tolong ajak orang berkompeten di bidangnya , jika tidak berkompeten akibatnya bisa salah kaprah lagi,” katanya.
Dia berharap bagaimana anak-anak sekarang bisa mengenal, nilai-nilai budaya dan sejarah yang ada pada masyarakat itu dan itu harus diberikan di jenjang pendidikan, sayangnya kurikulum tidak memuat itu.
“ Jadi kalau anak kita ditanya soal adat atau tentang sejarah, dia tidak tahu , karena guru-guru kita terlalu terpaku pada buku teks yang buku teks itu tidak memuat unsur-unsur lokal, sehingga anak –anak kita tidak sejarah dan budaya yang ada, perlu ada kerjasama dengan dinas untuk menerbitkan buku yang bagi pedoman guru-guru,” katanya.#osk