Oleh : Abdul Azim Amin (Ketua Yayasan Najahiyah, Palembang)
I.Pendahuluan
Dalam silsilah Babah Palembang selaku keturunan Raja Cina, berjuluk Tua Pek Kong Su, dalam Islam dikenal sebagai tokoh Sufi (Herwansyah). Sejarah mencatat, keruntuhan dinasti Yuan (Mongol 1270-1368) di daratan China antara lain, saat dipimpin oleh para putera Jengiskhan, terjadi penindasan terhadap suku aslinya: Han dan Hui, kemudian kedua suku ini bersatu-padu melakukan perlawanan yang dipimpin oleh Jenderal Kok Tze Hin, seorang jenderal muslim suku Han yang membelot, lalu beliau menyerahkan tampuk pimpinan perlawanan tersebut kepada menantunya; Chu Yuan Chang (Buklet VI).
Pada masa lalu, Chu Yuan Chang selaku kaisar Ming T`sai Tau dinyatakan oleh sebagian sejarawan China sebagai kaisar pemeluk agama Budha, namun, setelah diteliti kembali oleh sejarawan China; Jing Chee Tang, ternyata, Chu Yuan Chang adalah kaisar Muslim dinasti Ming pertama (1368-1644) di negeri Tiongkok (Buklet Pertiwi.VI)
Sejarawan Amir Syakib Arsalan (1352/1933:272) mengatakan dalam kitabnya bahwa keadaan kaum Muslimin di negeri China pada masa dinasti Ming (1368-1644) bertahta; terutama mengenai pelaut ulungnya Admiral Zheng He yg pada tahun 1406 pelaut muslim Jin Ha (Zheng-Ho/ Cheng Ho) memimpin pelayaran terdiri dari 37.000 prajurit angkatan laut ke sejumlah negeri di Nusantara, Sailan, pesisir selatan India. Zheng Ho kelahiran Yun Nan”.
Saat kaisar III dinasti Ming yg berjuluk yung lo/ yong le ; bergelar resmi dari para rohaniawannya sebagai cheng tsu/ cheng zu; nama asli sejak lahirnya adalah chu ti/ zhu di , ia bertahta tahun 1403-1424.M, masa beliau ini, mengangkat tiga orang Duta Besar Keliling dinasti Ming; Haji Ma Hwang, Haji Feh Tsing, dan Haji Sam Po Bo (Republika, 05-03-04).
Duanya lagi, belum diketahui. Islam masa ini di China pengamal fiqih mazhab Imam Hanafi, juga Sufi penganut Tarekat Naqsyabandiah. (Syakib, 1933:II:282) . Sumber lain menyatakan pula, pada masa ketiga orang duta ini pula, telah mengangkat Haji Bong Tak Keng selaku pemimpin Masyarakat Tionghoa Muslim di Champa (Raden Rahmat/ Sunan Ampel, kini Vietnam). Tahun 1405.M., Parameswara mengirim wakilnya ke Cina, dan dengan cepat mendapat pengakuan dari kaisar dinasti Ming; awal abad 15 M pula, sekitar tahun 1414.M.
Parameswara wafat, selaku penguasa di Malaka, digantikan putranya Muhammad Iskandar Syah, juga selaku menantu Sultan Pase (Aceh) bertahta sebagai Raja Melayu di Bandar Malaka. Setelah dua darsa, terbina Komunitas Islam Hanafi pertama di Nusantara.
Hubungan persahabatan dg sejumlah kerajaan di Nusantara yg bercorak Hinduisme dan Islam namun rukun, terus berlanjut, hingga runtuhnya kerajaan Islam Demak, dan berdiri kerajaan Islam Mataram di kadipaten Pajang/ Surokerto, dan Kuto Gawang di Palembang yg didirikan th 1573, oleh priyayi dan keturunan petinggi kerajaan Demak dan Pangeran Aria Penangsang, dll asal kadipaten Jipang/ Tuban.
Dalam tulisan ini akan memaparkan; I. Pendahuluan. II. Leluhur suku Melayu Palembang dan Asal usul nama Palembang; III. Pengaruh Dinasti Ming (1368-1644) dan Melawan VOC. IV. Kapitan Bong Su We di Pulau Kemaro, dan Pangeran Saudagar Kutjing sebagai arsitek masjid Agung, V. Penerbitan QuranulAzim.
II.Leluhur Suku Melayu Palembang dan Asal usul Nama Palembang
Bangsa Cina terkenal dg keuletannya dlm menjalani penghidupan dan kehidupannya, termasuk juga dalam menemukan sumber ajaran agamanya untuk memenuhi kebutuhan ruhaninya.
Tercatat dalam sejarah, tokoh Budhisme Hwe Ming dan rombongannya berkelana hingga 3 tahun lamanya, dan singgah di pulau Jawa, selanjutnya dapat menemukan pusat peribatannya; Candi Brobudur, Mendut, dan beberapa Vihara. (Ma`ruf Siregar, Jogjakartam 1972:3). Keturunannya tersebar diberbagai negeri yg disinggahinya, hingga menempati kawasan Hindia Belakang. (A.Hamid, 1980: 157-158).
Bangsa Arab mengenal kawasan ini sebagai wilayah Syarqul Hindi (kawasan Timur India). Nama kawasan ini disebut sebagai “Asia “ baru digunakan setelah perang dunia II. Kawasan ini terbagi dlm dua; kelompok pertama di daratan benua Asia: Burma, Muang Thai, Vietnam, Malaysia bagian Barat, Laos dan Kamboja (Khmer). Daerah ini disebut sebagai wilayah Ko Tjing Cina. (Munjid, 1973: ) dan kelompok keduanya; negara-negara yg terletak di kepulauan. Singapura, Malaysia Bagian timur, Indonesia, Filiphina, dan Papua Nugini. Dilihat dari sudut geografi, batas-batas daerah yg memisahkannya satu negara dengan lainnya jelas. Kelompok negara-negara di Kepulauan dibatasi oleh laut Cina Selatan dan selat Malaka.
Khusus Indonesia, disebut bangsa Arab sebagai “juzur tahta khotti listiwa” disingkat Jawah/ Nusantara. Kesuburan tanah airnya sudah dikenal pula oleh Ptolemaus dari Yunani selain oleh bangsa Cina (Rasyidi, 1980: ). Salah satu cici suku Melayu ini terutama masa lampau, adalah pola kehidupannya yg beroreantasi pada kelautan, yang pada gilirannya terbina komunitas Melayu di sepangjang tepi pantai dan di sepanjang tepian kiri-kanan sungai besar (air tawar).
Akibanya, komuniti-komuniti ini menjadi pusat perdagangan dan pelayaran. Serta menadi Satuan Pengaman jalur-jalur pelayaran Internasional di kawasan Asia Tenggara (Ali Hanafiah, 1998:14).
Adapun asal-usul nama Palembang terdapat beberapa pendapat. Pertama, asal kata lembang. Dari entri lembang mengandung makna; lekuk, menjadi rendah, lembah, dan bercakap lemah-lembut. Penutur baso Palembang akan menyebutnya Palembang/ plembang, plimbang (Choirun Niswah, Tamaddun, Juli 2005: 178).
Ada juga mengatakan dari kata limbang; melimbang. Mencuci emas, intan, biji dls. Kata Pa tempat. Nama Palimbang sebagai negeri tempat mencuci emas (Djohan Hanafiah).
Menurut penulis, berasal dari pengaruh Bahasa Arab. Dua suku kata (tarkib mazji; Faalin dan Baana); Faalin, musafir yg tak kembali lagi ke negeri asalnya. Baan: cerah. Jadi dapat dipahamai sebagai kota perantau yg cerah/ sukses.
Nama sama dg Darus Salam (YerusS), baitul lahm (Betelham). Hurra Syans (Iran); dll. Dari kata tunggal seperti Malaka. Medan, Jambi, Kudus, Demak, Tuban, dll. Nama Palinban diucapkan bangsa China awal abad 13 M (1225.M) menjadi Fo Lin-Fong. Orang Melayu Palembang mengganti bunyi lin menjadi lim, dan umumnya berdarah keturunan China, sehingga lebih mudah menyebutnya sebagai Pelembang.
III. Pengaruh Dinasti Ming (1368-1644) dan Melawan VOC
Satu sumber mengatakan, adanya kevakuman kekuasaan kerajaan Sriwijaya sejak awal abad ke-12 M, dari tahun 1160.M. seabad kemudian, datang bangsa China, menyebut pelabuhan Kukang sebagai Fo Lin-fong seperti disebutkan diatas, sampai datangnya penguasa Majapahit (utusan Raja Singasari, tahun 1276, pen), sementara di negeri China dikuasai dinasti Yuan dipimpin Jengiskhan (Mongol).
Seperti disebutkan diatas, memang hubungan dinasti Ming (Islam) dengan Palembang terpelihara dengan baik sejak kehadiran Laksamana Jin Ha/ Zheng He/ Cheng Ho dan rombongannya hingga berdirinya Keraton Kuto Gawang. Hal ini telah ditingkatkan pada masa kaisar ke-12. berjuluk chia ching/ jia jing, bergelar shih tsung/ shi zong, nama asli sejak lahirnya adalah chu hou tsing/ zhu hou chong, bertahta tahun 1522-1566. M.
Pada masa ini, beliau membangun masjid Najiahu, th. 1524 di Yongning, 20 km bahagian selatan luar kota Yinchuan, propinsi Ning Xia; masjid boleh menampung lebih dari 1000 orang. luasnya 1102 m2 (china; 48); dilanjutkan oleh kaisar ke-13, berjuluk lung ching/ long qing, bergelar mu tsung/ mu zong, nama asli sejak lahirnya adalah chu hou tsung/ zhu hou cong, bertahta tahun 1567-1572.M; hingga kaisar ke-14, berjuluk wan li/ wan li, bergelar shen tsung/ shen zong, nama asli sejak lahirnya adalah chu i-chun/ zhu yi-jun, dan bertahta 1573-1619, M; dan kaisar ke-15 berjuluk Tai Chang/ Tai Chong, bergelar Kuang Tsung/ Guang Zong, nama asli sejak lahirnya adalah Chu Chang-Lo/ Zhu Chang Luo, dan bertahta tahun 1620 M; dilanjutkan kaisar ke-16, berjuluk Tian Chi/ Tian Qi, bergelar His Tsung/Xi Zong, nama asli sejak lahirnya adalah Ch Yu Chiou/ Zhu You Jiao, dan bertahta tahun 1621-1627.M; kemudian oleh kaisar ke-17 berjuluk Ch`ung Chen/ Chong Zen, bergelar Szi Tsung/ Si Zong, nama asli sejak lahirnya adalah Chu Yu-Chin/ Zhu You-Jian, dan bertahta tahun 1628-1644.M (sumber: Ming Dynasty Emperors Perpustakaan Nasional Republik Indonesia; Jl. Salemba; Jakarta; 1997).
Pada awal abd ke-17 M. ini, para saudagar Eropa mulai tiba ke Nusantara utk mencari sumber bahan industeri, rempah-rempah dll., dengan membentuk kongsi dagang, Inggris mendirikan “ East India Company / EIC”, sedangkan Holland/ Belanda “Vereenigde Oost- Indische/ VOC”.
Seperti tercatat dalamsejarah, orang-orang Holland/ Belanda datang ke daerah pelabuhan tanah Banten; tahun 1611 M, lalu Gubernur Jenderal Pieter Both mendapat ijin dari Pangeran Banten untuk membangun sebuah gudang (loji) di kawasan kediaman orang-orang Cina yg dibawa Cheng Ho (Babah, pen) di daerah Banten.
Beberapa tahun kemudian, tahun 1619 M, Belanda bersama sekutunya; orang-orang Cina yg sepaham dengannya, mulai mendirikan Pembangunan Batavia, khususnya bangunan benteng di dekat bekas kediaman Pangeran yang telah hancur, rakyat Banten hjrah dari daerah Jayakarta, ke pusat kerajaan Banten. Setelah Batavia dipimpin oleh Jan Pietersz Coen, ia menjalankan politik yang menggalakkan emigrant orang-orang Cina baru, dan mendatangkan pula orang-orang asal negerinya; Mulailah orang-orang Cina baru itu tinggal di kawasan Belanda. (148). Hal serupa seperti ia mendirikan pula kota Manila di Filiphina (Leonard Blusse, 2004:100-1
Keberadaan bangsa eropa di Nusantara, yg telah menguasai pelabuhan Banten, menyusul mengusir Portugis dan menguasai pelabuhan Malaka.
Kondisi demikian, membuat kaisar dan para petinggi dinasti Ming lebih terfokus dan konsentrasi untuk membendung arus perdagangan saudagar Eropah di Nusantara. Implikasinya, kehidupan rakyat d daratan China kurang mendapat perhatian penuh. Sehingga terjadi perlawanan dan pemberaontakkan terhadap kaisar dinasti Ming yang dipimpin para jenderal yg membelot dan berpihak pada kepentingan rakyatnya.
Kaisar terakhir terkepung dalam istana Beijing. Beberapa anggota keluarga dapat selamat melalui pelayaran sungai kuning menuju Yunan, terus melayari sungai Mekong hingga ke daerah Kotjing Cina dan Nusantara, adapula berlindung ke pulau Makau, Taiwan, dll.#