Mengenal Aksara Ka Ga Nga Tanduk Kerbau di Marga Empat Suku Negeri Agung
Mereka berhasil mendapatkan informasi sejarah dan budaya yang ada di Marga Empat Suku Negeri Agung.
“Di awal bulan Juni yang merupakan bulan penuh sejarah bagi bangsa Indonesia yang ditandai dengan Hari Lahir Pancasila juga dimanfaatkan untuk menggali sejarah terutama yang berada di wilayah Merapi,” kata staf khusus Bupati Lahat Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang juga menjadi Ketua Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat, Mario Andramartik.
Karena selama ini menurutnya wilayah Merapi lebih identik dengan daerah tambang batubara ternyata menyimpang sejarah yang cukup banyak dan membanggakan.
“Dalam penelusuran kami di Marga Empat Suku Negeri Agung ditemukan nisan kuno berukir, naskah kuno huruf ka ga nga hingga lempengan tembaga masa Kesultanan Palembang,” kata Mario.
Kunjungan pertama mereka melihat langsung nisan kuno berukir yang berada sekitar 500 meter dari desa. Kami berjalan kaki menyusuri jalan setapak ke arah Selatan desa atau ke arah sungai Lematang yang dipandu oleh Rahmad Saleh didampingi Yoki Witarto dan Juliansyah.
“Di sebuah dataran yang letaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya dan dipenuhi pohon bambu dan nira dekat sebuah danau kecil yang disebut danau Geramban terdapat komplek pemakaman Puyang Tanjung,” katanya.
Dalam 4 kelompok makam di komplek pemakaman ini yang paling menarik adalah makam nisan kuno berukir yang berjumlah 1 (satu) nisan sedang nisan lainnya beruapa nisan batu yang sudah dibentuk tetapi tanpa pahatan dan lainnya hanya nisan batu alami polos.
Nisan kuno berukir bermotif sulur dedaunan pada bagian atas dan bulatan di bagian bawah. Motif ukiran nisan kuno ini berbeda dengan motif ukiran/pahatan yang kami jumpai di Sekayoen, Kedaton dan Muara Cawang, apa arti motif-motif tersebut perlu kajian lebih lanjut.
“Arah hadap nisan kuno berukir ke arah Barat dan Timur berbeda dengan arah hadap makam yang baru yang juga kami kunjungi yaitu dengan arah hadap Selatan dan Utara.Tinggi nisan kuno berukir 57cm, tebal 10 cm dan lebar 29 cm lebih kecil dibandingkan dengan nisan kuno berukir di Muara Cawang,” katanya.
Selain itu menurut Mario, di bagian Barat pemakaman berupa area perkebunan akan tetapi pada awalnya area tersebut merupakan sungai Lematang begitu juga danau Geramban yang mempunyai kedalam hingga 4 m merupakan bagian sungai Lematang sehingga sekarang bagian sungai Lematang yang telah menjadi daratan sekitar 150 m maka tak ayal bila pada awalnya sungai Lematang memang dapat diarungi kapal besar karena memang pada awalnya sungai Lematang memang sungai yang lebar dan besar.
“Selanjutnya kami berkunjung ke kediaman keluarga Suhaimi dimana kami berjumpa Yana (66) dimana terdapat tanduk kerbau yang mempunyai tulisan huruf ulu atau ka ga nga. Prasasti ulu tanduk kerbau ini mempunyai ukuran panjang 48 cm, lebar ujung (lancipnya) 1,3 cm, lebar ujung (pangkalnya) 14,2 cm,” katanya.