“Nedokke 7 Jando di Rumah Baru”, Tradisi yang Hampir Dilupakan di Palembang

207

Sedangkan Kemas Haji Masud Khan yang merupakan tokoh adat di Palembang masih mengingat tradisi Niduke Tujuh Jando di rumah baru  di tahun 1970 an dimana rumah yang ia tinggali saat ini dilakukan tradisi  tersebut.

“Alhamdulillah rumah itu rezekinya cukup, tidak ada bentrokan. Proses itu mendatangkan kebaikan, tentunya atas ijin Allah. Adat istiadat itu diyakini proses supaya berkah.Selama ini juga belum diangkat tentang tradisi Niduke Tujuh Jando di Rumah Baru, sehingga orang juga banyak nggak tahu. Maka kami ingin menginformasikan bahwa ini tradisi yang unik dan langkah,” katanya ketika ditemui di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam beberapa waktu lalu.

Baca Juga:  SMB IV Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Percha Leanpuri

Sedangkan budayawan Palembang Vebri Al Lintani melihat tradisi Niduke Tujuh Jando di rumah baru ini bukan tradisi Islam tapi hanya adat yang dilakukan masyarakat Palembang.

“Kenapa harus janda? Janda-janda ini tentunya banyak pengalaman hidup. Kalau bilang janda kebanyakan berpikir lain. Padahal itukan takdir, misal ditinggal suami mati,” katanya.

Menurut Vebri, kesabaran dan ketabahan janda itu satu nilai kebaikan dalam Islam. Bahwa dia mampu menahan dan menjaga dirinya.

Baca Juga:  Asal Muasal Guguk Talang Ratu

“Itu nilainya yang baik, dari pengalaman hidupnya itulah yang mungkin tidak dirasakan orang lain. Tujuh janda ini bukan sembarang janda, melainkan orang-orang yang terpilih,” katanya.

Kenapa dikatakan orang terpilih, karena jandanya harus yang rajin ibadah, dan bisa ngaji, bisa dikatakan yang alim. Sehingga rumah baru yang akan ditempati itu diharapkan berkah, seperti ambil berkahnya.

Menurutnya, tujuh janda yang terpilih tersebut diutamakan dari keluarga terdekat. Kalau tidak ada baru dari luar. Namun jandanya juga yang sudah berumur.

Baca Juga:  Tradisi 'Ningkuk', Budaya Perkenalan Bujang Gadis di Musi Banyuasin

“Untuk prosesnnya seperti, misal mulai masuk ke rumah barunya malam Jumat maka selesainya malam Jumat berikutnya. Jadi tujuh janda tinggal selama tujuh hari di rumah baru tersebut,” katanya.

Selama tujuh hari tersebut janda-janda itu tidak masak, karena diantarakan makanan dari tuan rumah. Paling kalaupun masak seperti air panas dan yang ringan-ringan.

Karena memang tuan rumah juga menyediakan alat masak kalau dulu minyak tanah, kalau sekarang bisa dibilang gas.

Komentar Anda
Loading...