Harga Karet Terjun Bebas, Harga Kopi Ikut Turun

51
Meski harga murah petani tetap semangat menimbang karet yang diproduksinya.

Muaraenim, BP–Harga karet petani di Muaraenim tidak kunjung stabil. Baru beberapa pekan mulai merangkak naik, saat ini harganya kembali terjun bebas. Selain itu harga komoditi biji kopi ikut turun pasca kemenangan Jokowi di pilpres.

              Kondisi itu membuat petani karet dan petani kopi di Muaraenim menjadi terpuruk. Karena selain harganya yang turun, produksi karet dan kopi ini  juga berkurang akibat musim kemarau. Sehingga getah karet dan buah kopi  tersebut tidak banyak berbuat dan karet getahnya tidak mengalir saat disadap.

                 “Nak cak mano lagi, maik inilah nasib petani karet dan kopi di Kabuoaten Muaraenim saat ini, hargo murah ditambah panen kopi dan sadapan getah nyusut pulo karena musim kemarau. Nasib nasib,” jelas L Karo salah seorang petani Muaraenim, Selasa (16/7) menggunakan bahasa daerah.

Baca Juga:  PT SBS Komit 2 Persen Untuk CSR

                 Menurutnya, harga karet sadapan satu bulan  tinggal Rp 8000/kg yang sebelumnya sempat mencapai Rp 9000-10.000/kg. Sedangkan karet basah sadapan satu minggu tinggal Rp 6000-6500/kg yang sebelumnya sempat mencapai Rp 7000-7500/kg.kemdian harga kooi yang sebelumnya mebcaoai RP.20 ribu saat ini tinggal Rp.16.000 perkilogramnya untuk buah musim sedangkan buah selat hanya dihargai pedagang Rp.15.000 perkilogramnya.

                 “ Terus terang kami sangat kecewa jika melihat komentar para orang pintar di negeri ini, mereka mengatakan petani sudah sejahtera harga .harga kopi.harga sawit stabil.karena mereka tidak turun kebawa dak tau derita petani.  karet petani murah karena kualitasnya jelek. Sementara pemerintah tidak pernah memberikan bimbingan maupun penyuluhan kepada kami selaku petani mandiri untuk menjadikan karet kami berkualitas bagus, mereka hanya bisa mencibir,” tegas petani tersebut.

                Menurutnya, jika pemerintah bisa menjamin harga karet petani mahal, tentunya petani akan berupaya memperbaiki kualitas karetnya. Tetapi kalau harganya sama saja antara karet kualitas bagus dengan karet kualitas jelek, tentunya petani  tidak akan berupaya memperbaiki kualitas karetnya.

Baca Juga:  Dua Kapolsek di Muaraenim Dimutasi

                 Sementara itu, Aswin, salah seorang agen pengumpul karet petani mengatakan, harga karet tersebut mulai berangsur angsur turun sejak 3 pekan belakangan.

            “Kami selaku agen juga menjadi cemas melihat harga karet terus turun seperti ini. Karena bisa bisa kami akan mengalami rugi besar juga,” tegasnya. Soanya pada saat membeli harganya masih normal, pada saat dijual ke pabrik harganya turun.

               Kepala Dinas Perkebunan Muaraenim, It Mat Kasrun, ketika dikonfirmasi mengatakan,

di Kabupaten Muaraenim terdapat  149.000 hektar lahan perkebunan karet dengan jumlah 79.644 KK petani yang bermata pecarian  berkebun karet ini.

Baca Juga:  Pemkab Muaraenim Alokasikan Rp26,6 Miliar Untuk Guru PHL

               Menurutnya, mengenai harga karet yang tidak stabil  merupakan kebijakan pemerintah pusat. Namun Dinas Perkebunan membantu dari segi kualitas dan produksi. “Muaraenim punya UPTD  pengolahan untuk memotong rantai produksi sehingga harga di petani tidak jatuh,” jelasnya.

              Pihaknya  juga membantu memberikan cetakan atau bak sadap sehingga getah karet tidak terjatuh dan tercampur dengan tanah. Kemudian memberikan bahan pembeku sehingga karet tidak basah, ataupun kandungan air karet tersebut tidak terlalu tinggi.

              Pihaknya terus berupaya untuk melakukan perbaikan kualitas karet petani. Dia mengaku telah memlakukan program peremajaan perkebunan karet rakyat yang tidak produktif dengan anggaran berasal dari i APBN dan APBD Muara enim. Pada tahun  2019 ini ada sekitar 400 hektar peremajaan karet menggunakan dana dari APBN dan 100 hektar menggunakan dana APBD. #nur

Komentar Anda
Loading...