MXGP Jangan Jadikan Masyarakat Palembang Sebagai “Panggung, Panitia dan Penonton Saja

7
BP/IST
Pengamat politik Sumsel, Bagindo Togar Butar-Butar

Palembang, BP
Kontestasi dan Kompetisi internasional balapan sepeda motor cross kelas Grand Prix atau MXGP di ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Kota Palembang telah usai.
Sebelumnya, bertaburan spanduk juga publikasi kegiatan ini, dengan harapan agar masyarakat tahu, menyambut dan antusias menontonnya.
“Tapi ,realitas yang diperoleh berbeda. Tak bergaung, sepi penonton dan kurang respon positif warga kota ini. Penyelenggara hanya mampu menjalankan tugas teknis dan kepanitaaan saja. Lagi lagi Wong Kito hanya berperan sebagai “Panggung, Panitia dan Penonton” saja. Miris rasanya. Bagaimana tidak, olah raga balap dan atraktif berkuda besi, belum diminati secara massif oleh rakyat, apalagi operation costnya sangat mahal,” kata Pemerhati Politik dari Forum Demokrasi Sriwijaya, Bagindo Togar Bb, Selasa (9/7).
Kabarnya menurut Bagindo , sumber pembiayaan acara otomotif bergengsi ini dari dana- dana CSR dan sponsorship, belum jelas berapa rincian besaran rupiahnya.
“Yang pasti menyerap uang yang sangat besar. Dimana publik juga daerah ini, nyaris tak memperoleh apa kemanfaatannya, paling juga akomodasi dan sedikit peningkatan Popularitas Kota ini. Lagi juga , dalam aktivitas olahraga ini, bagaimana dengan existensi atau partisipasi atlet/ crosser lokal ,” katanya.
Kenapa tidak membuat ragam ajang prakompetisi menuju event MXGP ini tanya Bagindo? Bagaimana dengan keterlibatan para komunitas adventure motocross? Dll.
“ Akumulasi dari uraian diatas menjadi penyebab gagalnya acara ini dalam mendapatkan simpati warga. Bukankah masih banyak bidang lain yang butuh dukungan juga penanganan serius dari pemerintah atau pihak pihak yang berkompeten, guna penguatan harkat masyarakat, misal, pemberian beasiswa pendidikan tinggi strata 2 dan 3, pelatihan industri dan jaringan bisnis kreatif, eksplorasi temporer seni budaya lokal dan lain sebagainya. Sehingga semakin kaya skill, trampilan dan cinta daerahnya para generasi muda kito,” katanya.
Yang terakhir, menurutnya lebih ironis lagi,kemarin beredar di media sosial , bahwa panitia pelaksana event MXGP , bahwa harga tiket diturunkan sangat drastis, hingga Rp25rb khusus Pelajar dam Mahasiswa, dari tarif normal sekitar Rp300rb, ditambah embel embel “Persembahan dari Gubernur Sumatera Selatan”.
“Lantas pertanyaan sederhanapun muncul, dari Pos Anggaran mana Gubernur menutupinya? Pantaskah Gubernur menempuh kebijakan seperti itu, hanya dikarenakan kurangnya antusias warga kota atas perhelatan ini? Sangat urgent & penting hajat balapan otomotif bagi peningkatan kwalitas pelajar juga mahasiswa kita ??? Berfikirlah secara komprehensif dan ajaklah partisipasi banyak pihak, sebelum bertindak atau mengambil keputusan.Sudah saatnya , Kita jeda atau “Stop melakukan Event Gagah-gagahan,” katanya.
Sedangkan Gubernur Sumsel, H.Herman Deru mengaku puas dan bangga atas antusiasme masyarakat yang dengan suka cita, menjadi saksi kehadiran MXGP 2019 di Provinsi Sumsel, apalagi dengan keterbatasan waktu yang ada tidak menjadi hambatan bagi Provinsi Sumsel untuk menyelenggarakan ajang balapan motocross paling bergengsi di dunia.
“Ungkapan terimakasih untuk masyarakat sumsel yang telah ikut mensukseskan ini, opening hari ini sudah menjadi animo yang semakin tinggi dari masyarakat,” kata Gubernur usai menikmati pertandingan kejuaraan dunia sekaligus kejurnas MXGP 2019, di depan Hotel Wyndham, Jakabaring, Palembang, Minggu (7/7).
Menurutnya, masyarakat datang ke Jakabaring bukan hanya menonton kemeriahan penyelenggaraan MXGP saja namun juga mempelajari bagaimana keseluruhan tim MXGP yang tergabung dalam 28 negara bisa bersatu.
“Ini salah satu yang harus kita contoh artinya olahraga bisa mempersatukan semua ras. Berikut ada tekhnik-tekhnik mengendarai motor di sirkuit itu yang memang harus banyak belajar bagi para crosser kita. Bagaimana jumping sambil nikung, misalnya bagaimana tidak mengganggu peserta lain artinya berkompetisi secara sehat,” katanya.
Orang nomor satu di Provinsi Sumsel ini menilai, ada peningkatan keinginan para pemuda untuk berolahraga motocross, sehingga hal tersebut membuatnya semakin yakin untuk menjadikan sirkuit secara permanent di Jakabaring Sport City (JSC).
“Saya targetkan ini untuk menjadi olahraga yang permanen, yang di mana saya sudah kontrak selama 5 tahun, karna saya yakin masyarakat Sumsel ini pasti akan berperan nantinya dalam even nasional maupun internasional,” tegasnya.
Dikatakan pula oleh Herman Deru, masyarakat yang hadir tidak hanya menonton, namun juga dapat dimanfaatkan untuk mencari peluang bisnis. Oleh sebab itu dia mengajak semua perhimpunan pengusaha yang tergabung dalam HIPMI, KADIN dan GAPENSI bahkan semua pihak yang terkait untuk dapat berkerjasama dengan Pemprov Sumsel agar bisa menjadi kesepakatan berbisnis.
“Bukan tidak mungkin kedepan MotoGP kita invite datang ke Provinsi Sumsel,” katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...