Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal, Ketika Kreativitas Manusia Tetap Jadi Penentu Bukan AI

0
Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, kumpulan cerpen karya AI yang sunting oleh Maspril  Aries, Dalam bincang buku tersebut menghadirkan jurnalis senior Maspriel Aries dan Dosen Sistem Informasi Universitas MDP M. Rachmadi, S.T., M.T.I., di Kampus Universitas MDP Palembang, Sabtu (3/10/2026).(BP/udi)

Palembang,BP- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai merambah semakin jauh ke dunia literasi dan sastra. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga dimanfaatkan dalam proses penciptaan cerita pendek hingga novel.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, kumpulan cerpen karya AI yang sunting oleh Maspril  Aries,
Dalam bincang buku tersebut menghadirkan jurnalis senior Maspriel Aries dan Dosen Sistem Informasi Universitas MDP M. Rachmadi, S.T., M.T.I., di Kampus Universitas MDP Palembang, Sabtu (3/10/2026).
Hadir dalam bincang buku tersebut sejumlah dosen dan mahasiswa Universitas MDP Palembang, sastrawan Palembang Anto Narasoma.
Maspriel Aries membagikan pengalamannya bereksperimen menggunakan AI untuk menghasilkan karya sastra.
Maspriel mengatakan dirinya mulai aktif mengeksplorasi AI untuk penulisan sastra sejak pertengahan 2023. Pengalaman tersebut bermula dari aktivitas menulis artikel hingga kemudian mencoba kemampuan AI dalam mengembangkan gagasan menjadi cerita.
“Awalnya belajar dulu dari membuat artikel. Lalu saya coba pakai AI untuk sastra. Ketika makin banyak orang pintar memanfaatkan teknologi ini tanpa harus berlatar belakang pendidikan komputer, ternyata AI bisa mempermudah proses pembuatan karya,” ujar Maspriel.
Dalam proses kreatifnya, Maspriel tidak hanya memasukkan gagasan pribadi sebagai perintah atau prompt kepada AI. Ia juga menggunakan berbagai sumber sebagai bahan awal untuk mengembangkan cerita.
Di antaranya berita koran, catatan wartawan senior, foto yang beredar di media sosial hingga lirik lagu heroik karya musisi Leo Kristi.
Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi gagasan cerita melalui sejumlah platform AI.
Untuk mendapatkan hasil yang sesuai, Maspriel membandingkan respons dari beberapa platform, termasuk ChatGPT dan Gemini. Dari berbagai versi cerita yang dihasilkan, ia kemudian memilih, mengolah, dan menyunting kembali cerita yang dianggap paling sesuai dengan struktur sastra.
Menurutnya, proses tersebut menunjukkan bahwa AI tidak serta-merta menghasilkan karya yang langsung dapat diterbitkan.
Ada proses seleksi, penyuntingan dan penilaian manusia yang tetap harus dilakukan.
“Saya tidak bisa mengklaim ini murni sebagai karya saya. Tetap ini karya mesin, walaupun ide ceritanya datang dari saya. Mesin yang menulis, manusia yang menentukan layak atau tidaknya cerita tersebut,” tegasnya.
Maspriel juga menekankan pentingnya etika ketika menggunakan AI untuk menghasilkan karya tulis.
Menurut dia, pengguna AI tetap harus memperhatikan ketentuan hukum dan etika dalam mempublikasikan konten, termasuk potensi persoalan terkait informasi elektronik maupun isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).
Ia menegaskan tanggung jawab terhadap karya yang dipublikasikan tetap berada pada manusia yang menggunakan dan mengendalikan teknologi tersebut.
Persoalan lain yang menurutnya perlu mendapat perhatian adalah aspek hak cipta atas karya yang dihasilkan dengan bantuan AI.
Karena itu, perkembangan AI dalam dunia sastra juga dinilai dapat menjadi objek penelitian baru bagi akademisi dan mahasiswa, khususnya di bidang bahasa dan sastra.
Maspriel melihat adanya peluang untuk membandingkan karakter bahasa karya yang dihasilkan AI dengan karya yang sepenuhnya ditulis manusia.
Salah satunya dari sisi struktur bahasa Indonesia yang cenderung rapi dan mengikuti pola tata bahasa.
Pandangan serupa disampaikan M. Rachmadi. Dosen Sistem Informasi Universitas MDP ini mengatakan AI memang mampu menghasilkan cerita secara cepat, tetapi hasil awalnya belum tentu memiliki kedalaman emosi dan konteks seperti yang diinginkan penulis.
Rachmadi yang telah menulis sejak remaja mengatakan AI lebih tepat ditempatkan sebagai mitra kreatif daripada pengganti penulis.
“AI itu tidak bisa memahami apa yang ada di dalam kepala maupun rasa yang dimiliki penulis. Kunci utama dalam bekerja dengan AI adalah intent atau tujuan dan penyampaian konteks yang jelas,” ujar Rachmadi.
Menurutnya, AI dapat digunakan untuk memancing ide awal, membuat rancangan cerita atau menghasilkan draf. Namun, tidak semua ide yang dihasilkan dapat langsung digunakan.
Dari puluhan ide yang muncul, kata Rachmadi, hanya sebagian kecil yang benar-benar relevan untuk dikembangkan menjadi cerita.
“Bukan berarti ketika kita meminta AI membuat cerpen, hasilnya bisa langsung dipakai begitu saja secara mentah. Proses penyuntingan dan penajaman konflik tetap memerlukan keterlibatan manusia,” tegasnya.
Dalam penulisan fiksi, Rachmadi mengatakan terdapat sejumlah unsur yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada mesin.
Konflik internal dan eksternal, perkembangan karakter, latar belakang tokoh hingga konsistensi logika cerita harus diperiksa kembali oleh penulis.
Ia mencontohkan pengalaman ketika mengembangkan cerpen berjudul Lukisan yang Belum Selesai.
Dalam salah satu draf yang dihasilkan AI, terdapat detail mengenai posisi surat lama di dalam sebuah tumpukan. Detail tersebut kemudian perlu diperbaiki karena tidak sesuai dengan logika cerita.
“Secara logika, surat yang paling lama ditulis pasti berada di urutan bawah tumpukan. Detail-detail logika penulisan seperti unsur budaya, kedalaman latar belakang karakter, hingga dinamika konflik merupakan bagian yang harus diarahkan dan diisi oleh penulis manusia,” ungkapnya.
Menurut Rachmadi, contoh tersebut menunjukkan bahwa kemampuan AI menghasilkan teks tidak otomatis membuat seluruh hasilnya benar secara logika.
Penulis tetap harus membaca, memeriksa dan menyunting setiap bagian cerita.
Pengalaman menggabungkan teknologi dan sastra kemudian mendorong Rachmadi mengembangkan sebuah platform bernama Studio Fiksi.
Platform tersebut dirancang untuk membantu penulis dalam sejumlah tahapan proses kreatif, mulai dari menyusun kerangka cerita (outline), membuat deskripsi karakter hingga menganalisis alur.
Salah satu fitur yang dikembangkan adalah analisis konsistensi cerita untuk membantu mendeteksi kemungkinan plot hole, yakni ketidaklogisan atau celah dalam alur cerita antarbab.
Studio Fiksi juga dirancang memungkinkan penulis melakukan simulasi percakapan dengan karakter fiksi. Fitur tersebut dapat digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan respons dan karakterisasi tokoh dalam situasi tertentu.
Bagi Rachmadi, perkembangan AI tidak harus dilihat sebagai ancaman terhadap dunia sastra. Teknologi justru dapat menjadi alat bantu bagi penulis selama manusia tetap memegang kendali atas proses kreatif.
AI dapat membantu menghasilkan ide, menyusun draf dan mengolah struktur cerita. Namun, rasa, pengalaman, logika, kedalaman karakter serta keputusan akhir mengenai kualitas karya tetap berada di tangan penulis.#udi
Baca Juga:  Terdakwa Pembunuh Calon Pengantin di Palembang, Divonis  20 tahun Penjara
Komentar Anda
Loading...