Bantai Anak dan Istri di Kebun Kopi

13

2904.01.bantai anak istri (1)Muaraenim, BP

Hanya karena kesal, Armadanial (45) tega menghabisi nyawa istri sirinya, Susi (27) dan dua anaknya, Makiah (1) serta Farhan (6) secara sadis, Selasa (26/4) tengah malam.

Pembantaian itu terjadi di dalam pondok di tengah kebun kopi milik pelaku di pedalaman Talang Pematang Pauh, Desa Swarna Dwipa, Kecamatan Semende Darat Tengah (SDT), Kabupaten Muaraenim.

Peristiwa tragis itu terungkap setelah Rosulun, tetangga pelaku yang tinggal di kebun, menyuruh putranya bernama Rajab (16) ke gubuk tersangka untuk keperluan meminta minyak tanah.

Sebelum masuk, terdengar suara pelaku marah-marah. Karena takut, Rajab pulang dan menceritakan kejadian itu kepada ayahnya. Rosulun yang penasaran kembali mendatangi gubuk pelaku. Ia terperanjat mendapati istri dan kedua anak pelaku sudah terkapar di lantai bersimbah darah.

Rosulun bergegas meninggalkan pelaku yang masih di dalam gubuk, lalu memberitahukan kejadian tersebut kepada warga desa lainnya.

Bersama aparat Polsek Semende, warga desa mendatangi lokasi kejadian di kaki Bukit Balai berbatasan dengan Kabupaten Lahat. Mereka mengamankan pelaku serta mengevakuasi ketiga korban.

Ketika ditemukan, Farhan, anak pelaku, masih bernapas, kendati mengalami luka tusuk di perut hingga ususnya terburai. Namun lantaran banyak mengeluarkan darah, nyawanya tak tertolong. Sedangkan Susi dan Makiah yang ketika ditemukan sudah tak bernyawa, mengalami luka tusuk di sekujur tubuhnya, serta luka sayatan benda tajam pada bagian leher.

Baca Juga:  Ketua DPD Janji Selesaikan Kepentingan Rakyat Papua

Ketiga korban tewas sudah dibawa oleh keluarganya untuk dimakamkan di Desa Swarna Dwipa, Kecamatan SDT, Kabupaten Muaraenim.

Kapolres Muaraenim AKBP Nuryanto melalui Kasat Reskrim AKP M Khalid Zulkarnain mengatakan, tersangka sudah diamankan di Mapolres dan masih menjalani pemeriksaan intensif.

“Dilihat saat diinterogasi, kejiwaan tersangka masih normal dan ingatannya cukup bagus. Namun kita masih akan lakukan pemeriksaan kejiwaannya,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengaku melakukan pembunuhan sadis itu karena kesal dengan istrinya setelah melihat putrinya tak berhenti menangis.

“Kasus ini masih kita selidiki untuk mengetahui motif sebenarnya hingga tersangka tega membunuh istri dan kedua anaknya. Walaupun untuk sementara ia mengaku membunuh karena kesal,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, tersangka dijerat Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan berencana serta Undang-undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman mati.

Baca Juga:  Demo Di Simpang Lima DPRD Sumsel, Massa AMPCB Desak Pemkot  dan Polrestabes Palembang Selamatkan Makam Kramo Jayo

Menurut keterangan Armadanial di hadapan petugas yang memeriksanya, peristiwa tragis itu bermula saat dirinya keluar buang air sementara putrinya tak berhenti menangis. Saat masuk ke pondok lagi, tangis putrinya tak juga reda. Ia lantas meminta istrinya untuk mendiamkan.

“Saat itu aku bilang, diamkan anak itu. Kalau mau menyusu beri susu. Tapi dia (Susi-red) marah dan anak itu diserahkannya dengan cara dilempar kepada saya,” ujarnya.

Hingga akhirnya terjadi pertengkaran hebat. Pelaku yang gelap mata, lalu mengambil sebilah pisau dapur yang ada di dalam pondok untuk menghabisi nyawa istrinya.

Namun Susi berupaya melawan dan merebut pisau dari tangan suaminya, sehingga pisau tersebut mengenai Makiah dan mengalami luka di bagian leher.

Tak berhenti di situ, keributan masih berlanjut sehingga pisau kembali mengenai perut putra sulungnya. Melihat kedua anaknya sudah terkapar, lantas pelaku menghabisi nyawa istrinya.

“Pada saat itu aku bingung, jadi cuma duduk menunggui mereka di dalam gubuk dan Farhan masih menangis serta mengatakan haus. Lalu aku memberinya minum,” paparnya.

Baca Juga:  Pria di Palembang Ini Pergoki Istri Bersama Selingkuhannya

Dirinya menuturkan masih memarahi Farhan yang meminta air minum, karena terus berteriak haus. “Saat itu dia bilang haus terus, tapi waktu diberi minum tidak mau meminumnya,” tuturnya.

Ia juga mengatakan kalau istrinya dinikahi secara siri setelah dua kali gagal membangun rumah tangga.

“Ini pernikahan ketiga saya. Untuk yang pertama sudah cerai dan tidak ada anak, kedua juga tapi ada satu anak,” imbuhnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Swarna Dwipa Noven Andrianto mengatakan bahwa tersangka bersama istri dan anaknya tidak terdaftar sebagai warga desanya.

Sementara itu Bupati Muaraenim Ir H Muzakir Sai Sohar mengaku prihatin atas kejadian tersebut. “Kalau motifnya permasalahan ekonomi, tentu kita sangat prihatin. Karena kita tahu daerah Semende adalah kawasan daerah paling subur untuk kegiatan bercocok tanam,” paparnya.

Muzakir mengimbau dalam kondisi serba sulit seperti ini kiranya masyarakat dapat bersabar dan lebih menahan diri, serta tidak mudah terpancing emosi sehingga bisa menimbulkan hal yang tidak diinginkan.

“Tetap saja pelaku harus diproses dan dihukum setimpal sesuai undang-undang yang berlaku,” tandasnya. # nur

Komentar Anda
Loading...