Sumsel Mendulang Ratusan Miliar dari GMT

13
20131101-turis-mancanegara
Turis asing melanjutkan pesiar di Palembang selepas GMT.

Palembang, BP

Gerhana matahari total (GMT) yang terjadi, Rabu (9/3) lalu memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang. Perputaran uang di kota ini mencapai ratusan miliar rupiah akibat fenomena astronomi 375 tahun sekali ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumsel Irene Camelyn Sinaga menuturkan, okupansi hotel penuh serta objek wisata di Palembang mendapatkan kunjungan yang melebihi daripada hari normal.

“Hasil ini sangat maksimal. Secara langsung dan tidak langsung membantu perekonomian rakyat Sumsel. Akan kami evaluasi semua dampak GMT, namun sejauh ini kami menilai sangat baik,” tuturnya, Kamis (10/3).

Irene mengatakan, jumlah wisatawan meningkat 100 persen lebih daripada hari normal. Banyaknya wisatawan, baik lokal maupun asing yang datang ke Palembang untuk menyaksikan GMT, sempat membuat Palembang menjadi trending topic dunia di media sosial.

“Kita patut bangga, karena Palembang menjadi trending topic dan semakin dikenal oleh dunia. Ini salah satu hal yang positif mengenalkan Sumsel khususnya kota Palembang secara tidak langsung,” ujarnya.

Pasca fenomena GMT ini, dirinya yakin pariwisata Palembang akan meningkat, seiring dengan pengelolaan yang baik dan peningkatan jumlah wisatawan yang datang setiap tahunnya, dibantu kerja sama dengan para agen perjalanan.

Baca Juga:  Pesona GMT Juga Mampir di Google Doodle dan Instagram

“Kesan wisatawan, terutama wisatawan asing terhadap Palembang sangat baik. Saya sempat bertanya kepada mereka apakah mereka akan kembali lagi ke Palembang? Mereka jawab iya. Momen ini mengubah mindset bahwa Indonesia bukan hanya Bali, tapi juga ada Palembang,” tandasnya.

Sejumlah sektor usaha di Palembang mengalami peningkatan omzet hingga 30 persen berkat GMT. Tidak hanya bisnis perhotelan yang panen, industri penerbangan dan sektor terkait lainnya juga ikut menangguk rupiah dari fenomena alam langka tersebut.

“Secara rata-rata peningkatan omzet perhotelan jelang GMT, sekitar 20 hingga 30 persen. Terutama dua hari sebelum dan satu hari setelah GMT. Tingkat hunian dari yang biasanya 70 hingga 80 persen, saat GMT rata-rata di atas 90 persen, bahkan 100 persen,” kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Selatan Herlan Aspiudin, Kamis (10/3).

Dia mengatakan, tingkat hunian kamar mulai berkurang dua hari setelah GMT. Kendati begitu, angkanya tidak turun signifikan. Okupansi pasca GMT mencapai 80 persen. Artinya masih ada yang tetap tinggal di Palembang, kendati GMT sudah selesai.

Baca Juga:  Pawai Ta'aruf Di Gelar Di Desa Tegal Rejo, Tanjung Enim

“Besok (hari ini-red) sudah banyak kamar yang kosong. Kalau kemarin-kemarin, hotel bintang tiga ke atas rata-rata full, saat ini sudah mulai ada yang kosong,” tukas dia.

Sementara General Manager (GM) PT Angkasa Pura II Bandara SMB II Palembang Iskandar Hamid mengatakan, kedatangan internasional meningkat 15 persen dari hari biasa. Puncaknya terjadi sejak H-2 GMT.

“Kalau domestik biasanya dicek tiap satu bulan, namun untuk internasional penumpang di Bandara SMB II naik hingga 15 persen, ” kata dia.

Dia mengatakan, normalnya per hari pintu kedatangan internasional bisa mencapai 200 orang penumpang, baik dari Malaysia maupun Singapura. Namun pada H-2 GMT, jumlah penumpang naik jadi 250 orang.

“Jumlah penumpang di pintu kedatangan internasional naik signifikan saat GMT. Maskapai beroperasi seperti biasa, tidak ada penundaan jadwal maupun ekstra flight,” jelas dia.

Manager Garuda Indonesia Kantor Cabang Palembang, Asa Perkasa mengatakan, okupansi penerbangan domestik naik menjadi 95 persen dibanding hari normal.

Baca Juga:  Sultan Palembang  Bangga atas Pengukuhan 9 Guru Besar UIN Raden Fatah

“Kami ada 10 kali penerbangan dari Jakarta ke Palembang. Dominan dari Jakarta. Kalau secara total, rata-rata di hari normal 73 hingga 78 persen. Saat jelang GMT, bisa capai 95 persen,” katanya.

Dia mengatakan, lonjakan penumpang mulai terjadi sejak Senin dan Selasa, sedangkan kepulangan diperkirakan terjadi Kamis (10/3). “Kalau kedatangan, lonjakan penumpang terjadi sejak Senin (7/3) dan Selasa (8/3),” tukas dia.

Tidak hanya perhotelan, namun industri usaha lainnya seperti gerai penjual kacamata GMT, juga menuai berkah dari GMT. Toko Buku Gramedia mencatatkan penjualan lebih dari 1.000 kacamata, bahkan indent kacamata yang tidak sampai terdistribusi mencapai 150 buah.

“Penjualan kacamata lebih dari 1.000 buah. Bahkan sempat ada pemesanan (inden) yang tidak tersalurkan karena kehabisan stok,” kata Asisten Manager Toko Buku Gramedia PS Mall, Nina.

Dia juga mengatakan, puncak penjualan terjadi dua hari sebelum pelaksanaan GMT. Sementara pembelian paling banyak melalui grup pemesanan. “Sekitar 150 pemesanan kacamata yang tidak tersalurkan, karena kehabisan stok,” tukas dia. # idz/ren

Komentar Anda
Loading...