Pengusaha Kopi Jangan Khawatir Hadapi MEA

13
Oesman 2(1)
Wakil Ketua MPR RI Oeman Sapta Odang memberikan semangat kepada pengusaha dan eksportir kopi Indonesia agar tidak khawatir menghadapi masyarakat ekonomi global.

Jakarta, BP

Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang meminta pengusaha kopi di Indonesia tidak perlu takut menghadapi iklim Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena, Indonesia merupakan negara penghasil kopi keempat terbesar di dunia dan produksinya sangat bagus.

“Dengan kekayaan alam yang kita miliki, sudah saatnya  pengusaha kopi bangkit, percaya diri dan meningkatkan kuantitas maupun kualitas produksi  untuk menembus pasar global,” tegas Osman Sapta di Jakarta, Kamis (10/3), saat memberikan pengarahan kepada pengusaha kopi dalam acara rapat umum anggota Aosisiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI).

Baca Juga:  Mencari “Brand” Kopi Sumsel

Menurut Oesman,  pangsa pasar  kopi sangat besar. Untuk komsumsi dalam negeri saja sudah cukup mengingat penduduk Indonesia sekitar 250 juta dengan asumsi 100 juta penduduk suka minum kopi. “Jika satu sendok saja tiap orang sudah berapa kilo sehari. Kalau sebulan cukup banyak. Jadi gak perlu takut soal pasar,” kata Oesman.

Yang  harus dipikirkan bagaimana  memakmurkan bangsa  sendiri, dengan cara meningkatkan produksi dan kualitas untuk kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Jika rakyat sudah makmur,  baru kita memikirkan soal ASEAN Market.

Baca Juga:  Pelatihan Good Agriculture Practice (GAP) dan Pasca Panen Kopi Sesuai Standar SNI Untuk Kelompok Tani Kopi di Semendo

Dikatakan,  pengusaha kopi tidak akan besar jika petani tidak produktif dan  hutang modal terhadap petani wajib dibayar  dengan memberikan pembinaan dan perlindungan.

”Kita harus mendukung industri kopi maju, karena akan memberikan nilai tambah pada produk pertanian,” katanya.

OSO meminta seluruh rakyat  menggunakan kopi dari Indonesia, supaya konsumsi kopi dalam negeri meningkat, yang pada gilirannya  akan mendorong peningkatan produksi dan peningkatan harga kopi. “Selama ini pengusaha kopi  selalu berpikir ekspor row material dan tak pernah berpikir semi-finisihing product atau finish produk,” paparnya.

Baca Juga:  Belum Ada Tempat Pengolahan, Kopi OKUS Diangkut ke Lampung

”Kalau tidak didukung, harganya anjlok dan negara asing untung karena membeli row material. Jadi harus dipaksakan paling tidak semi finishing product. Kita harus mendobrak pasar internasional,” katanya.

Ketua Umum AEKI Irman Anwar mengatakan,  saat ini Indonesia kedatangan pesaing baru, apalagi dengan   diberlakukannya pasar MEA. Pesaing terberat   adalah kopi dari Vietnam. “Saat ini Indonesia menduduki peringkat keempat sebagai ekspor terbesar dunia di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia,“ jelasnya.#duk

 

 

Komentar Anda
Loading...