Perusahaan Kapal Cepat Terancam ‘Kolaps’
Palembang, BP
Masih belum membaiknya perekonomian di Indonesia juga berdampak terhadap kelangsungan perusahaan kapal cepat di Kota Palembang. Bahkan pengusaha menilai gejolak ini sudah terasa sejak dua tahun lalu.
Ketua Asosiasi Pemilik Kapal Nasional Indonesia (INSA) Sumsel, Kurmin Halim mengaku biaya operasional saat ini sudah tidak sebanding dengan pendapatan. Masih belum intensifnya aktivitas masyarakat juga berpengaruh terhadap pendapatan jasa transportasi laut ini,
“Paling berpengaruh adalah bagi kapal cepat berpenumpang. Selain pengurangan jadwal keberangkatan, saat ini pengusaha sudah mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan,” jelas dia, Selasa (23/2).
Dia menjelaskan, rata-rata angkutan penumpang di kapal cepat mengalami penurunan 25 persen bahkan lebih dari total kapasitas penumpang sebanyak 350 kursi.
Seperti terlihat pada kondisi kapal cepat penumpang Ekspres Bahari dan Sumber Bangka. Sejak enam bulan terakhir operasinalnya harus dijadwalkan secara bergantian akibat minimnya penumpang.
“Surutnya daya beli masyarakat membuat tiga sektor perkapalan yakni angkutan penumpang, kargo biasa, dan kargo khusus seluruhnya mengalami penurunan yang drastic dan yang paling mencolok pada kapal cepat penumpang, ” katanya.
Kondisi ini menurut dia, sudah tidak sesuai dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan dalam satu kali rute pulang-pergi (PP). Biaya yang dibutuhkan dalam satu kali PP membutuhkan 4 ton solar, jika harga solar saat ini Rp6 ribu per liternya maka sudah Rp 24 juta biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan bakar.
Jika harga tiket penumpang Rp100 ribu, untuk dapat menutupi biaya dari bahan bakar saja, setidaknya membutuhkan 150 penumpang dan itu baru dari bahan bakar, belum lagi dari biaya operasional lainnya.
Owner Ekspres Bahari ini juga mengatakan karena alasan itulah kini salah satu jasa kapal cepat Sumber Bangka sudah menghentikan operasionalnya sejak satu minggu terakhir. “Kebanyakan pegusaha saat ini lebih baik berhenti operasional sementara dari pada harus nombok biaya operasional,” katanya.
Dia mengatakan, kondisi serupa juga dialami angkutan kargo yang ikut mengalami penurunan hingga 20 persen. Meski tidak menyebutkan arus lalu lintas kapal kargo secara terperinci, namun hampir dipastikan kondisinya kini dalam masa krisis.
“Kita harapkan pemerintah dapat melihat realita ini dan segera memperbaiki kondisi perekonomian, khususnya sektor komoditas, sehingga perekonomian di Sumsel khusunya dapat meningkat signifikan tahun ini,” tutur dia. #ren
