DBD Jangkit 873 Penderita, 11 Meninggal
#Lintas SKPD Cegah Zika Masuk Sumsel
Palembang, BP
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mencatat 873 terjangkit demam berdarah dengue (DBD) di seluruh kabupaten/kota dari 1-31 Januari. Sebanyak 11 diantaranya tercatat menderita hingga meninggal. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari tahun lalu yang 725 penderita.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Lesty Nuraini mengatakan, secara umum Sumsel belum memasuki status Kejadian Luar Biasa (KLB), namun dua daerah yakni Kota Lubuk Linggau dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sudah masuk menyatakan status KLB DBD tersebut beberapa waktu lalu.
“Sumsel kondisinya belum KLB dan kita harap tidak terjadi KLB. Namun Lubuk Linggau sudah KLB pada 21 Januari. KLB ditetapkan karena jumlah penderita di Linggau Januari 2016 ini mencapai 189 penderita, tiga diantaranya meninggal. Jumlah ini jauh meningkat dibandingkan tahun di bulan yang sama hanya berjumlah 11 orang dengan satu kematian,” jelasnya, Jumat (5/2).
Sementara untuk OKI, pihaknya belum menerima langsung laporan dari Dinkes setempat terkait penetapan KLB. Pihaknya justru mendengar dari pemberitaan media massa bahwa di OKI ditetapkan sudah KLB DBD. Untuk data penderita DBD di OKI hingga 31 Januari, sebanyak 145 penderita dengan tiga diantaranya meninggal. Sementara tahun lalu pada bulan yang sama hanya 68 penderita.
Terkait pernyataan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek bahwa Sumsel masuk kategori KLB DBD dari tujuh kabupaten/kota, pihaknya menyatakan belum ada melaporkan KLB DBD.
Pihaknya telah mengirimkan surat edaran Gubernur Sumsel langsung ke kabupaten/kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan adanya peningkatan kasus DBD sejak Oktober tahun lalu. “Ini kan kasus yang berulang setiap tahunnya, sehingga kita tetap berupaya untuk menekan kejadian kasus DBD dan menekan angka kematian,” tuturnya.
Kesiapsiagaan kabupaten/kota dalam menanggulangi DBD yakni dengan menyiapkan fasilitas kesehatan, rumah sakit dan juga partisipasi seluruh masyarakat dalam memberantas jentik nyamuk yang berkembang biak di genangan air bersih seperti yang tidak sengaja tertampung di botol atau kaleng bekas, vas bunga, gelas, daun-daun dan lainnya.
“Pemberantasan sarang nyamuk melalui 3S+ membersihkan kemungkinan hidupnya jentik nyamuk serta pengaktifan Juru Pantau Jentik (Jumantik) dari tingkat puskesmas. Selain itu, plus (+) meningkatkan kewaspadaan dari masyarakat untuk lebih cerdas dalam menghindari gigitan nyamuk, karena vector-nya adalah nyamuk. Baik dengan menggunakan kelambu, obat nyamuk, dan ikan tempalo,” ungkapnya.
Dinkes pun telah menyebar logistik ke seluruh kabupaten/kota yakni 4.009 Kg Larvasida, 272 kotak Rapid Test Diagnostic (RDT) DBD, dan 7.250 liter insektisida yang dibagikan ke 17 Kabupaten/Kota.
Sementara itu, Kasi Laboratorium dan Uji Kesehatan Balai Besar Lab Kesehatan Sumsel Joko Wiharto menagatakan, sejauh ini sangat sedikit pasien suspect DBD melakukan tes lab.
Tes lab dapat menganalisis seseorang menjadi apakah menderita DBD atau tidak setlah demam tinggi dalam dua hari, lebih cepat daripada gejala yang keluar yang biasanya pada lima hari setelah demam sehingga bisa ditindak secepatnya.
“Pemeriksaan DBD memang harus bayar karena tidak termasuk dalam BPJS. Deteksi dini DBD yakni Rp220 ribu, Chikungunya Rp175 ribu, dan tes thrombosit Rp 27 ribu,” ujarnya.
Terkait virus Zika yang juga dibawa oleh nyamuk aedes aegepty yang sama vector DBD, cikungunya, dan demam kuning, Kasi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi (PKSE) Kantor Kesehatan Pelabughan (KKP) Palembang dr Amelia menuturkan, KKP melakukan pencegahan dan penangkalan penyakit Zica mulai dari pintu masuk luar negeri menuju daerah Sumsel, mulai dari bandara dan pelabuhan.
“Jika ada penyakit di luar negeri, dan di sini ada vectornya, akan mudah sekali menyebar di sini. Namun sebaliknya bila ternyata ada orang satu pesawat terkena Zika, namun di sini tidak ada vectornya, tentu tidak akan menyebar,” jelasnya.
Untuk itulah pihaknya melakukan surveillance rutin yakni dengan memeriksa setiap transportasi pengangkut baik manusia maupun barang yang dalam empat persinggahan terakhir sempat ke daerah terjangkit Zika.
“Setiap kontainer yang berlabuh di Boom Baru, angka jentiknya hatus nol. Apabila nantinya sangat mengkhawatirkan, akan kita tempatkan thermal scanner di bandara dan pelabuhan yang bisa mendeteksi demam pada penumpang,” ujarnya.
Dirinya menuturkan, pemerintah tidak diperbolehkan melarang warganya untuk bepergian ke negara-negara yang terjangkit Zika. Pemerintah hanya diperbolehnya memberikan warning, dan travel advisory.
“Warning selanjutnya kami teruskan kepada Dinkes Sumsel maupun kabupaten/kota dengan memberikan identitas warga yang sempat mengunjungi negara terjangkit Zika untuk diawasi selama 14 hari,” tutupnya.#idz
Kasus DBD dan Kematian di Sumsel
(1-31 Januari 2016)
Kab/Kota Jumlah Kasus DBD Jumlah Kematian
OKU 10 –
OKI 145 3
Muara Enim 47 –
Lahat 20 –
Musi Rawas 13 –
Musi Banyuasin 171 1
Banyuasin 28 –
OKUS 11 –
OKUT 25 2
Ogan Ilir 20 –
Empat Lawang – –
Palembang 91 1
Prabumulih 50 –
Pagaralam 14 1
Lubuk Linggau 189 3
PALI 30 –
Muratara 9 –
TOTAL SUMSEL 873 11
Data DBD Per Tahun
Tahun Jumlah
2012 3.243
2013 1.450
2014 1.612
2015 3.396
Januari 2016 873
Sumber: Dinkes Provinsi Sumsel