Dari Gulma Menjadi Harum: Kisah Warga Plaju Binaan Pertamina Ubah Eceng Gondok Jadi Cuan

9
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Plaju, Siti Fauziah di Workshop Ankubas pengolahan Enceng Gondok Senin (7/9/2026).(BP/udi)

Palembang,BP- Di banyak perairan Sumatera Selatan, (Sumsel) eceng gondok sering kali hanya dipandang sebagai tanaman pengganggu. Tumbuh cepat, menutup permukaan air, dan dianggap menghambat keseimbangan ekosistem.
Namun, di Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, Kota Palembang, tanaman yang selama ini dianggap gulma itu justru diberi kesempatan untuk memiliki kehidupan kedua.

Batang-batang eceng gondok dikumpulkan, diolah, dan diubah menjadi sesuatu yang jauh dari kesan gulma: pengharum ruangan berbentuk blok dengan aroma yang memiliki nilai jual.

Di tangan kelompok Anak-Anak Kreatif Untuk Bangsa (Ankubas), eceng gondok menjelma menjadi Ankubas Scents.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam rangkaian Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) 2026 teritori Sumatera Selatan. Sekitar 40 jurnalis dari berbagai media di Sumsel mengunjungi sejumlah unit operasi dan program binaan Pertamina di Palembang, Selasa (8/9/2026).

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Eceng Gondok Research & Creative Center (ERCC) yang terletak di Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, Kota Palembang. Dilokasi ini , program pemberdayaan masyarakat sedang dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) III Plaju bersama kelompok Ankubas.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir sejumlah pemangku kepentingan yang selama ini mendukung ekosistem pemberdayaan di program ERCC, di antaranya Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Plaju, Siti Fauziah, perwakilan Pusat Riset Sistem Biota BRIN Dr. Ir. Siti Nurul Aida, M.P. APU. dan Tuah Nanda Merlia Wulandari, S.Si., M.Pi.; Lurah Talang Putri Khaidir Rozi, S.K.M., M.Si.; serta Camat Plaju Bambang Adrianto, S.STP.

Di tempat inilah para jurnalis melihat bagaimana persoalan lingkungan tidak selalu harus berakhir sebagai masalah. Dengan kreativitas dan pendampingan, sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi.
Program ERCC mulai berjalan pada 2023. Sejak itu, eceng gondok tidak sekadar dibersihkan dari lingkungan perairan, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk.

Batangnya diolah menjadi air freshener block yang dipasarkan dengan merek Ankubas Scents.

Prosesnya tidak berhenti pada menghasilkan sebuah produk. Di balik pengharum ruangan itu terdapat upaya membangun kemampuan warga agar mampu mengelola usaha secara lebih mandiri.

Pertamina Patra Niaga RU III Plaju memberikan pendampingan mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat, penyediaan fasilitas produksi, standardisasi kualitas, pengembangan usaha hingga membantu memperluas akses pemasaran.

Produk Ankubas Scents kemudian berkembang dalam berbagai varian aroma. Pemasarannya dilakukan secara langsung maupun melalui platform digital.

Bagi masyarakat yang terlibat, perubahan tersebut menunjukkan bahwa persoalan di sekitar lingkungan dapat menjadi peluang apabila dikelola dengan cara yang tepat.
Sejak berjalan pada 2023, program ini mengolah biomassa batang eceng gondok menjadi produk pengharum ruangan berbentuk air freshener block dengan merek Ankubas Scents.

Tidak berhenti pada pengolahan limbah, program tersebut juga diarahkan untuk membangun kemandirian masyarakat melalui peningkatan kapasitas, dukungan fasilitas produksi, pengembangan kualitas produk, hingga pendampingan usaha.

Ankubas Scents kini telah dikembangkan dalam sejumlah varian aroma dan dipasarkan secara langsung maupun melalui kanal digital.
Selain menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat, keberlanjutan program ERCC juga diwujudkan melalui upaya menjaga ekosistem perairan.

Sebagian hasil penjualan Ankubas Scents turut dikonversikan menjadi dukungan untuk restocking ikan di lingkungan perairan
sekitar. Melalui pendekatan tersebut, setiap produk yang terjual turut
memberikan manfaat kembali bagi lingkungan, sehingga dampak program tidak
berhenti pada aktivitas produksi dan pemberdayaan masyarakat, tetapi juga
berkontribusi pada keberlanjutan ekosistem perairan.

Sebelum program ini berkembang, keberadaan eceng gondok di sejumlah aliran perairan menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat.
Camat Plaju Bambang Adrianto, S.STP, mengatakan eceng gondok yang tumbuh tidak terkendali dapat menghambat aliran air. Kondisi tersebut semakin terasa ketika musim hujan dan berpotensi memperburuk persoalan banjir.

Baca Juga:  DPRD Palembang Setujui Penyertaan Modal Rp 800 Miliar Dari Pemkot Palembang ke PDAM Tirta Musi

“Sebelum adanya Ankubas, eceng gondok ini menjadi momok dan kita sering melakukan pembersihan gotong royong bersama Pemerintah Kota Palembang. Keberadaan eceng gondok mengakibatkan aliran air tidak berjalan maksimal, sehingga memicu banjir saat musim hujan,” ujar Bambang.

Kini, pendekatannya mulai berubah. Masyarakat tidak hanya membersihkan eceng gondok, tetapi juga mengumpulkannya untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku produk.
Menurut Bambang, adanya nilai ekonomi membuat kegiatan pembersihan menjadi lebih berkelanjutan karena masyarakat memiliki alasan tambahan untuk menjaga lingkungan.

“Seandainya seluruh masyarakat melakukan hal yang demikian, maka aliran sungai kita menjadi lebih lancar dan masalah eceng gondok sedikit banyak bisa teratasi,” katanya.

Sedangkan, Triono, salah satu pengelola Eceng Gondok Research & Creative Center (ERCC), mengatakan pemanfaatan tanaman tersebut sebagai bahan parfum dilakukan setelah sebelumnya mencoba mengolah eceng gondok menjadi briket.

Menurutnya, eceng gondok memiliki karakteristik sebagai media yang cukup baik untuk menyerap bahan tertentu. Karakter tersebut kemudian mendorong pengelola untuk mencoba mengembangkan pemanfaatannya sebagai bahan pendukung produk pewangi.

“Kenapa parfum? Sebelumnya pernah mencoba briket. Ternyata medianya bagus untuk menyerap dan cukup tahan lama untuk parfum,” ujar Triono.

Ia mengatakan, pengembangan produk tersebut hingga kini masih terus dilakukan. Hasilnya memang belum sepenuhnya dirasakan dalam skala besar, tetapi sebagian produk sudah mulai dipasarkan dan mendapatkan respons dari konsumen.

Triono menyebut, produk yang dihasilkan juga mulai menarik perhatian pembeli dari luar Palembang. Beberapa pembeli disebut berasal dari Kabupaten Lahat hingga Jakarta.

“Kalau sekarang memang belum terlalu terasa, tetapi sebagian sudah ada yang berjalan. Yang membeli pernah dari Lahat, termasuk untuk asesoris, dan ada juga dari Jakarta,” katanya.

Ia menjelaskan, pada tahap awal harga bahan baku eceng gondok yang digunakan masih relatif rendah. Bahkan, sebelumnya harga eceng gondok disebut berada di kisaran Rp500 per kilogram.

Bagi Perwakilan Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Ir. Siti Nurul Aida, M.P. APU melihat eceng gondok bukan semata-mata sebagai tanaman pengganggu, melainkan biomassa yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Menurutnya, perubahan cara pandang tersebut penting agar keberadaan eceng gondok tidak hanya berakhir sebagai limbah setelah dibersihkan dari perairan.

“Selama ini biomassa eceng gondok merupakan objek, yakni objek gulma yang harus dibersihkan untuk mengendalikan ekosistem perairan. Sekarang kita ubah cara pandang, kita jadikan subjek,” ujar Siti.

Menurutnya, menjadikan eceng gondok sebagai subjek berarti mengubah biomassa yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai jual.
Pemanfaatannya dapat diarahkan untuk berbagai produk, antara lain pengharum ruangan, biopot, biogas, hingga produk turunan lainnya.

“Dari bahan yang tidak berguna menjadi bahan berguna, menjadi produk-produk yang mempunyai nilai jual,” katanya.

Meski memiliki potensi besar, Siti menegaskan produk berbahan eceng gondok yang dikembangkan saat ini masih membutuhkan sejumlah penyempurnaan.

Menurut dia, aspek yang perlu diperhatikan bukan hanya kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga standar bahan baku, kontinuitas produksi, daya tahan produk, hingga jumlah biomassa yang diperlukan untuk menghasilkan produk tertentu.

Untuk produk pengharum ruangan, misalnya, perlu dilakukan pengujian mengenai daya tahan aroma serta aspek kesehatan karena produk tersebut digunakan dan dihirup secara langsung oleh konsumen.

“Kami masih tahap awal sebenarnya. Masih banyak yang harus kita perbaiki. Satu misalnya standar materinya, kemudian kontinuitas produknya, kemudian daya tahan,” jelasnya.

Baca Juga:  Siber Polda Sumsel Tangkap Sindikat Penipuan Online Omzet Ratusan Dari Sumut

BRIN juga tengah mendorong proses sertifikasi terhadap produk tersebut. Salah satu yang sedang dipersiapkan adalah pengajuan ecolabel untuk memastikan produk memenuhi aspek lingkungan dan kesehatan.

Siti mengatakan pengujian laboratorium diperlukan untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar sebelum diproduksi dan dipasarkan secara lebih luas.

“Kalau dari sisi kesehatan saya baru melihatnya dari bahan. Tetapi secara laboratorium masih ada pemeriksaan di laboratorium. Termasuk dalam sertifikasi kita sekarang sedang menjalani sertifikasi dan ecolabel,” katanya.
Pengembangan inovasi tersebut juga diarahkan untuk melibatkan masyarakat sekitar.

Siti menilai masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa eceng gondok yang tumbuh di perairan tidak selalu harus dianggap sebagai sampah. Tanaman tersebut dapat dipanen dan disalurkan sebagai bahan baku untuk produk yang dikembangkan.

Dengan pola tersebut, masyarakat dapat mengambil peran sejak proses penyediaan bahan baku hingga produksi.

“Jadi masyarakat kita ajarkan juga bagaimana panen eceng gondok untuk keperluan produk,” ujarnya.

Menurut Siti, pola seperti ini telah diterapkan di sejumlah daerah dengan pemanfaatan eceng gondok untuk berbagai kebutuhan. Namun, pendekatan yang dikembangkan di Palembang memiliki peluang untuk diarahkan pada produk dengan nilai ekonomi yang berbeda.
Masyarakat nantinya dapat mengambil bagian sesuai dengan tahapan produksi, mulai dari menyiapkan bahan baku hingga mengolahnya menjadi produk.

Bagi Siti, pola tersebut penting karena pengendalian eceng gondok tidak seharusnya hanya mengandalkan kegiatan pembersihan. Pemanfaatan secara ekonomi dapat menjadi insentif bagi masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan.

“Selain mengendalikan blooming eceng gondok pada saat musim hujan, juga membangun ekonomi masyarakat sekitar sini,” katanya.
Siti juga melihat pengembangan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi di Sumatera Selatan memiliki peluang untuk terus dikembangkan.

Ia mengaku pernah menemukan informasi mengenai pemanfaatan eceng gondok di daerah lain, tetapi belum memperoleh rujukan yang cukup untuk memastikan bentuk inovasi yang sama dengan yang sedang dikembangkan di Sumsel.

Karena itu, ia menilai pengembangan di Palembang memiliki peluang untuk menjadi sebuah kebaruan yang perlu terus diuji dan diperkuat.

“Saya pernah terbaca, tapi saya cari enggak ketemu lagi. Jadi menurut saya ini kebaruan. Kebaruan ini harus menjadi tantangan buat kita di sini,” ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi eceng gondok di sejumlah daerah yang tumbuh sangat luas hingga menutupi permukaan sungai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan eceng gondok dapat menjadi semakin serius apabila tidak dikelola sejak awal.

Karena itu, menurutnya, Sumsel memiliki kesempatan untuk mengembangkan sistem pemanfaatan eceng gondok sebelum pertumbuhannya semakin tidak terkendali.
Pengembangan produk juga tidak berhenti pada pengharum ruangan.

Siti mengatakan masih terbuka peluang untuk mengeksplorasi berbagai produk turunan lain dari eceng gondok. Salah satu gagasan yang sedang dipertimbangkan adalah pengembangan produk yang berkaitan dengan pengusir serangga atau nyamuk.

Namun, gagasan tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengujian lebih lanjut, terutama berkaitan dengan efektivitas, daya tahan, serta aspek kesehatan.

“Sekarang ini kita memperkuat produk yang sudah dilakukan. Dan yang satu lagi kita eksplorasi, sudah ini apa lagi,” katanya.
Ia menilai kreativitas generasi muda yang terlibat dalam pengembangan produk menjadi modal penting untuk melahirkan inovasi berikutnya.

“Anak-anak di sini pasti kepengin lagi apa, apa lagi, asal ada yang mendukung,” ujarnya.

Satu persoalan yang menurut Siti juga tidak kalah penting adalah bagaimana menangani sisa eceng gondok setelah proses produksi.
Ia mendorong agar pemanfaatan tanaman tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga sisa biomassa dapat diminimalkan.

Bagian-bagian tanaman seperti daun, batang, dan akar memiliki potensi pemanfaatan berbeda. Sebagian dapat diarahkan menjadi pupuk atau produk turunan lainnya, sementara material tertentu dapat dikembangkan menjadi briket atau biomassa.

Baca Juga:  Anggota DPRD Provinsi Sumsel Dapil Sumsel II Cek Kesiapan Dishub Sumsel Menjelang Idul Fitri

Siti mengingatkan, eceng gondok yang telah menyerap berbagai unsur dari lingkungan perairan tidak seharusnya dibiarkan membusuk begitu saja di daratan tanpa pengelolaan.

“Jangan sampai dia busuk. Kita mengambilnya sebagai bahan untuk biomassanya itu kita gunakan untuk ini,” katanya.

Karena itu, prinsip yang ingin dikembangkan adalah pemanfaatan semaksimal mungkin dengan sisa akhir seminimal mungkin.
“Kita harapkan seminimal mungkin,” ujarnya.

Melihat perkembangan program tersebut, Siti memberikan apresiasi terhadap keterlibatan generasi muda dan masyarakat dalam mengolah eceng gondok.

Menurutnya, inovasi tersebut memiliki prospek ekonomi sekaligus manfaat lingkungan apabila terus diperkuat dengan riset, pendampingan, standardisasi dan akses pasar.

“Saya menanggapinya sangat positif dan sangat bagus dan menjanjikan untuk masyarakat sekitar sini. Sangat menjanjikan, sangat berpeluang, terus sangat prospek,” katanya.

Bagi Siti, keberhasilan program bukan hanya ketika sebuah produk berhasil dijual.

Ukurannya juga terletak pada kemampuan masyarakat menciptakan nilai dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai persoalan.
Dengan pendekatan itu, eceng gondok tidak lagi berhenti sebagai tanaman yang harus dibersihkan dari sungai.

Ia dapat menjadi bahan baku, sumber inovasi, sekaligus pintu masuk bagi masyarakat untuk membangun kegiatan ekonomi sembari menjaga lingkungan.

 

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Plaju, Siti Fauziah saat melepas ikan dalam acara Restocking Ikan di lingkungan perairan , hasil penjualan Ankubas , Scents, Senin (7/9/2026).(BP/udi)

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Plaju, Siti Fauziah, mengatakan program tersebut memang dirancang untuk memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan penyelesaian persoalan lingkungan.

“Kami ingin teman-teman media juga melihat sisi lain Pertamina melalui program pemberdayaan masyarakat yang ada di sekitar wilayah operasi kami,” ujar Siti.

Menurutnya, ERCC menjadi contoh bagaimana masalah lingkungan dapat dikembangkan menjadi peluang melalui inovasi dan keterlibatan masyarakat.

“Di ERCC, teman-teman bisa melihat bagaimana sebuah persoalan lingkungan dikembangkan menjadi peluang melalui inovasi dan keterlibatan masyarakat,” katanya.

Apalagi menurutnya setiap produk Ankubas Scents. Program ini tidak hanya menghitung keberhasilan dari berapa banyak produk yang terjual. Sebagian hasil penjualan juga dikonversikan untuk mendukung kegiatan restocking, yakni penebaran kembali benih ikan di perairan sekitar.

Dengan cara itu, manfaat program berjalan dalam dua arah. Eceng gondok yang sebelumnya berpotensi mengganggu ekosistem dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Sementara sebagian manfaat ekonominya kembali digunakan untuk mendukung kehidupan di perairan.

Lingkungan dan ekonomi tidak ditempatkan sebagai dua kepentingan yang harus dipertentangkan.

Justru dari persoalan lingkungan lahir aktivitas ekonomi, dan dari aktivitas ekonomi tersebut muncul kembali kepedulian terhadap lingkungan.

Perjalanan itu mulai menunjukkan hasil. Hingga 2025, akumulasi penjualan Ankubas Scents tercatat mencapai sekitar Rp110 juta. Produk tersebut telah dipasarkan hingga Kota Palembang, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Lahat.

Angka tersebut mungkin belum dapat dibandingkan dengan industri besar. Namun bagi sebuah program yang bermula dari persoalan eceng gondok dan digerakkan masyarakat, angka itu menunjukkan bahwa gagasan sederhana dapat menemukan pasarnya.

Sebelumnya, sekitar 40 jurnalis mengunjungi Stasiun Gas PGN Demang Lebar Daun dan Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, yang merupakan bagian dari operasional Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel.

Dua lokasi tersebut memperlihatkan wajah Pertamina dari sisi penyediaan dan distribusi energi.

Sementara ERCC menghadirkan wajah yang berbeda: bagaimana keberadaan perusahaan di tengah masyarakat diterjemahkan dalam bentuk pemberdayaan. Di Talang Putri, cerita tentang Pertamina akhirnya bukan hanya mengenai energi yang menggerakkan kendaraan, pesawat, rumah dan industri. (Dudy Oskandar)

Komentar Anda
Loading...