Penghasilan Lebih Menjanjikan

23
BP/MARDIANSYAH BECAK MOTOR-Sebuah becak motor melaju disimpang lima jalan Kapten A.Rivai Palembang dengan membawa penumpangnya, Minggu (10/1). Salah satu kendaraan aanggutan umum ini pilihan warga kota Palembang.
BP/MARDIANSYAH

PENGHASILAN yang menjanjikan, hemat waktu dan tenaga, bisa membawa barang lebih banyak ketimbang ojek, serta mampu menjangkau wilayah yang lebih luas, jadi alasan para pengemudi bentor beralih ke alat transportasi tak resmi tersebut.

Yusuf (58), yang seringkali mangkal di kawasan pasar 26 Ilir, mengaku baru saja beralih profesi dari supir menjadi pengemudi bentor.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil lantaran tergiur penghasilan pengemudi bentor yang cukup menjanjikan. “Kalau beroperasi dari pagi sampai sore, memang penghasilannya tidak tentu. Mulai dari Rp 60ribu sampai lebih dari Rp 100ribu. Namanya juga rejeki, tapi cukuplah untuk menghidupi anak istri. Kalau rute itu, kemana saja bisa di Palembang. Jauh dan dekat, harga bervariasi,” ujarnya.

Ia lebih memilih memilih bentor dibandingkan becak lantaran tidak terlalu banyak makan tenaga. Kendati demikian, ia harus harus merogoh kocek hingga Rp3juta untuk merakit motornya menjadi bentor.

“Kisaran Rp3juta, minta tolong kawan buatnya. Karena saya harus beli becak dulu, terus pasang besi penyanggahnya. Yang mahal itu upah pasangnya. Bisa lebih dari Rp700ribu, sama beli becaknya juga,” ucapnya.

Disinggung mengenai adanya razia, ia tak menampik hal tersebut kerapkali menimpa pengemudi bentor. “Iya pak, teman-teman sering dirazia oleh Dishub. Biasanya disuruh bayar Rp50ribu dan kalau sudah sampai dibawa ke kantor bisa sampai Rp200ribu. Alasannya belum ada izin operasi untuk bentor ini. Tapi mau bagaimana lagi, Pak. Kami mau menyambung hidup untuk makan anak istri,” ujarnya.

Edi (55), pengemudi bentor yang biasa mangkal di Ilir Barat Permai, mengaku jadi tukang becak sejak tahun 1983, namun dalam dua tahun terakhir dirinya beralih ke bentor lantaran kemudahan dalam mengangkut penumpang. “Lebih mudah, hemat tenaga dan bisa juga mengangkut jarak jauh. Kalau becak kan cepat capek. Bentor ini dibawa ke ujung kota pun masih sanggup,” imbuhnya.

Ia tak menampik bentor semakin banyak berseliweran di jalanan kota Palembang. “Otomatis semakin banyak saingan, tapi masyarakat kan juga butuh bentor. Selain lebih cepat, bisa jarak jauh juga dan muatan lebih banyak dari ojek,” tukasnya.

Menurut Edi, dirinya memang kerapkali terjaring razia oleh petugas dari Dinas Perhubungan Palembang dengan alasan bentor tak memiliki izin. “Dirazia sudah beberapa kali. Sedikitpun kami tidak mengeluarkan uang. Kami dilepas dengan perjanjian tidak narik bentor lagi. Tapi mau bagaimana lagi, terpaksa tetap narik karena anak istri mau makan, Pak. Kami sadar ini belum ada izin, tapi kalau mau ditertibkan silakan dilarang semuanya atau diizinkan dengan syarat tertentu, kami akan patuh,” tukasnya.

Menurut Ade, orang yang biasa merakit becak menjadi motor, dalam pengerjaannya, ia hanya butuh waktu maksimal sehari. “Kalau lagi tidak banyak kerjaan, bisa rampung cukup satu hari saja,” ucapnya.

Dalam merakit satu unit bentor, dirinya mematok tarif yang cukup murah, yakni Rp300 ribu. “Satu unit bentor cuma tiga ratus ribu. Kalau sudah kenal, tidak sampai segitu bayarnya. Tergantung kesulitan juga. Kalau motor bebek tidak sulit untuk menyetelnya. Motor besar yang cukup sulit,” imbuhnya.

Masalah izin trayek, ia tak tahu menahu. “Saya cuma sebatas merakit saja. Itu jadi penghasilan tambahan. Saya ini seorang pandai besi yang biasa membuat ayunan, kursi besi, gantungan baju, dan lainnya,” tandasnya. # bel/ndi

Baca Juga:  Bank Sumsel Babel Dorong Penguatan Kredit UMKM
Komentar Anda
Loading...