Disbudpar  Resmi Kirim Surat Ke Brin, Minta Dikembalikan Barang Arkeologi dari Sumsel

52
Kepala Disbudpar Sumsel Aufa Syahrizal (BP/ist)

Palembang, BP- Pemindahan ratusan barang artefak dan barang arkeologi dari kantor Brin Sumsel ( dulu bekas kantor Balai Arkeologi (Balar) Sumsel) yang terletak di Jalan Kancil Putih Palembang ke Cibinong, Jumat (7/6) siang menjadi polemik lantaran pihak Brin tidak melakukan koordinasi dengan pihak terkait di Sumsel.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Sumatera  Selatan (Sumsel) Aufa Syahrizal Sarkomi menegaskan pihaknya sudah mengirimkan surat tertanggal 7 Juni 2024 lalu  yang ditujukan Kepada Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra , Badan Riset dan Inovasi Nasional (Brin) , Dr Herry Yogaswara dan  pihaknya masih menunggu respon pihak Brin atas surat yang dikirim tersebut
“Kalau tidak di respon, kami susulkan dengan surat gubernur,” katanya usai rapat di Komisi V DPRD Sumsel, Selasa (12/6).
Menurutnya surat tersebut berisikan agar barang barang arkeologi dari eks Balai Arkeologi Sumsel dikembalikan ke Sumsel dan Sumsel siap mengelola karena Sumsel punya museum.
“Tapi sekali lagi barang arkeologi itu bukan hanya milik Sumsel , Balar itu membawahi Sumbagsel ada barang barang dari Jambi, ada barang barang dari Bengkulu ada barang barang dari Lampung termasuk Bangka Belitung dan sebagian barang barang itu milik kita dan kita bersurat untuk mengembalikan yang punya kita aja ,” katanya.
 Alasan pengembalian tersebut menurut Aufa,  ingin meyakinkan bahwa Palembang, Sumatera Selatan adalah pusat Kerajaan Sriwijaya untuk meyakinkan itu harus dibuktikan dengan benda benda artefak.
“Jadi jawaban mereka waktu by phone dengan pak  Kris (Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan (BPK Wilayah VI Sumsel) Kristanto Januardi. S.S)  ya nanti mereka akan tinjau , sepanjang daerah siap tentu barang itu akan mereka kembalikan  dan kita tunggu respon mereka” katanya.
Aufa kembali menegaskan pemindahan barang-barang arkeologi dan artefak dari bekas Gedung Balai Arkeologi Sumsel di Jalan Kancil Putih Palembang tidak ada koordinasi yang dilakukan pihak Brin kepada Pemprov Sumsel.
“ Artinya koordinasi harus jelas, pak kami ini ada gini, gini  gimana solusinya , mereka khan tahu kita punya museum , pak Kris sudah beberapa kali bertemu dengan saya , kenapa tidak  bicara , artinya seperti itu, jadi tidak ada mereka katanya bertemu dengan ibu Cahyo (Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Sumsel Cahyo Sulistyaningsih S.Sos), mungkin hanya bicara secara lisan saja tapi tidak bicara serius , kalau memang bicara serius, pak  benda-benda ini sesuai intruksi pusat akan di bawa ke Cibinong tetapi kalau ada benda-benda yang berkaitan dengan  Sumatera Selatan yang bisa di kelola maka ini akan kami tinggalkan, khan enak  kalau ada pembicaraan seperti itu , ini tidak ada sama sekali,” katanya.
Dan menurut Aufa kalau bukan pemberitaan media yang mengangkat persoalan ini , dirinya mengaku tidak tahu sama sekali.

“ Tapi kami sudah merespon positip , langkah kongkrit sudah kami lakukan dengan mengirimkan surat , bahkan saya protes keras dengan pak Kris, intinya saya minta kembalikan barang  itu dan hingga kini belum ada jawaban dari pihak Brin, artinya kita sesama pemerintah kita tidak membabi buta  tapi kita dengan bahasa yang sopan , mudah-mudahan mereka mengerti dan paham maksud kita , kalau kita bicara brutal dengan gaya preman ya rasa-rasanya tidak pantas, artinya tetap dengan cara bijak, kita sampaikan suratnya,” katanya.#udi

Baca Juga:  Warga Sekayu Promosikan Capres Anies di Baliho Restoran
Komentar Anda
Loading...