Mencatat Indonesia, Membangun Negeri: Menyongsong Sensus Ekonomi 2026 untuk Fondasi Indonesia Maju

0

Palembang, BP- Setiap hari, jutaan tangan bergerak di seluruh penjuru Indonesia. Ada yang meracik kopi di warung kecil pinggir jalan, menenun kain dengan sabar di rumah-rumah produksi tradisional, merakit gawai di tengah hiruk-pikuk pabrik modern, hingga memasarkan dagangan hanya lewat sentuhan jari di layar ponsel.

Semua aktivitas itu membentuk denyut kehidupan ekonomi bangsa hidup, dinamis, dan terus bergerak tanpa henti. Dari desa hingga kota besar, dari pasar tradisional hingga ruang digital, ekonomi Indonesia tumbuh dari kerja keras orang-orang biasa yang menopang negeri ini setiap hari.

Namun di balik ramainya pergerakan itu, muncul satu pertanyaan penting: sudahkah kita benar-benar memahami denyut ekonomi tersebut secara utuh? Seberapa akurat kita membaca kenyataan yang terjadi di lapangan, di tengah perubahan yang begitu cepat dan kompleks?

 

Di tengah pusaran dinamika ekonomi global dan percepatan transformasi digital, Indonesia mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan Sensus Ekonomi 2026. Lebih dari sekadar kegiatan statistik rutin, sensus sepuluh tahunan ini adalah fondasi bagi kebijakan pembangunan nasional yang lebih tepat sasaran, berkeadilan, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Sensus Ekonomi bukanlah kegiatan baru bagi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pertama kali menyelenggarakannya pada tahun 1986, sebagai upaya sistematis untuk memotret secara utuh kondisi perekonomian nasional. Sepuluh tahun kemudian, pada 1996, 2006, dan 2016, sensus ekonomi kembali digelar dengan cakupan dan metodologi yang terus disempurnakan. (https://rri.co.id/bukittinggi/regional/2179665/faq.html)

Kini, tahun 2026 menjadi siklus berikutnya dalam perjalanan panjang merekam denyut ekonomi Nusantara. Dari titik Kilometer Nol di Sabang—gerbang paling barat Indonesia para petugas sensus memulai perjalanan panjang mendata aktivitas ekonomi masyarakat. Warung kecil, usaha rumahan, hingga pelaku jasa lokal menjadi bagian penting dari potret besar ekonomi Indonesia. (https://rri.co.id/sabang/features/2435117/dari-nol-kilometer-indonesia-sensus-ekonomi-2026-memotret-negeri)

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dirancang dengan pendekatan yang adaptif dan inklusif. Terdapat dua metode pendataan yang berlangsung hampir bersamaan, untuk memastikan tidak ada satu pun pelaku usaha yang terlewat dari jangkauan sensus.

Pertama, pengisian kuesioner online dilaksanakan pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026. Perusahaan-perusahaan besar dan menengah akan menerima pemberitahuan melalui email atau WhatsApp untuk mengisi kuesioner secara mandiri. Metode ini memudahkan partisipasi, mengurangi kontak fisik, dan mempercepat proses entri data.

Kedua, pendataan lapangan secara door to door dijadwalkan berlangsung dari 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Pada periode ini, petugas sensus akan mendatangi langsung lokasi usaha untuk mewawancarai pemilik dan mengisi kuesioner bagi usaha yang belum terjangkau oleh metode online. Petugas yang datang dilengkapi dengan tanda pengenal resmi, rompi, dan surat tugas dari BPS. (https://sensus.bps.go.id/se2026/)

Sebelum pelaksanaan pendataan, BPS terlebih dahulu melakukan tahapan prelist—mendata atau menyusun daftar awal usaha maupun perusahaan yang ada di setiap wilayah. Tahapan ini menjadi fondasi agar proses pendataan di lapangan dapat berjalan lebih terstruktur dan efisien.

Sensus Ekonomi 2026 akan mencakup hampir seluruh lapangan usaha di Indonesia. Pendataan meliputi sektor pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, serta berbagai aktivitas jasa seperti jasa keuangan dan kesehatan.

Secara lebih rinci, terdapat 18 kategori lapangan usaha yang menjadi sasaran sensus: mulai dari pertanian, kehutanan, dan perikanan; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; pengadaan listrik dan gas; konstruksi; perdagangan besar dan eceran; transportasi dan pergudangan; akomodasi dan makan minum; informasi dan komunikasi; jasa keuangan dan asuransi; real estate; jasa perusahaan; administrasi pemerintahan; pendidikan; kesehatan dan kegiatan sosial; kesenian, hiburan, dan rekreasi; jasa lainnya; hingga kegiatan badan internasional dan ekstra internasional lainnya. (https://www.detik.com/bali/bisnis/d-8485295/pelaku-usaha-wajib-tahu-ini-jadwal-dan-mekanisme-sensus-ekonomi-2026)

Namun demikian, terdapat tiga sektor yang tidak termasuk dalam cakupan sensus ini, yakni Sektor Pertanian (dalam hal tertentu), Administrasi Pemerintahan, dan Aktivitas Rumah Tangga pemberi kerja. (https://rri.co.id/bukittinggi/regional/2179665/faq.html)

BPS menekankan bahwa Sensus Ekonomi merupakan instrumen paling esensial bagi negara untuk mendapatkan data empiris dan valid mengenai lanskap perekonomian serta industri nasional terkini.

Mengingat pesatnya dinamika ekonomi global dan domestik, pembaruan data berskala masif menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda.Data komprehensif yang diimpun melalui Sensus Ekonomi akan berperan ganda.

Pertama, sebagai bahan evaluasi terhadap efektivitas kebijakan ekonomi yang telah berjalan selama satu dekade terakhir. Kedua, sebagai pijakan utama pemerintah dalam memproyeksikan langkah-langkah strategis untuk mendongkrak daya saing perekonomian dan memajukan sektor industri dalam negeri secara terukur.BPS memastikan bahwa tingkat partisipasi pelaku usaha sangat menentukan kualitas kebijakan publik di masa depan.

Baca Juga:  All New Ertiga Siap Menyongsong Kendaraan Standar Euro 4

Ketersediaan data yang akurat akan mengeliminasi risiko ketidaktepatan sasaran dalam penyaluran bantuan maupun insentif pemerintah. Oleh sebab itu, seluruh pelaku usaha didorong untuk menyambut pelaksanaan SE2026 yang akan bergulir pada 1 Mei hingga 31 Agustus 2026 mendatang. (https://cilacapkab.bps.go.id/id/news/2026/04/13/504/sensus-ekonomi-2026-jadi-landasan-kebijakan-pembangunan-tepat-sasaran.html?utm_source=chatgpt.com).

Anggota Komisi X DPR RI Juliyatmono menegaskan bahwa negara saat ini tidak bisa berjalan tanpa data yang valid, sehingga hasil Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) harus diterima secara objektif dan tidak dimanipulasi persepsinya. Menurutnya, di era kebijakan berbasis data, hampir seluruh keputusan strategis pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, bersandar pada hasil pendataan resmi negara.

“Sekarang ini tidak bisa dibantah tanpa pengantar data. Semua keputusan itu berbasis data,” kata Juliyatmono dalam agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Kantor Walikota Surakarta, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (29/1/2026).

Ia pun mengingatkan, hasil sensus ekonomi yang dilakukan setiap 10 tahun sekali bukan sekadar statistik, tetapi menjadi fondasi utama dalam penyusunan kebijakan negara, mulai dari perencanaan pembangunan hingga penentuan arah anggaran. “Hasil sensus itu output-nya akan menjadi dasar penyusunan budget. Eksekusinya nanti banyak sekali dan menentukan banyak keputusan,” ujarnya.

Juliyatmono menilai, persoalan sensus bisa muncul jika hasilnya tidak diterima secara dewasa dan justru dipelintir menjadi persoalan persepsi. Sebab itu, ia memperingatkan, jika hasil sensus tidak objektif untuk menjadi rujukan utama, maka dampaknya bisa merembet ke berbagai kebijakan turunan, termasuk penanganan kemiskinan, pengendalian inflasi, hingga strategi pertumbuhan ekonomi daerah. (https://www.dpr.go.id/kegiatan-dpr/berita/Juliyatmono-Jangan-Mainkan-Persepsi-Hasil-Sensus-Ekonomi-2026-Bakal-Jadi-Dasar-Keputusan-Negara-62795)

Sensus Ekonomi 2026 sendiri akan menghasilkan data berbasis tiga pilar utama:

Pertama, Struktur Ekonomi, yang memetakan kondisi ekonomi berdasarkan kewilayahan hingga tingkat kabupaten/kota, skala usaha dari mikro hingga besar, serta lapangan usaha untuk melihat pergeseran struktur industri. Peta ini menjadi instrumen penting bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pembangunan ekonomi yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.

Kedua, Karakteristik Usaha, yang mencakup aspek permodalan dan investasi, kinerja dan daya saing, hingga kendala dan prospek usaha ke depan. Informasi ini sangat berharga tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi pelaku usaha itu sendiri untuk mengevaluasi dan mengembangkan bisnis mereka.

Ketiga, Ekonomi Digital dan Lingkungan, yang menjadi jawaban atas fenomena baru dalam lanskap ekonomi kontemporer. Di era ketika transaksi digital semakin mendominasi, sensus ini akan memotret secara khusus seberapa besar kontribusi ekonomi digital terhadap perekonomian nasional serta bagaimana aspek keberlanjutan lingkungan terintegrasi dalam aktivitas usaha (https://rri.co.id/bukittinggi/regional/2179665/faq.html#google_vignette)

Statistisi Madya BPS Sumatera Selatan, Intan Yudistri Pebrina, menambahkan bahwa hasil sensus memberikan gambaran akurat mengenai struktur usaha di Indonesia. Pemerintah dapat lebih mudah merancang pemerataan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif .(https://rri.co.id/palembang/regional/1779073/bps-minta-pelaku-usaha-dukung-sensus-ekonomi-2026)

Anggota Komisi X DPR RI Juliyatmono menegaskan bahwa negara saat ini tidak bisa berjalan tanpa data yang valid. Menurutnya, di era kebijakan berbasis data, hampir seluruh keputusan strategis pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, bersandar pada hasil pendataan resmi negara.

Ia memperingatkan bahwa hasil sensus ekonomi bukan sekadar statistik biasa. “Hasil sensus itu output-nya akan menjadi dasar penyusunan budget. Eksekusinya nanti banyak sekali dan menentukan banyak keputusan,” ujarnya. Jika hasil sensus tidak objektif untuk menjadi rujukan utama, dampaknya bisa merembet ke berbagai kebijakan turunan, termasuk penanganan kemiskinan, pengendalian inflasi, hingga strategi pertumbuhan ekonomi daerah. (https://jdih.dpr.go.id/berita/detail/id/62795/t/+Juliyatmono%3A+Jangan+Mainkan+Persepsi%2C+Hasil+Sensus+Ekonomi+2026+Bakal+Jadi+Dasar+Keputusan+Negara)

Peringatan  lain juga disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayati. Ia menegaskan bahwa data sensus tidak boleh dimanipulasi hanya demi membuat kondisi ekonomi terlihat baik di atas kertas. “Data ini harus akurat, harus valid sesuai fakta, jangan karena pesanan, jangan karena ingin membuat seolah-olah kita baik-baik saja, ini justru bahaya,” kata Esti. Menurutnya, data yang tidak sesuai fakta dapat membuat kebijakan pemerintah meleset dari kondisi riil masyarakat. (https://www.tvonenews.com/berita/nasional/440060-dpr-warning-bps-soal-sensus-ekonomi-2026-data-harus-valid-sesuai-fakta)

Baca Juga:  “Nyanyian Rawa” Hadirkan 4 Perupa Muda Di Palembang

Sedangkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan kontribusi sektor digital terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia dapat mencapai delapan persen, dengan target peningkatan menjadi 9-10 persen. Menurutnya, ekonomi digital menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Sektor e-dagang (e-commerce) menjadi kontributor utama ekonomi digital Indonesia, menyumbang sekitar 72 persen dari total nilai ekonomi digital nasional. Indonesia telah menjadi pasar digital terbesar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan potensi mencapai 600 miliar dolar AS pada tahun 2030.( https://ambon.antaranews.com/berita/281813/menko-airlangga-proyeksi-sektor-digital-sumbang-8-persen-terhadap-pdb_

Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Hilmi Adrianto, menyebutkan bahwa kontribusi ekonomi digital nasional telah mencapai sekitar 7,2 persen dari PDB Indonesia dengan pertumbuhan 14 persen. Ia menilai ekonomi digital menjadi kontributor utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. (https://rri.co.id/ekonomi/bisnis/2220622/privacy.html)

Namun demikian, tantangan besar masih membayangi. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menyoroti persoalan data UMKM yang hingga kini masih menjadi problematika di banyak daerah. Data pelaku UMKM antar organisasi perangkat daerah kerap berbeda sehingga menyulitkan proses pendampingan dan pengembangan usaha. “Kalau berbicara tentang data UMKM, datanya itu beda-beda. Kadang bedanya ekstrem,” kata Bima.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat pemerintah daerah kesulitan dalam menyusun langkah pembinaan yang tepat, mulai dari pendampingan perizinan hingga perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM. Oleh karena itu, kehadiran sistem basis data terintegrasi seperti SAPA UMKM menjadi langkah penting untuk menghadirkan data yang lebih akurat sekaligus memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan. (https://www.antaranews.com/berita/5577688/wamendagri-integrasi-data-umkm-perkuat-ekosistem-usaha?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=popular_right)

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa kunci visi besar Indonesia terletak pada kemampuan negara mengenali dan memberdayakan 57 juta pelaku usaha yang selama ini bekerja dalam “ruang gelap” data dan kebijakan. Dengan basis data yang akurat, pemerintah berharap bisa beralih dari kebijakan berbasis asumsi menuju kebijakan berbasis data. (https://umkm.go.id/berita/drjjmqvntl2mwb9g8pbkt995)

Persiapan Sensus Ekonomi 2026 bukanlah kerja tunggal BPS. Berbagai kementerian dan lembaga bersinergi untuk memperkuat pengumpulan data, terutama di kawasan strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri (KI). Kolaborasi antara BPS, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bertujuan mengatasi hambatan pengumpulan data di kawasan industri, membuka akses verifikasi lapangan, dan mengintegrasikan sistem statistik industri nasional.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan pentingnya peran BPS dalam perencanaan pembangunan nasional untuk menyajikan statistik akurat dan terpercaya sebagai fondasi utama mengukur keberhasilan pembangunan. “Tanpa statistik yang baik, tidak ada arah pembangunan yang jelas, dan hasilnya pun tidak bisa diukur dengan tepat. BPS harus menjadi garda terdepan dalam memastikan ketersediaan data yang berkualitas,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa Sensus Ekonomi 2026 menjadi tonggak penting untuk mendukung arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. “Statistik yang dihasilkan BPS adalah kunci untuk memastikan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (https://www.bappenas.go.id/index.php/id/berita/menteri-ppnkepala-bappenas-tekankan-pentingnya-peran-statistik-dalam-pembangunan-nasional-jblZ4)

Di berbagai daerah, BPS gencar melakukan sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan pelaku usaha. Kepala BPS Kota Cirebon, Samiran, mengatakan bahwa sosialisasi menjadi strategi utama agar masyarakat memahami pentingnya sensus ekonomi bagi pembangunan daerah. Dengan pemahaman yang baik, diharapkan masyarakat bersedia memberikan data secara benar dan lengkap. “Kami melakukan sosialisasi secara masif melalui berbagai media dan bekerja sama dengan pemerintah serta asosiasi usaha agar masyarakat mengetahui adanya kegiatan sensus dan bersedia berpartisipasi,” ujarnya.(https://rri.co.id/cirebon/regional/2354603/bps-cirebon-gencarkan-sosialisasi-tingkatkan-partisipasi-sensus-ekonomi)

Di Kabupaten Magelang, BPS menyelenggarakan sosialisasi khusus kepada pelaku usaha mikro dan kecil. Kepala BPS Kabupaten Magelang, Kus Haryono, mengajak seluruh pelaku usaha mikro dan kecil untuk berperan aktif dalam SE2026 dengan memberikan data yang benar dan lengkap. “Data tersebut akan sangat bermanfaat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang tepat guna mendukung pengembangan usaha,” ungkapnya. (https://magelangkab.bps.go.id/id/news/2026/04/14/413/sosialisasi-se2026-kepada-pelaku-usaha-mikro-dan-kecil.html)

Di lapangan, para petugas sensus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rumah dalam keadaan kosong karena pemilik sedang bekerja, penolakan dari sebagian masyarakat, hingga kondisi geografis yang berat dan keterbatasan jaringan internet di daerah terpencil. Namun, semangat para mitra statistik tetap menyala. “Walaupun menghadapi berbagai tantangan dan hambatan, hal itu tidak mengurangi semangat kami sebagai Mitra Statistik BPS dalam mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi,” ujar Cut Nur, Mitra Statistik BPS Sabang yang telah bergelut di dunia pendataan selama 10 tahun. (https://rri.co.id/sabang/features/2435117/dari-nol-kilometer-indonesia-sensus-ekonomi-2026-memotret-negeri)

Baca Juga:  8 Fasilitas Pemerintah Untuk Evakuasi Korban Asap

Pemilihan Sabang sebagai titik awal simbolis Sensus Ekonomi 2026 bukan tanpa makna. Dari Titik Nol Kilometer Indonesia, para petugas sensus memulai perjalanan panjang mendata aktivitas ekonomi masyarakat. Gerbang paling barat negeri ini menjadi simbol bagaimana Indonesia kembali “menghitung dirinya sendiri” untuk memahami denyut ekonomi yang terus bergerak.

Di Kota Sabang sendiri, BPS telah melaksanakan Sensus Ekonomi yang sebelumnya mencatat peningkatan jumlah usaha yang cukup signifikan. Hal ini membuktikan bahwa sensus bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan alat untuk mengungkap potensi ekonomi yang selama ini mungkin tersembunyi. (https://rri.co.id/sabang/features/2435117/dari-nol-kilometer-indonesia-sensus-ekonomi-2026-memotret-negeri)

Dari Sabang hingga Merauke, petugas sensus akan menyebar ke seluruh penjuru negeri. Di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, BPS menargetkan tersedianya data yang akurat dan komprehensif mengenai struktur ekonomi daerah. Data tersebut nantinya akan digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di Kabupaten Fakfak. (https://rri.co.id/sabang/features/2435117/dari-nol-kilometer-indonesia-sensus-ekonomi-2026-memotret-negeri)

Keberhasilan Sensus Ekonomi 2026 bukanlah tanggung jawab BPS semata. Ini adalah gerakan nasional yang membutuhkan partisipasi aktif seluruh komponen bangsa:

Bagi pelaku usaha, siapkan data usaha Anda dengan lengkap dan benar. Jawablah pertanyaan petugas sensus dengan jujur, karena data yang Anda berikan akan menjadi dasar kebijakan yang suatu saat mungkin menyentuh langsung usaha Anda sendiri. Jangan khawatir seluruh informasi yang diberikan dijamin kerahasiaannya oleh undang-undang statistik dan hanya digunakan untuk kepentingan pembangunan.

Bagi pemerintah daerah, fasilitasi kelancaran proses pendataan, sediakan data penunjang yang dibutuhkan, dan dorong partisipasi warga di wilayah Anda masing-masing. Dukungan penuh dari Organisasi Perangkat Daerah menjadi faktor penentu keberhasilan sensus di tingkat lokal.

Bagi masyarakat umum, sambutlah petugas sensus dengan ramah, bantu mereka menunjukkan lokasi usaha di sekitar Anda, dan sebarluaskan informasi pentingnya sensus ini di lingkungan masing-masing. (https://rri.co.id/aceh-singkil/regional/2051107/bps-subulussalam-ajak-opd-sukseskan-sensus-ekonomi-2026)

Sensus Ekonomi 2026 juga diharapkan mampu menjawab berbagai isu strategis dalam perkembangan ekonomi nasional. Di antaranya adalah penyusunan peta perekonomian wilayah yang lebih akurat, identifikasi persoalan nyata yang dihadapi dunia usaha, serta pengukuran daya saing sektor bisnis.

Sensus Ekonomi 2026 bukanlah sekadar proyek statistik lima tahunan. Ia adalah fondasi bagi perjalanan Indonesia menuju visi besarnya: Indonesia Emas 2045. Di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, data yang dihasilkan sensus ini akan menjadi panglima yang menentukan arah kebijakan untuk satu dekade ke depan.

Anggota Komisi X DPR RI Karmila Sari menekankan pentingnya Sensus Ekonomi 2026 sebagai instrumen strategis dalam membaca kondisi riil perekonomian nasional, sekaligus menjadi dasar perumusan kebijakan pemerintah, termasuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai sensus ekonomi yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali merupakan momentum penting yang tidak hanya merekam perkembangan ekonomi nasional sejak 2016, tetapi juga menjadi indikator awal arah kebijakan pemerintahan. (https://emedia.dpr.go.id/news/2026/01/30/kawal-sensus-ekonomi-2026-fondasi-kebijakan-nasional)

 

Penutup

Di tengah pusaran rutinitas harian mengelola warung, menjalankan pabrik, mengembangkan startup digital—kita mungkin jarang menyadari bahwa satu angka yang kita berikan kepada petugas sensus bisa mengubah nasib ribuan orang di masa depan.

Sensus Ekonomi 2026 adalah panggilan bagi kita semua untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam catatan usaha kita, dan berkontribusi pada gambaran besar Indonesia. Bukan karena kita diminta, melainkan karena kita sadar bahwa  Indonesia maju dimulai dari data yang jujur, fondasi yang kokoh, dan partisipasi yang tulus dari setiap anak bangsa.

Setiap usaha yang didata, setiap kuesioner yang diisi, setiap pertanyaan yang dijawab dengan lengkap adalah satu bata yang kita sumbangkan untuk membangun fondasi ekonomi nasional yang kokoh. Di sela kesibukan berdagang, memproduksi, dan berinovasi, mari luangkan waktu sejenak untuk menyambut petugas sensus dan memberikan data Anda.

Dari titik nol Sabang hingga ujung timur Merauke, dari usaha mikro pinggiran kota hingga korporasi raksasa di pusat bisnis—semua bersatu dalam satu gerakan: mencatat Indonesia, membangun negeri.#udi

 

Komentar Anda
Loading...