Napak Tilas Sido Ing Rejek Oleh Komunitas Koboi Diapresiasi Sultan Palembang

153

Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-78 tanggal 17 Agustus 2023 , 7 orang dari Komunitas Sosial Berkuda Ogan Ilir  (Koboi) menggelar  napak tilas perjuangan  Pangeran Sido Ing Rejek ,  Berkuda Indralaya-Palembang  16 sampai 17 Agustus 2023. yang kuburannya berada di Desa Saka Tiga, OI yang dimulai dari Rabu (16/8) dan sampai ke Palembang , Kamis (17/8) dan berakhir di Komplek Pemakaman  Candi Welan (komplek pemakaman Susuhunan Kholifatul Mukminin Sayyidul Iman)  yang merupakan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam dan juga adik dari Sidoing Rejek) yang  beralamat di jalan Candi Welan kelurahan 22 Ilir, Kecamatan Ilir Barat 1. (Belakang Pasar Cinde) Palembang.(BP/udi)

Palembang, BP- Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-78 tanggal 17 Agustus 2023 , 7 orang dari Komunitas Sosial Berkuda Ogan Ilir  (Koboi) menggelar  napak tilas perjuangan  Pangeran Sido Ing Rejek ,  Berkuda Indralaya-Palembang  16 sampai 17 Agustus 2023. yang kuburannya berada di Desa Saka Tiga, OI yang dimulai dari Rabu (16/8) dan sampai ke Palembang , Kamis (17/8) dan berakhir di Komplek Pemakaman  Candi Welan (komplek pemakaman Susuhunan Kholifatul Mukminin Sayyidul Iman)  yang merupakan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam dan juga adik dari Sidoing Rejek) yang  beralamat di jalan Candi Welan kelurahan 22 Ilir, Kecamatan Ilir Barat 1. (Belakang Pasar Cinde) Palembang.(BP/udi)

 

 

Dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-78 tanggal 17 Agustus 2023 , 7 orang dari Komunitas Sosial Berkuda Ogan Ilir  (Koboi) menggelar  napak tilas perjuangan  Pangeran Sido Ing Rejek ,  Berkuda Indralaya-Palembang  16 sampai 17 Agustus 2023. yang kuburannya berada di Desa Saka Tiga, OI yang dimulai dari Rabu (16/8) dan sampai ke Palembang , Kamis (17/8) dan berakhir di Komplek Pemakaman  Candi Welan (komplek pemakaman Susuhunan Kholifatul Mukminin Sayyidul Iman)  yang merupakan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam dan juga adik dari Sidoing Rejek) yang  beralamat di jalan Candi Welan kelurahan 22 Ilir, Kecamatan Ilir Barat 1. (Belakang Pasar Cinde) Palembang.

Baca Juga:  Pekerjaan Jalan dan Jembatan Pulokerto- Sungai Rengas Selesai 100 Persen

Mereka datang ke Palembang ini dengan menaiki seekor kuda jenis sandel (lokal) yang diberi nama Saka oleh Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn secara bergantian ke Palembang.

Dan disambut oleh  Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn, didampingi Dato’ Pangeran Suryo Ari Panji, R.M.Rasyid Tohir,S.H Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, Pangeran Suryo Febri Irwansyah (Vebri Al Lintani) , budayawan  Palembang Heri Mastari dan Ali Goik, isnayanti dan Wahyudi  serta konten creator (Youtuber)  Palembang Mang Dayat di halaman komplek pemakaman Susuhunan Kholifatul Mukminin Sayyidul Iman .

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama R.M.Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn mengapresiasi atas kedatangan Komunitas Sosial Berkuda Ogan Ilir  (Koboi) tersebut.

“Dengan napak tilas  Sido Ing Rejek, mereka dari Saka Tiga ke Palembang untuk melakukan napak tilas yang ini merupakan kegiatan kreatif yang  kedepan bisa lebih besar lagi, bisa mengikutkan beberapa komunitas karena acara seperti ini sangat baik untuk generasi muda mengetahui  diri kita dan mereka bisa tahu sejarah  Palembang bukan adanya Kesultanan juga ada Kerajaan juga  dimana Sido Ing Rejek merupakan raja Kerajaan Palembang yang melawan VOC tahun 1659 sehingga beliau  pindah ke Saka Tiga,” kata SMB IV.

Baca Juga:  Jangan Setiap Kali Pembahasan Mundur, DPRD Sumsel Disalahkan

“ Ada orang 7 tapi kudanya satu tapi raidernya kita gentian , ada yang pakai motor  tim logistik dan tim medis,” kata Penggagas Koboi Muhammad Adi Saputra.

Pada intinya sejarah yang kami terima  disana kurang utuh  makanya kita ingin menggali  dari titik ketitik tadi  napak tilas.

“Kebetulan di daerah kami , makam beliau almarhum kemudian kita penasaran menggali titik awalnya tadi, alhamdulilah  niat kita tersampaikan dengan bertemu zuriat dari Kesultanan Palembang ,” katanya.

Pentingnya menggali sejarah ini menurutnya kembali untuk nasionalisme terutama bagi generasi penerus.

“ Negara ini berdiri berkat perjuangan  yang tidak mudah dari para pahlawan pahlawan  para raja-raja dan Sultan-Sultan tadi sehingga kalau mereka sadar asal muasal negara ini kita mungkin punya semangat belajar kalau mereka sebagai pelajar, ketika mereka duduk di pemerintahan punya semangat membangun dan mentalitasnya berdasarkan patriotik,” katanya.

Kedepan menurutnya kegiatan akan dibuat lebih baik lagi.

“ Kami tidak terbanyak bakal disambut seperti ini , ini luar biasa , kami pikir kami jalan  dan finish disini lalu pulang, alhamdulilah mungkin berangkat dari niat baik  tadi, keberkaa bisa bertemu dengan zuriat dan lain sebagainya,” katanya.

Sebelumnya Susuhunan Abdurrahman (1659-1704), adalah Sultan Palembang pertama antara tahun 1659-1704. Ia adalah putra Pangeran Seda ing Pasarean dan Ratu Mas Amangkurat. Ia berkuasa di Palembang setelah mengusir pendudukan VOC menggantikan kakaknya Pangeran Sedo ing Rejek.

Baca Juga:  4 Kabupaten di Sumsel Belum Miliki Gardu Induk

Ibunya bernama Masayu Adi Wijaya Ratu Mas Mangkurat binti Kemas Panji Wira Singa bin Ki.Tumenggung Banyu bin Ki.Gede Ing Mempelam bin Ki.Gede Ing Sungi Surabaya. Ia dilahirkan sekitar tahun 1630 di lingkungan Keraton Kuto Gawang Palembang Lamo (1 ilir), dan merupakan putera ke 4 dari 13 bersaudara. Saudaranya yang tertua ialah Pangeran Ratu Sido Ing Rajek yang menjadi raja menggantikan ayahnya dan wafat di Indra Laya.

Pendidikan awalnya didapat dari ayahnya sendiri, dan berguru kepada ulama-ulama besar pada waktu itu di antaranya: Sayid Mustofa Assegaf bin Sayid Ahmad Kiayi Pati, Kemas M.Asyik bin Kemas Ahmad, Sayid Syarif Ismail Jamalullail dan lain-lain.

Pada tahun 1659, ia menggantikan kakaknya menjadi raja. Kemudian pada tahun 1666, ia memproklamirkan kerajaan Palembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam setelah mendapat legalitas dari Kesultanan Turki Usmani, dan ia sendiri diangkat menjadi Sultan Abdurrahman yang pemerintahannya berdasarkan Islam, berpedoman kepada al-Qur’an dan Hadits.

Karena Keraton Kuto Gawang musnah terbakar akibat perang melawan Belanda pada tahun 1659, kemudian ia mendirikan keraton baru dan masjid di Beringin Janggut (antara 17 ilir dan 20 ilir), sekarang terkenal dengan kawasan Masjid Lama.#udi

 

 

Komentar Anda
Loading...