Bincang Sastra ‘Mencari Dammahum di Lubuklinggau’ Hadirkan Keragaman Pandangan Sastra Indonesia

88

LUBUKLINGGAU, BP – Benny Institute dan Majelis Lingkaran mengadakan acara bincang sastra bertajuk “Mencari Dammahum di Lubuklinggau.” Berlangsung pada 6 Agustus 2023, pukul 13.30-15.30, di Lobi Benny Institute, Lubuklinggau, bincang sastra ini merupakan wujud apresiasi terhadap karya sastra buku ke-30 Benny Arnas yang berjudul “Dammahum,” yang diterbitkan Diva Press. Buku tersebut berisi 14 cerpen yang telah dimuat di media-media nasional Indonesia.

Acara yang dipandu dengan apik oleh Andini sebagai Pembawa Acara ini dihadiri peserta dan pembicara dari Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh makna. Dengan Wendy Fermana sebagai moderator, acara ini menjadi ruang diskusi yang produktif dengan adanya 10 pembicara yang memberikan wawasan dan pandangan yang berbeda-beda terhadap karya sastra yang telah dihadirkan.

Baca Juga:  Resepsi Satu Abad NU  Akan di Gelar

Para pembicara yang menghiasi acara ini adalah tokoh-tokoh sastra yang telah terkenal di Lubuklinggau dan sekitarnya, yaitu:i Endang Puspitasari, Nurul Hasanah, Heli Kusuma, Aris Nupan, Tampubolon Suvardi, Tegi Bayuni, Inung Linggau, Leli Permatasari, Elpi Aridae, dan Septi Wahyuni. Setiap pembicara memberikan sudut pandang yang beragam dan mendalam selama proses pembacaan dan pembahasan karya dalam buku “Dammahum.”
Buku ini menjadi bahan diskusi yang menarik karena mengandung 14 cerpen dengan judul, di antaranya:
1. “Menjadi Mercusuar” (Jawa Pos, 3 Januari 2022)
2. “Parang Patah” (Jawa Pos, 19 Juli 2020)
3. “Mungkin Raqib Tak Henti Tertawa” (basabasi.co, 23 April 2021)
4. “Cahaya akan Mengambang di Hunza” (Jawa Pos, 18 Juli 2021)
5. “Lebaran Haji Neknang” (Kompas, 18 Juli 2021)
6. “Panggung Paramitha Rusady” (basabasi.co, 6 Agustus 2021)
7. “Ganja Putih dan Ceri Ungu untuk Kiai” (Koran Tempo, 27 Juli 2021)
8. “Saudara yang Sempurna” (Media Indonesia, 27 September 2020)
9. “Yang Sepia, Pernah Sepia” (Media Indonesia, 18 Juli 2021)
10. “Visa Januari” (basabasi.co, 21 Januari 2022)
11. “Yang Salju, Yang Omar” (Republika, 12 Desember 2021)
12. “Nabi Yusuf di Kapadokia” (Koran Tempo, 8 Mei 2022)
13. “Di Ruang Tamu, Hanya Aku dan Van Houten” (Kompas, 20 Desember 2020)
14. “Naraščajoča” (Jawa Pos, 13 Februari 2022)

Baca Juga:  Anton Nurdin Merapat Ke PDI Perjuangan 

Setiap cerpen di dalam buku ini telah memperkaya panorama sastra Indonesia dengan pengalaman hidup, pemikiran, dan perasaan yang diolah secara apik oleh Bang Benny Arnas. Acara bincang sastra ini menjadi wadah bagi para pembicara dan peserta untuk mendiskusikan berbagai aspek dari karya-karya tersebut, mulai dari gaya penulisan, tema, hingga pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Baca Juga:  Fajri Romadhon Sebut Siapapun Boleh Gantikan Dirinya! Tapi Taat Prosedur dan Administrasi

“Acara ini mengingatkan kita semua tentang pentingnya sastra dalam memahami kehidupan dan menyampaikan pesan-pesan yang mendalam. Karya-karya Bang Benny Arnas dalam buku ‘Dammahum’ adalah refleksi yang indah tentang keberagaman dan kompleksitas manusia serta masyarakat,” ujar salah satu peserta acara.

Dengan dukungan dari Benny Institute dan Majelis Lingkaran, acara “Mencari Dammahum di Lubuklinggau” telah berhasil memberikan ruang bagi diskusi sastra yang berharga dan menginspirasi bagi masyarakat Lubuklinggau dan sekitarnya. Semoga kegiatan semacam ini terus berlanjut untuk mendukung perkembangan sastra Indonesia yang semakin beragam dan bermakna. #

Komentar Anda
Loading...