PALEMBANG, BP – Kontestasi pemilihan walikota Palembang 2024 mendatang bakal diramaikan calon-calon walikota dari jalur independen. Munculnya calon-calon independen ini salah satunya karena kekecewaan pada pemerintah yang dianggap belum maksimal memimpin kota. Calon-calon independen siap bertarung melawan calon-calon dari usungan partai politik (parpol).
Demikian terungkap dalam dua diskusi yang digelar BeritaPagi, pertama bertajuk ‘Siapkan Aktivis Jadi Kepala Daerah’ pada Senin (26/12/2012) dan diskusi kedua bertema ‘Mencari Sosok Ideal Walikota Palembang 2024-2029’, Sabtu (31/12). Kedua diskusi digelar di Kantor BeritaPagi. Dua nama yang sudah muncul dan mendeklarasikan diri saat ini adalah Yan Hariranto SPd (Yan Coga) dan Charma Afrianto SE.
Salah satu calon independen, Yan Coga, menyatakan siap dan serius mencalonkan diri lewat jalur independen dan bersaing dengan calon yang lain termasuk dari partai politik. Motivasi kuatnya mencalonkan diri karena melihat apa yang disampaikan rata-rata calon walikota sebelumnya tidak sesuai dengan apa yang terlaksana.
“Saya pernah terlibat tim pemenangan walikota, dan ternyata banyak yang tidak komitmen dan tidak sesuai. Apa yang dikatakan saat janji kampanye lain yang dilakukan setelah jadi,” kata Yan.
Ia juga melihat UMKM di Palembang saat ini memang butuh perhatian lebih, mulai dari pengembangan usaha, modal dan lainnya, sehingga selain program penanganan permasalahan umum yang dirasa masyarakat, program utamanya saat menjadi walikota Palembang adalah sektor UMKM.
“Hal-hal inilah yang membuat saya termotivasi maju di Kota Palembang,” katanya.
Yan juga punya keinginan membuat rumah rakyat di rumah dinas Walikota di Jalan Tasik, sehingga masyarakat umum dapat menyampaikan keluhan dan keinginannya langsung dengan walikota. Karena berdasarkan pengalamannya, menemui kepala daerah sangat sulit.
“Pernah saya mau bertemu dengan Wakil Gubernur, butuh beberapa kali datang baru bisa bertemu. Saat saya terpilih jadi walikota, saya tidak akan seperti mereka. Saat warga menginginkan sesuatu akan diberi, jika memungkinkan akan memberikan lebih, agar masyarakat lebih sejahtera,” ujarnya.
Ia juga kecewa dengan fakta saat ini, Palembang seperti tidak punya Walikota dan ibarat negeri tak bertuan, Palembang juga tidak seperti kota metropolitan; LRT terbengkalai tidak dimanfaatkan, halte bus rusak.
“Saya termotivasi maju. Kalau tidak hancur Palembang. Saya ingin mengembalikan kejayaan Sriwijaya, jangan sampai Palembang menjadi negeri tak bertuan,” katanya.
Ia mengaku, persoalan lain yang harus dibenahi di Palembang yakni kinerja pelayanan publik seperti catatan sipil, pelayanan pendidikan, dan seluruh pelayanan instansi yang terkesan lambat, salah satu contohnya pembuatan IMB yang lambat. Lalu, bidang pendidikan masih banyak sekolah rusak yang saat dilaporkan baru diperbaiki setelah berbulan-bulan kemudian yang seharusnya bisa lebih cepat.
Yan juga geregetan dengan masalah banjir Palembang, dan akan memanggil ahli untuk menyelesaikan masalah banjir Palembang jika menjadi walikota nanti. Kemudian, Yan akan memaksimalkan pariwisata di Palembang agar menjadi wisata sungai seperti di Eropa.
“Saya sudah memiliki strategi dalam kontestasi nanti, dan itu saya sudah pelajari sejak saya menjadi tim sukses, saat di partai dan saat menjadi penyelenggara pemilu, dan tentunya sudah menyiapkan celengan (dana – red),” ujarnya.
Sementara itu, calon independen lainnya, Charma Afrianto, SE, yang merupakan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gencar mengaku telah mengantongi 34 ribu dukungan untuk pencalonannya di 2024.
Charma dengan tegas menyatakan siap dan sangat optimistis dapat bersaing dengan tiga nama calon walikota yang sudah muncul sebelumnya yakni Fitri Agustinda, Ratu Dewa, dan Nasrun Umar.
“Artinya ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Tapi kalau sudah menyerah duluan, yah sudah pasti gagal,” ucapnya.
Ia mengaku, sebagai calon yang bakal maju lewat jalur independen, saat ini suara dukungan berupa KTP warga Palembang sudah terkumpul banyak dan akan terus bertambah.
“Sekarang kita targetkan 10 dukungan dalam bentuk KTP tiap kelurahan,” kata Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Muda ini.
Dengan dukungan dari warga yang terus berdatangan saat ini, target 100.000 KTP dipastikan akan terkumpul dalam waktu yang sangat singkat.
“Bahkan kami perkirakan nanti akan terkumpul 220.000 KTP saat masuk Pemilu,” ucapnya.
Ratusan ribu dukungan ini diyakini Charma benar-benar akan memilihnya pada Pemilihan Walikota Kota Palembang pada 2024 mendatang. Karena selama ini dirinya selalu berada di tengah-tengah masyarakat.
“Kami bukan hadir saat pemilihan saja. Kami atau saya selalu berada di tengah-tengah masyarakat membantu warga Palembang,” ucap Charma.
Salah satu alasannya menjadi walikota juga berangkat dari masalah yang ditemukannya di lapangan yakni bidang kesehatan dan pendidikan, Charma menemukan masyarakat yang kesulitan untuk akses kesehatan dan kebutuhan sekolah.
Jika menjadi walikota Palembang, Charma sudah memiliki banyak program yang akan diusungnya, seperti program kesehatan, pendidikan dan juga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini memang sudah dilakukannya seperti memberikan bantuan kepada anak-anak sekolah di Palembang dan lainnya.
“Kami sudah berjuang membantu masyarakat dalam bidang kesehatan, dengan mendampingi pasien untuk berobat saat terbentur, lalu berjuang bagaimana warga mendapatkan beras di tengah ekonomi sulit. Hasilnya, 170 ton beras telah dibagikan buat warga yang membutuhkan dan lainnya,” ucapnya.
Ia mengaku gencar turun mencari solusi apa yang menjadi masalah masyarakat . “Insya Allah apa yang kami lakukan telah dirasakan masyarakat,” Charma menuturkan.
Menurutnya, untuk memenangkan pemilihan Walikota Palembang 2024 nanti, modal memang dibutuhkan tapi bukan syarat mutlak.
“Jadi buat maju sebagai calon walikota Palembang kekuatan modal atau uang bukan syarat mutlak. Kalau cuma modal kuat, kita tahu siapa yang kaya di Palembang ini, tapi tidak jadi Walikota kan. Jadi itu bukan syarat mutlak,” ucapnya.
Kendati punya semangat yang tinggi untuk berbuat untuk masyarakat, semua itu akan kembali kepada pemilih atau warga Palembang. Apakah memilih calon yang dengan modal dan berada di antara warga saat pencalonan, atau memilih calon yang selama ini ada di tengah masyarakat dengan modal seadanya namun murni sebab ingin bantu warga. #riz/gus