Pemilih Mengambang Capai 20 Persen Jadi Rebutan

64

PALEMBANG, BP – Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tren elektabilitas partai-partai non parlemen, yang akan berkompetisi di pemilihan umum (pemilu) 2024 mendatang cenderung menurun.

Sebanyak 20 persen jumlah pemilih mengambang belum memutuskan pilihannya saat ini bisa menjadi rebutan partai yang memiliki elektabilitas rendah.

Demikian diungkapkan Direktur Riset SMRC, Deni Irvani dalam presentasi hasil survei nasional SMRC di kanal YouTube SMRC dengan unggahan video berjudul Trend Elektabilitas Partai: Temuan Survei Desember, Minggu (18/12/2022).

Deni mengungkapkan dari survei SMRC pada 3-11Desember 2022 dengan sampel acak, dari pemilih berusia 17 tahun ke atas atausudah menikah ketika survei di lakukan, dengan 1.029 responden dan margin of error kurang lebih 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95
persen.

SMRC mengajukan pertanyaan jika pemilihan anggota DPR diadakan sekarang, partai atau calon dari partai mana yang akan dipilih ? maka dengan jawaban semi terbuka, PDIP mendapat dukungan terbesar 24,1 persen, disusul Golkar 9,4 persen,Gerindra 8,9 persen, Demokrat 8,9 persen, PKS 6,2 persen, PKB 6,1 persen, Perindo4,6 persen, Nasdem 3,2 persen, PPP 2,9 persen, dan PAN1,7 persen, sementara partai partai lain di bawah satu persen dan yang belum tahu 20,9 persen.

Baca Juga:  Tim Advokasi HDCU Laporkan Kepala Desa ke Bawaslu Sumsel 

Ia mengungkapkan, untuk tren elektabilitas partai-partai non parlemen pada hasil survei di Desember 2022 ini dibanding pemilu 2019 lalu
cenderung menurun dari 9,7 persen di 2019 menjadi 7,7persen di Desember 2022.Namun jika diabaikan hasil pemilu 2019 ada  kecendrungan partai non parlemen itu menguat, jika dihitung dari survei Maret 2020 sebesar 3,4 persen dan sekarang di 7,7 persen ada kenaikan 4,3 persen, yang diantaranya disumbang Partai Perindo yang biasanya di angka dua persen sekarang mendapat empat persen lebih.

“Untuk undecided voters pemilih mengambang yang belum memutuskan, dalam Maret 2020 ke Desember 2022 jumlahnya cukup stabil dari 21,9 persen menjadi 20,9 persen, tidak banyak perubahan,” kata dia. Menurutnya, sebanyak 20 persen undecided voters ini masih wait and see (menunggu) yang biasanya jumlah ini cenderung berkurang saat masuk masa kampanye resmi tahun depan, pemilih mengambang ini dapat mengubah elektabilitas partai politik.

“Ini massa yang sangat besar satu per lima jumlah pemilih yang sangat besar, kalau blok ke salah satu partai saja sudah bisa menjadi pemenang pemilu, tapi saya rasa tidak begitu,” ucap dia. Artinya partai-partai yang elektabilitasnya yang tidak sampai empat persen masih ada harapan untuk menaikkan elektabilitasnya, tergantung apakah partai-partai tersebut bisa menarik atau tidak pemilih yang mengambang ini?. “Inikan pasar bebas, bagi siapa saja partai yang punya program yang lebih meyakinkan dimata pemilih pasti akan menjadi pertimbangan pemilih untuk memilih partai tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD Pali Ini Minta Diknas Buat Digitalisasi Di Sekolah

Untuk tren elektabilitas pilihan partai parlemen, dibanding hasil pemilu 2019 lalu dukungan kepada PDIP naik 19,3 persen menjadi 24,1 persen, sementara Golkar menurun dari 12,3 persen menjadi 9,4 persen, Gerindra juga cenderung menurun dari 12,6 persen menjadi 8,9 persen.

“Kalau tidak ada kesalahan dalam langkah politik ke depan, ada peluang PDIP kemali memenangkan pemilu 2024 nanti,” kata Deni. Untuk Demokrat, dibanding 2019 lalu suara Demokrat sedikit naik dari 7,8 persen menjadi 8,9 persen, sementara PKB dan PKS cednerung menurun.

“Perlu kajian apa yang menyebabkan PKBmengalami penurunan, memang ada penurunan di Agustus 9,5 persen di Desember 6,3 persen,” ujarnya. Ia melihat, Demokrat dalam dua survei terakhir mengalami kemajuan pada Desember yakni 8,9 persen, ada sedikit naik disaat partai lain cenderung menurun. “Demokrat mirip PDIP ada kemajuan, bisa lebih baik,” ucap dia.

Baca Juga:  Holda Berharap Bisa Dapat Dukungan PAN , Maju di Pilgub Sumsel

Untuk Nasdem dibanding hasil pemilu 2019 lalu, Nasdem PPP dan PAN cenderung menurun, setelah momentum deklarasi calon Presiden dampak tidak ada sesuatu signifikan dan menurun hingga 3,2 persen di Desember 2022. Sementara itu, Manajer Program SMRC, Saidiman
Ahmad menambahkan, jika pemilu diadakan sekarang maka PDIP masih mendapatkan dukungan terbesar dan diurutan kedua ada Golkar,
Gerindra dan Demokrat yang suaranya hampir sama tidak berbeda signifikan.

“Posisi kedua diperebutkan partaipartai itu, sementara partai lain di bawah itu,” kata Saidiman. Menurutnya, dibanding dengan hasil pemilu 2019, hanya PDIP mendapatkan kenaikan suara yang signifikan dibanding hasil pemilu 2019, dari 19.3 persen menjadi 24,1 persen, lalu Demokrat relatif stabil cenderung naik 7,8 persen menjadi 8,9 persen.

Selebihnya partai lain yang di parlemen sekarang, dukungan publiknya lebih rendah dari yang mereka peroleh di pemilu 2019, kemudian
partai baru non parlemen yang elektabilitas cukup menonjol pada survei kali ini adalah Perindo yang mendapatkan suara 4,6 persen, mengalahkan partai parlemen sekarang. “Partai non parlemen di luar Perindo elektabilitasnya masih di bawah satu persen,” ucap dia.#gus

Komentar Anda
Loading...