Menyantap Pindang di Atas Gelombang Sungai Musi
PALEMBANG, BP- Makan pindang mungkin hal biasa untuk warga Palembang. Tetapi, makan pindang di atas air bergelombang Sungai Musi sungguh memiliki sensasi yang berbeda. SENSASI itu akan ditemukan bila berkunjung ke kawasan pinggiran Sungai Musi, tepatnya di dermaga Jembatan Ampera, Palembang. Di sana beberapa perahu berbaris seperti rumah yang mengapung. Deretan perahu itu merupakan rumah makan terapung. Rumah makan terapung telah mendapat izin resmi dari Dinas Perhubungan Palembang Menu yang ditawarkan adalah makanan khas Palembang seperti pindang ikan. Sensasi terasa saat menyantap pindang
di atas air bergelombang sambil menikmati panorama Sungai Musi dan Jembatan Ampera.
Siang itu di rumah makan terapung Mbok War, satudari belasan warung terapung di dermaga, lidah bergoyang seiring perahu yang bergoyang disapu ombak ringan Sungai Musi.
RM Mbok War mulai buka pukul pukul 7 pagi hingga 3 sore. Lokasinya tidak jauh dari Pasar 16 Ilir Palembang.
Ada beberapa menu khas Palembang yang disajikan, di antaranya pindang ikan gabus, ikan baung, dan ikan patin.Bahkan jika di akhir pekan RM Mbok War menyajikan menu spesialnya yaitu pindang ikan tapah.
Harga pindang itu sama dengan rumah makan yang ada di daratan, berkisar dari Rp15-30 ribu per porsi pindang berikut nasi dan air minum. Bagi yang tidak suka pindang, di sana ada menu lain seperti ayam atau ikan goreng. “Selain menu makanan Palembang, pindang ikan gabus, baung, patin, kalau di hari libur kita ada menu sepesial yaitu pindang ikan tapah,” ungkap pemilik RM Mbok War, Wiwid (39), dalam obrolan santai dengan detiksumut, Kamis.
Usaha kuliner terapung ini sudah berdiri sejak 37 tahun silam tepatnya di tahun 1985. Menurut Wiwid, sejak usahanya berdiri tidak sedikit wisatawan luar daerah yang berkunjung dan mencicipi kuliner yang ia hidangkan.
Dia mengaku, usaha ini hasil keringat orangtuanya. “Sekitar tahun 2015 kemarin, saya meneruskan usaha ini. Sejak dibuka hingga sekarang, sudah tak terhitung wisatawan yang berkunjung ke sini menikmati sensasi makan di rumah makan terapung kami,” katanya.
Sejak pandemi Covid-19, Wiwid mengaku, omzet usahanya sempat menurun drastis. Dari biasanya Rp6-7 juta per hari menjadi Rp 4 juta per hari. Dengan omzet tersebut dia bertahan dan berbagi penghasilan dengan tujuh orang karyawannya.
“Bayangin aja karyawan kami ada tujuh orang. Alhamdulillah masih bisa bertahan sampai sekarang. Ini udah mulai mau normal lagi,”imbuh Wiwid.
Wiwid pun mengaku, bukan karena niat keluarganya untuk membuat kuliner terapung, melainkan di lokasi awal keluarga berjualan digusur pemerintah untuk dijadikan dermaga. “Jadi awalnya itu keluarga kami jualannya di darat bawah Ampera, nah waktu ada penggusuran pembangunan dermaga jadi kami dialihkan untuk berjualan di terapung ini.
Ya, awalnya memang ada unsur keterpaksaan tapi seiring berjalannya waktu rumah makan terapung kami justru lebih menjadi pilihan warga sekitar maupun wisatawan,” terangnya.
Dana Yunisara, salah seorang pengunjung mengaku
datang ke rumah makan terapung bersama keluarganya. Dia memilih lokasi tersebut karena ada sensasi makan sambil digoyang ombak, itu tidak bisa didapat dari tempat
makan lain.
“Kami satu keluarga kalau ke pasar 16 pasti makan di sini, karena di sini makannya enak bisa menikmati sensasi perahu yang goyang, melihat Sungai Musi dan Jembatan Ampera secara langsung,” kata Yuni.
“Dalam satu bulan, bisa satu atau dua kali kami ke sini. Harganya juga murah, tidak mahal jadi sesuai isi kantong. Rasanya menu yang disajikan juga enak. Rekomendasi lah buat para wisatawan yang mau berkunjung,” tutur warga asli Palembang tersebut. #ihd