HUT Kota Palembang Tanggal 17 Juni Dianggap Keliru dan Ngawur

237
Diskusi Serius Bertema (RE) Aktualisasi Jatidiri dan Nilai-nilai Keluhuran Sumatera Selatan yang di selenggarakan oleh Universitas Sriwijaya Fakultas Fisip, di Hotel Swarna Dwipa, Minggu (19/6).(BP/ Dudy Oskandar)

Palembang, BP –Sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri)  Dr Dedi Irwanto MA menganggap penetapan Hari Ulang Tahun (HUT) kota Palembang di tanggal 17 Juni dinilainya keliru dan  betul-betul ngawur.

“ Memang betul itu dibentuk awalnya oleh tim perumus dan tim perumus merumuskan ada empat opsi yang dipilih , jadi kemudian yang dipilih adalah opsi  nomor 1 dan, dan  dalam perumusan  tanggal 16 Juni sudah di sepakati bersama , bahkan ketika ketika ada rapat akbar di rumah Bari dan menghadirkan sejarawan Unsri  Makmun Abdullah, beliau mengatakan HUT Kota Palembang tanggal  16 Juni ,” katanya saat menjadi narasumber Diskusi Serius Bertema (RE) Aktualisasi Jatidiri dan Nilai-nilai Keluhuran Sumatera Selatan yang di selenggarakan oleh Universitas Sriwijaya Fakultas Fisip, di Hotel Swarna Dwipa, Minggu (19/6).

Diskusi tersebut menghadirkan moderator Dr M Husni Thamrin M Si, juga  hadir diantaranya Dekan Fisin Unsri Prof Dr Alfitri M Si, Bupati Pali Heri Amalindo, Ketua DPRD Palembang Zainal Abidin, Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel Mgs Syaiful Padli, pimpinan Bawaslu Sumsel Junaidi SE,  anggota KPU Sumsel Hendri Almawijaya MPd , Sekretaris DPD Partai Golkar Sumsel Herpanto, pengamat politik Sumsel Bagindo Togar BB dan para undangan.

Baca Juga:  Mengenang Perang Lima Hari Lima Malam Melalui Jalan-jalan Sejarah

Lalu menurut Dedi  yang juga Kepala Laboratorium Sejarah FKIP Unsri ini, melihat  tanggal HUT kota Palembang tersebut mulai bergeser  zaman Pak Gubernur Sumsel Asnawi Mangkualam, saat Asnawi Mangkualam  berpidato di Bukit Seguntang  dan menyebut 17 Juni sebagai HUT Kota Palembang kemudian di buat Surat Keputusan (SK)nya.

Namun penetapan HUT kota Palembang di tanggal 17 Juni menurutnya masih bisa di ubah  karena ada celah di SK  tersebut yang menyebutkan klausul  bisa di revisi kalau ada kesalahan .

“ Kita  agak lalai merevisi  itu, beberapa kota di Surabaya pernah ada  kesalahan membuat hari jadi  kemudian bisa di revisi, Makasar juga , Makasar salah hari jadinya dan bisa di revisi, “ katanya.

Dedi mengaku tidak habis pikir , di kota Palembang,  hal paling kecil, yaitu merubah  hari jadi kota Palembang tidak diperhatikan  dan tidak di akomodir, bagaimana dengan membangun kebudayaan dan sejarah yang besar  di Sumsel.

“ Kami benar-benar minta agar DPRD menganggarkan pembentukan perda HUT kota Palembang  yang baru yang diubah menjadi 16 Juni dan tahunnya juga salah 683, harusnya menurut Prasasti Kedukan Bukit 682 .

Baca Juga:  Terjatuh Saat Mendahului , Pelajar Tewas Terlindas

Hal senada dikemukakan arkeolog dari Brint Sumsel Wahyu Rizky Andhifani, S.S, M.M yang menilai belum pernah ada rapat terkait HUT Palembang.

“Padahal sudah dicetuskan, ayo kita rapat, kita perbaiki lagi, kalau 16 Juni  yang 16 Juni kenapa harus dimundurkan satu hari  atau di majukan satu hari ,” katanya.

Sedangkan budayawan Sumsel  Dr A Erwan Suryanegara  M Sn melihat HUT kota Palembang menjadi 17 Juni,  dia melihat saat itu Walikota Palembang Tjek Yan membentuk tim HUT Palembang, merumuskan HUT Palembang  dimana didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit  16 Juni namun punya pemikiran lain untuk menetapkan HUT Palembang  berdasarkan prasasti Kedukan Bukit  16 Juni.

“ Kata mereka 16 Juni kata mereka itu sudah malam hari  16 Juninya sehingga terbaca 17 Juni , selain itu 17 itu katanya  17 rakaat jadi semuanya menjadi asumsi , prasasti yang faktual diasumsikan menjadi 17 Juni , kalau mau konsisten  kita harus konsisten kalau Prasasti Kedukan Bukit itu  adalah akta kelahiran kota Palembang  yang berusia ribuan tahun, kita kembali 16 Juni 604 atau 682 Masehi  sehingga hitungannya 1340,” katanya.

Baca Juga:  Larikan Motor Teman, Zulkifli di Tangkap

Ketua DPRD Palembang Zainal Abidin  memberikan apresiasi  diskusi ini.

“ Ini membuka wawasan dan cakrawala kami sebagai wakil dari masyarakat kota Palembang  terkait Ulang Tahun kota Palembang , ada beberapa tokoh masyarakat menyampaikan kepada kami itu di 16 Juni kemudian ada di 17 Juni , mungkin nanti pak Wahyu Rizky tentang arkeolognya yang bisa memberikan masukan terkait dalam Ulang Tahun Kota Palembang , namun dalam kesempatan yanag baik ini  kami juga menyampaikan bahwa dengan adanya acara ini kami juga jadi bahan koreksi bagi  kami di DPRD kota Palembang, “ katanya.

        Sedangkan Antropolog  yang juga Dosen Fisip Unsri Dr Dadang H Purnama M Hum  menilai identitas budaya bukan sesuatu yang selesai ,  dan terus berproses di tengah tantangan yang muncul di masyarakat.

“ Disini penting bagaimana identitas kebudayaan itu ,bisa terwujud terutama di Sumsel tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang berkembang yang berasal bisa dari nilai-nilai Sriwijaya  ataupun  kebudayaan sungai seperti di Sumsel, “ katanya.#osk

Komentar Anda
Loading...