AGSI Sumsel Ikuti Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila di Jatim
Menurut JJ Rizal , ada satu kunci yang akan menambah wawasan dan memberikan sejarah tidak sekadar kronik. Kunci itu adalah membaca.
Dengan banyak membaca kita tidak hanya menceritakan tokoh sejarah dalam satu aspek saja. Misalnya orang hanya tahu bahwa MH Thamrin adalah orang yang kaya, tidak banyak orang tahu bahwa dengan kekayaannya, MH Thamrin mewakafkan hartanya untuk kepentingan pergerakan.
Bahkan stadion standard internasional Indonesia pertama dibangun dari uang beliau. Hal ini harus didukung oleh referensi, kerja keras ketika kurikulum semakin miskin.
Sementara itu budayawan nyentrik Sujiwo Tejo dalam persamuhan ini mengatakan, bahwa maksud Pancasila saat ini sudah tidak ada, adalah dalam artian implementasinya.
”Andai Pancasila itu ada di Indonesia, pasti perusahaan-perusahaan saldonya pasti nol rupiah sebagaimana masjid-masjid di Yogyakarta yang uangnya dikembalikan untuk kemaslahatan umat. Kenyataan saat ini, bahkan koperasi pun sebagai soko guru ekonomi Pancasila mati suri”, jelas Sujiwo.