Puncak Peringatan Hari Bakti di Jajaran Lanud SMH Berlangsung Khidmat

Upacara dalam rangka puncak peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara Tahun 2019 di jajaran Pangkalan Udara Sri Mulyono Herlambang (SMH) berlangsung khidmat, Senin (29/7). Upacara sendiri dipimpin langsung Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Kolonel Pnb Heri Sutrisno, S.IP di lapangan Markas Lanud SMH Palembang.
Palembang, BP
Upacara dalam rangka puncak peringatan Hari Bakti TNI Angkatan Udara Tahun 2019 di jajaran Pangkalan Udara Sri Mulyono Herlambang (SMH) Palembang berlangsung khidmat, Senin (29/7). Upacara sendiri dipimpin langsung Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Kolonel Pnb Heri Sutrisno, S.IP di lapangan Markas Lanud SMH Palembang.
Dalam kesempatan tersebut juga dihadiri Ketua PIA Ardhya Garini Cabang 10/D.I Lanud SMH Ny. Widya Heri Sutrisno, Kadisops Letkol Pas Iyan Rusdian, S.E., Kadislog Letkol Kal Pander E Sianipar, Dansatpom Mayor POM Jarot Nyamantoro serta Kasikamhamlan Mayor Kes Muhammad Siddik, Kasifasin Mayor Sus Kemas Muhammad Gamal, para perwira, anggota, pengurus PIA AG Cab. 10/D.I dan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara (PPAU) Lanud Sri Mulyono Herlambang.
Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) Kolonel Pnb Heri Sutrisno, S.IP yang membacakan amanat dari Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., M.M menceritakan rangkaian peristiwa yang terjadi ketika tiga pesawat TNI Angkatan Udara mengudara dari landasan pacu Lanud Maguwo dan menyerang garis pertahanan Belanda di tiga kota, yaitu Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.
“Peristiwa heroik yang diperingati setiap tanggal 29 Juli ini, tidak sekedar menjadi nostalgia sejarah semata, namun terus menjadi kompas moral bagi generasi penerus untuk memberikan pengabdian yang terbaik kepada TNI Angkatan Udara,” katanya.
Dari peristiwa tersebut, dijadikan Hari Berkabung AURI yang sejak tahun 1962 diperingati sebagai Hari Bakti TNI Angkatan Udara.
Dalam peristiwa tersebut, ketiga pesawat tersebut diawaki oleh kadet penerbang Mulyono dengan juru tembak Dulrachman, kadet penerbang Sutardjo Sigit dengan juru tembak Sutardjo, dan kadet penerbang Suharnoko Harbani dengan juru tembak Kaput, mereka adalah kadet-kadet sekolah penerbang TNI Angkatan Udara yang belum memiliki pangkat di pundaknya.
“Namun mereka mampu menorehkan prestasi emas pada usia belia. Ini adalah bukti, bahwa negara dan bangsa akan selalu memberikan penghormatan terbaik kepada siapa pun yang berbakti dan berprestasi, tanpa melihat status sosial, umur, pangkat, dan jabatan,” ujarnya.
Untuk itu, serangan ini menjadi monumental karena menjadi operasi serangan udara pertama dalam sejarah TNI Angkatan Udara. Serangan ini menjadi bukti jiwa patriotisme, cinta tanah air, dan sikap anti kolonialisme dari seluruh personel Angkatan Udara atas Agresi Militer Belanda Pertama.
“Beberapa jam pasca serangan tersebut, Belanda ternyata melancarkan serangan balasan dengan mengirim dua pesawat P-40 Kitty Hawk untuk menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA yang sedang membawa bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Malaya,” katanya.
Dalam serangan tersebut, setidaknya ada delapan orang gugur, termasuk tiga putra terbaik Angkatan Udara, yaitu Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, Komodor Udara Agustinus Adisutjipto,
“Momen gugurnya ketiga pahlawan udara tersebut mengingatkan kita, bahwa selalu ada risiko dalam pelaksanaan tugas sebagai prajurit udara. Namun tidak boleh sekalipun, sedetik pun, ada rasa ragu, gentar, apalagi takut. Menjadi prajurit udara adalah jalan hidup yang dipilih Tuhan untuk kita. Kita, prajurit udara, adalah prajurit yang lahir dan tumbuh besar bersama negara,” katanya.
Maka, sambung Marsekal TNI Bintang Empat ini, spirit Hari Bakti TNI Angkatan Udara harus dimanifestasikan dalam proses pembangunan postur kekuatan dan kemampuan TNI Angkatan Udara yang profesional dan modern. Kita tidak boleh lengah dan abai, karena tugas TNI Angkatan Udara tidak semakin ringan.
“Kita harus berhadapan dengan kemajuan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 yang dipenuhi sistem siber-fisik dan ancaman hibrida yang siap menghancurkan bangsa Indonesia dengan berbagai cara. Dalam rangka menghadapi situasi ini, maka pembangunan kualitas SDM harus menjadi prioritas utama,” katanya.
Oleh karena itulah, Bakti Pahlawan Udara Menjadi Tonggak Sejarah, Bakti Generasi Penerus Membangun Kejayaan Angkatan Udara.
“Momen Hari Bakti TNI Angkatan Udara Tahun 2019 adalah saat tepat untuk membangun komitmen, bahwa TNI Angkatan Udara mampu mencetak kader-kader prajurit yang berkarakter sama hebatnya dengan para aktor sejarah Hari Bakti TNI Angkatan Udara,” katanya.#osk