Sejak Dulu Sumsel Dikenal Dengan Kerukunannya

13
BP/DUDY OSKANDAR
Para pemenang lomba video pendek yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di The Alts Hotel, Palembang, Kamis (18/7).

#SMAN Belitang Borong Juara I dan II  Dalam Lomba Video Pendek

Palembang, BP
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sejak dulu sangat dikenal dengan semangat gotong royongnya , berbagi dengan lain , saling menghargai satu dengan yang lain sehingga kerukunan selalu tercipta di Sumsel.
Walaupun demikian potensi kekerasan dan terorisme selalu ada di wilayah Sumatera terutama kaum pemuda yang jika timbul sikap menyendiri, tidak mau bergaul dan mereka itu benar sendiri.
“Dan sudah terkenal di Sumsel ini bahwa banyak pendatang terutama dari transmigrasi, beragam budaya dan agamanya tapi bisa bersatu bersama, ini kita kembangkan lagi, kita pelihara lagi terutama dari sekolah-sekoah dasar, SMP, SMA sampai perguruan tinggi, sehingga pemuda-pemuda kita itu paham betul bahwa sebenarnya tanggungjawab Indonesia ini ada dengan mereka, “ kata Inspektur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Dr. Amrizal, M.M di sela-sela acara Satu Indonesia, “Lomba Video Pendek dan Diskusi Film “ yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di The Alts Hotel, Palembang, Kamis (18/7).
Menurutnya, Paham-paham radikalisme kalau dulunya berhadapan dengan gurunya, kakaknya atau kelompok tapi sekarang tidak, sekarang dengan media sosial.
“ Itu berbahaya bagi mereka kenapa mereka langsung mengambil habis , itu paham kekerasan, radikalisme yang suka menjelek-jelekkan, suka berprasangka tidak baik pada orang dan membenarkan dirinya sendiri,” katanya.
Karena itu menurutnya masyarakat harus diberikan pemahaman khususnya para pemuda agar paham menggunakan informasi tehnologi itu, jadi informasi yang diterima jangan langsung diterima mentah-mentah, jangan langsung disampaikan tanpa disaring dari informasi harus di saring dulu baru di sharing, apakah informasi intu bener, baik apakah berguna atau bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Juga:  Teknisi Water Bombing Rusia Meninggal di Salah Satu Hotel di Palembang
BP/DUDY OSKANDAR
Para pemenang lomba video pendek yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di The Alts Hotel, Palembang, Kamis (18/7).

Dan dari penelitian yang dilakukan Institut Wahid itu sudah ada tingkat pelajar yang terpapar paham radikalisme yang umur 6 dengan 14 tahun daerahnya sudah banyak pulau Jawa dan Sumatera yang terpapar hingga 14 persen.
“ Tahun 2014 itu ada anak yang SD dia bisa bikin bom dari Media sosial, belakar dari situ, inii bahanyanya sekarang dari internet mudah sekali mereka dapat berita dan informas yang kita simak dengan baik informasi sangat menyesatkan. Upaya kita, melakukan penndekatan seperti hari ini lomba video pendek kita berikan bagaimana pemuda kota membuat karya seni berupa film yang menggambarkan  mereka bersatu walaupun beda budaya, agama, bahasa dan adat istiadat,” katanya.
Sedangkan Ketua FKPT Sumsel, Dr Periansyah mengatakan, radikalisme, terorisme itu adalah paham global yang jauh dari kearipan lokal.
“ Di Sumsel ini sebenarnya enggak ada tetapi dunia yang sudah mengglobal ini orang bisa tahu dengan menggunakan gadget dan peran guru dan tua penting dalam menangkap menangkap pemahaman-pemahaman radikan tersebut, kalau tidak ya kita semua akan kebobolan,” katanya.
Dan salah satu langkah yaitu hari ini pihaknya menggelar diskusi film tentang Cinta Indonesia, “ Makanya tema kita satu Indonesia, maknanya yang Bhineka , walaupun berbeda tapi tetap satu, ada pemahaman hari ini kalau perbedaan itu adalah sesuatu hal yang aneh, padahal berbeda itu bukan hal yang aneh, sama seperti berpikir beda tidak aneh karena Tuhan menciptakan kita berbeda-beda tapi bahwa kita harus menyakini Indonesia harus kita rawat, di Sumsel suku banyak, bahasa banyak dan itu kekayaan kita ,” katanya.
Karenanya pemahaman-pemahaman radikal harus dicegah dengan kearipan lokal.
” BNPT kerjasama dengan FKPT sedang melakukan penelitian tentang tutur lisan yang ada di Susmel disamping kita melakukan penelitian nasional dengan tema Daya Tangkal Masyarakat Terhadap Terorisme ,” katanya.
Sementara itu artis Indonesia Sha Ine Febriyanti atau akrab disapa Ine Febriyanti yang juga menjadi dewan juri Lomba Video Pendek bersama budayawan Sumsel Anwar Putra Baru dan Ketua FKPT Sumsel, Dr Periansyah mengumumkan tiga besar pemenang lomba video pendek.
“Kemarin menjuri ada 12 film pendek yang dipilih harus 5 menit tepat, keamrin ada yang lebih 8 menit sehingga tidak dimasukkan peserta lomba. Setelah berdebat cukup serius, hasilnya bagus-bagus, luar biasa anak anak Sumsel tidak kaalah bersaing dengan provinsi lain,” kata Ine Febriyanti .
Selain itu menurutnya tiga video terbaik ini akan mewakili Sumsel dalam ajang tingkat nasional dan nanti akan di tandingkan bersama 96 video lainnya dari 32 provinsi di bulan November nanti.
“Video dari seluruh provinsi itu, kami nilai lalu masuk 10 besar dan masing-masing perwakilan hanya 1 orang akan pergi ke Jakarta dan akan mempresentasikan karyanya dan total hadiah Rp170 juta,” katanya.
Untuk lomba video pendek juara I dan II adalah SMAN Belitang, juara III dari Ponpes Muqimus Sunnah dengan judul Korea-Korea.#osk

Komentar Anda
Loading...