Mata-mata Jepang di Penyerangan Pasukan Jepang ke Palembang

1,182

Mengenai keberadaan orang Jepang di Palembang masuk sebelum tahun 1942 sendiri di benarkan dalam buku berjudul Indonesia Di Mata Masyarakat Jepang Di Hindia Belanda 100 Tahun Yang Lalu Dalam Kartu Post Bergambar Poto” dikarang Guru Besar Fakultas Hubungan Internasional Chubu University terbitan tahun 2017 yang isinya :

Kilang minyak Plaju di bakar pasukan Jepang

“Palembang yang dikenal sebagai lbu kota Kerajaan Sriwijaya di masa lalu, terletak dl pusat Sumatera Selatan dan berada di tepi sungai besar bernama Sungai Musi. Orang Jepang yang pertama kali datang dan tinggal di kota lnl adalah para karayukisan. Nakamura Naokichi yang menyebut dirinya penjelajah dunia, datang pada tahun 1902. la pernah tinggal di rumah border yang dikelola Hayashi Hiroshi. Menurut Nakamura barang-barang buatan Jepang seperti pasta gigi, tusuk gigi, sabun batangan dan keramik cukup laris Namun saat itu belum ada toko Jepang.

Baca Juga:  Bersama Komisi V DPRD Sumsel, Januari, Sultan Palembang , Zuriat dan Dinas Terkait Akan Bertemu Fadli Zon, Minta Pembangunan Gedung Tujuh Lantai Rs dr Ak Gani Dihentikan

Pada tahun 1905, Noborimoto Kurohachi membuka Toko Noborimoto dan pada tahun 1912 Yamada Seishichi membuka klinik gigi.

Pada tahun 1913 dibuka beberapa toko yang menjual obat dan barang kelontong seperti Toko Nomura Shokai milik Nomura Eitaro, Toko Dagang Seiei Shokai milik ltokawa Seishichi, Toko Obat Miyazaki Kusuriten milik Miyazaki Matsunosuke dan juga dibuka Studio Foto Daiwa oleh Miyahata Seiichi.

Berdasarkan hasil survei Konsulat Jepang di Batavia tahun 1913, orang Jepang yang tinggal di Palembang terdiri atas laki-laki lima orang dengan pekerjaan sebagai pedagang barang kelontong, pegawai toko, dan pedagang obat masing-masing satu orang, dan yang tidak jelas pekerjaanya dua orang. Perempuan ada 11 orang, di antaranya tidak bekerja delapan orang, merupakan istri pedagang kelontong, berbisnis menyewakan tatami dan menjadi pemilik rumah makan Eropa masing-masing satu orang. Diperkirakan jumlahnya sebenarnya sedikit lebih banyak dari yang disebutkan di atas. Perempuan yang tidak memiliki pekerjaan diduga adalah karayukisan dan laki-lakl yang tidak jelas pekerjaannya diduga bekerja berkaitan dengan karayukisan.

Baca Juga:  Pengrusakan dan Pemasangan Seng di Komplek Pemakaman Pangeran Kramajaya, Ini Sikap Disbud Palembang
Tentara Payung Jepang saat turun di Sungai Gerong, Plaju

Tahun 1914 didirikan Nihonjinkai Palembang. Pada tahun 1918, yang menjadi ketua adalah Noborimoto, wakil ketua adalah Yamada, sekretaris adalah Miyahata, Miyazaki dan lainnya. Anggotanya terdiri laki-laki 61 orang dan perempuan 42 orang. Keseluruhan ada 103 orang. Pekerjaan khas orang Jepang di Palembang saat itu adalah penjual es balok yang dilakukan oleh 10 orang sehingga terbentuk Koperasi Gabungan Pengusaha Minuman.

lnformasi mengenai Nihonjinkai di Palembang sebagai kota kaya minyak dan batu bara, mungkin akibat pengaruh PD ll, tidak tercatat baik dalam Pedoman Organisasi Orang Jepang di Nanyo yang diterbltkan Nanyo Kyoukai pada tahun 1937 maupun dalam Survei Kelompok Pengusaha dan Organisasi Orang Jepang di Luar Negeri yang diterbitkan pada tahun 1939.

Baca Juga:  Kesultanan Palembang Darussalam Hidupkan Kembali Tradisi Pawai Obor di Kota Palembang

Studio Foto Yamato didirikan tahun 1913 oleh Miyahata Seilchi, berasal dari Prefektur Hiroshima. la melakukan usaha pemotretan dan penjualan bahan-bahan foto, membuat kartu pos bergambar dengan nama M.A. Yamato. Dalam kumpulan kartu pos bergambar karya Miyahata yang berjudul Kisah Negeriku di Lembar Kartu Pos dimuat 53 kartu bergambar dan di antaranya ada sebuah kartu bergambar M.A. Yamato yang memotret situasi sebuah pasar di Palembang”. #osk

Komentar Anda
Loading...