Agenda Perkotaan Berkembang Sejak Zaman Sriwijaya
Dari Dulu Palembang Mengedepankan Budaya Sungai

Palembang, BP
Sama halnya seperti kota Palembang yang sejak zaman Kerajaan Sriwijaya lebih mengembangkan budaya sungai, perwakilan Indonesia dalam kesepakatan agenda baru/new urban agenda (NUA) yang akan ditetapkan dalam Sidang Habitat III sepakat dalam agenda perkotaan baru jangan hanya mengedepankan wawasan ke darat saja.
Staf Ahli Bidang Sosial Budaya dan Peran Masyarakat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Lana Winayanti mengatakan, dalam pertemuan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang permukiman dan pembangunan perkotaan berkelanjutan beberapa waktu lalu ada kritik dari beberapa peserta termasuk Indonesia bahwa agenda perkotaan baru itu terlalu wawasannya kedarat.
“Jadi kita Indonesia, Belanda, Columbia, Jepang minta secara spesifik supaya dimasukkan daerah muara sungai perlu menjadi perhatian , juga hubungan laut dan air darat ini harus sebagai satu sistim, tidak bisa kita bicara urban hanya daratan saja, seperti banyak Negara yang terletak di pulau kecil justru konektivitas antar pulau menjadi sistim bagian urban mereka, itu yang Indonesia tekankan untuk dimasukkan dalam agenda perkotaan baru, Bangkok tahun 1990 macet luar biasa melebihi Jakarta, tapi mereka membangun MRT dan transportasi sungai di aktipkan , itu ada satu masalah sama dengan Indonesia sungai dijadikan belakang rumah, orang tidak mau menggunakan transportasi sungai kita , sungai harusnya menjadi bagian depan rumah bukan tempat buang sampah, kalau ada gerakan moral masyarakat harus dipaksa untuk bergotong royong membersihkan sungai,” katanya sembari meminta perkataan community masih dalam agenda perkotaan baru pada Media Briefing mengenai Agenda Baru Pembangunan Perkotaan di Gedung PIP2B Palembang Jalan Kapten Anwar Sastro Palembang, Rabu (1/6).
Menurutnya Indonesia dipercaya untuk menjalankan peran strategis mendorong tercapainya kesepakatan agenda baru/new urban agenda (NUA) yang akan ditetapkan dalam Sidang Habitat III.
Habitat III merupakan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang permukiman dan pembangunan perkotaan berkelanjutan. Tujuannya untuk memastikan komitmen bersama menuju pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.
Sidang ini akan diadakan di Quito, Ecuador pada 17-20 Oktober 2016.
Menuju Habitat III, serangkaian acara persiapan dilakukan untuk merumuskan isu-isu perkotaan di belahan dunia. Majelis Umum PBB, dalam resolusi 67/216 memutuskan untuk membentuk Komite Persiapan (PrepCom) yang terbuka bagi semua negara anggota PBB.
“Urbanisasi adalah sebuah kebiscayaan, jika tidak dikelola dengan baik akan timbul banyak masalah. Antara lain masyarakat tidak menghuni rumah yang layak, tidak memperoleh akses pelayanan dasar yang layak, permukiman kumuh makin banyak, kualitas lingkungan menurun, kemacetan lalu lintas parah, kualitas udara makin buruk,” katanya.
Lana mengatakan, NUA bertujuan memperbarui komitmen negara-negara dunia sehingga tercipta kota yang resilien dan berkelanjutan, terutama dari sisi ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja. Salah satu isu yang akan dibahas adalah pengembangan ekonomi lokal kota (urbanlocal economic development).
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Palembang, M Safri Nungcik memastikan akan mengembalikan fungsi sungai yang ada di Palembang sebagai pariwisata dan sebagai fasilitas lalu lintas air.
“ Apa yang dilakukan pak walikota, sungai kita penuh sampah, ini gerakan moral untuk kita semua, ada beberapa hal yaitu ada pengelolaan sampahnya, akan didapat sungai yang bersih , tidak terkontaminasi dan ini harus disiapkan semua, tempat sampah harus baik, sanitasi harus baik dan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah ditempatnya, saya setuju kalau untuk mewujudkan semua ini harus keroyokan , kita inginkan Palembang lebih baik, saya yakin ekonomi lokal kita tumbuh dan pada akhirnya ada kesejahteraan disana ,” katanya ditempat yang sama.
Selain itu rawa konservasi yang ada di Palembang akan dipertahankan dan sama-sama mengawasi karena ini ada peraturan daerah tentang rawa , karena ini mengurangi genanangan dan bisa membersihkan sungai, karena sungai drainase alam.
“ Kami terjun langsung mendampingi pak Wali karena ini spirit, gerakan moral untuk kita menjadikan Palembang lebih baik baik lingkungan dan infrastruktur,” katanya.
Selain itu untuk pengembangan kota Palembang untuk 20 tahun kedepan ini pihaknya sudah membagi-bagi zona pengembangan kawasan di Palembang baik untuk pemukiman dan jalan-jalan untuk mengurangi kemacetan.
“ Konsepnya Palembang yang paling indah, indah ini macam-macam ukurannya, jadi jalan-jalan tembus sehingga kota ini tidak menjadi sesak, “ katanya.
Untuk transportasi Palembang mengembangkan transportasi multi moda, sudah ada seperti trans Musi , LRT, bus-bus air yang akan menuju destinasi wisata untuk mengembangkan ekonomi lokal karena ikon Palembang adalah sungai Musi.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri) Prof Didiek Susetyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi lokal Palembang memiliki keunikan
Ada isu lokal economic development di Palembang karena Palembang sebagai ibukota provinsi ekonomi urbannya relative maju , ini tergantung dengan daerah-daerah lain yang memiliki komiditi unggulan Sumsel seperti karet, sawit, batubara, kopi dan sebagainya.
“Sesuai dengan kapasitas dan prestasi sesungguhnya naik, tapi harus ada even dulu. Contohnya PON, SEA Games, dan Asian Games. Jadi ada pemicu untuk peningkatan infrastruktur,” katanya ditempat yang sama.
Menurutnya konsep ekonomi risilensi dengan pola klastering, skala ekonomi, dan pelipatgandaan kegiatan ekonomi dapat meningkatkan data saing produksi lokal.
Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor serta mendorong pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, dan pendapatan masyarakat.
“ Ada tiga aspek yang harusnya di tumbuhkan ada tentang public ekonomi yang tentunya pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dan kota , aspek social economi komersial, pemodal besar silahkan tumbuh tapi social ekonomi sangat perlu, social economic enteprenurship akan sangat penting, nah dari tiga konsep ini harus ada keterpaduan pementah, NGO, LSM dan masyarakat yang tumbuh dimana-mana yaitu sektor informal seperti UMKM,”katanya.
Untuk itu perlu di bentuk kawasan-kawasan atau sentra-sentra dengan skala ekonomi dimana produksinya lebih banyak agar costnya lebih murah.
Sedangkan terakhir Fikri Satari, NGO-Bandung Creative City Forum menilai kalau Palembang bisa berkaca pada pengembangan kreativitas warganya di kota Bandung dimana kini Bandung dikenal sebagai kota kreatif, syaratnya memang harus ada warga yang kreatif menciptakan banyak kegiatan.
“Kota kreatif menggerakkan ekosistem ekonomi kreatif secara berkelanjutan yang secara bertahap akan memperkuat city branding Bandung. Hal ini mempengaruhi arah pembangunan sekaligus meningkatkan kapasitas PNS. Akhirnya menjadi sebuah kesepakatan sebuah kesepakatan warga bahwa kreativitas khususnya di bidang desain adalah jiwa dan napas Kota Bandung yang sesungguhnya,” kata Fikri Satari.
Kegiatan yang dimoderatori Bagus Mudiantoro ini diselenggarakan Panitia Bidang Publikasi Substansi PrepCom3-Habitat III dalam rangka menyebarluaskan serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai mengenai agenda baru pembangunan perkotaan.#osk