Sarung Stang Motor Ancam Nyawa Pengendara

15

<LAPSUS>

sarung tangan lapasus
Penjual perlengkapan motor memasangkan sarung tangan motor di kawasan Pasar Cinde Palembang. BP/ARRACHIM

Sarung stang sepeda motor yang kerap dikenakan untuk jenis matic belum teruji karena belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).

KENDATI tak ber-SNI, produk ini telah menyebar dan dikenakan masyarakat. Sarung stang sepeda motor ini paling marak dipergunakan kaum hawa.

 

Salah satunya Lina, warga Jalan Sematang, Kelurahan Sako, Kecamatan Sako. Kepada BeritaPagi, Jumat (25/3), dia mengaku sudah tiga bulan terakhir menggunakan sarung tangan stang motor. Mengenakan sarung tangan yang menempel di stang motor terbilang simple dan juga nyaman.

 

“Tapi saya pernah jatuh dari motor saat mau bekerja, tangan saya sempat terkilir, nah ini sudah hampir dua bulan tapi satu jari terasa mati rasa, sulit digerakkan,” ungkap Lina.

 

Diakuinya, dia terjatuh karena diserempet mobil. Tapi baik dirinya maupun mobil itu sebenarnya melaju pelan.

 

“Jatuh pun tidak parah, tapi tangan sulit lepas dari motor, memang perlu hati-hati saja,” ucapnya.

Menyikapi hal ini, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Taufik Husni menyatakan sarung tangan stang motor belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurutnya, sarung tangan motor yang menempel di stang memang terbilang baru di Indonesia. Bahkan, sarung tangan ini ternyata banyak digemari pengendara motor, terutama kalangan perempuan baik itu muda ataupun ibu-ibu.

Baca Juga:  BRI Sediakan Pojok Baca di Kantor Layanan Ditlantas Polda Sumsel

 

Dengan beragam warna dan motif, sarung stang motor ini diperjualbelikan secara bebas di pasaran. Kecanggihan teknologi saat ini juga memberikan kemudahan bagi para calon konsumen untuk membeli produk yang digadang-gadang sebagai pelindung tangan dari teriknya sengatan matahari. Via online, adalah kemudahan mereka untuk melihat beragam motif sarung stang. Beberapa layanan belanja online sudah memperlihatkan produk ini menjadi salah satu barang dagangannya.

 

Ia memaparkan, tak hanya sepeda motor matic namun juga motor bebek yang identik digunakan wanita, dapat diperhatikan di jalanan sudah marak sekali digunakan. Tak salah, motor menjadi terlihat lebih unik dan variatif setelah mendapatkan sentuhan sarung stang motor yang dipadu padankan warnanya dengan warna motor yang digunakan.

 

“Ini memang cukup membuat motor para wanita ini menjadi lebih bagus, unik dan sebagainya, setelah dipasangkan sarung itu, karena dengan warna yang sama dan juga motif kesukaan para pengguna motor yang beragam. Tetapi mereka (para pengguna – red) tidak menyadari ada hal yang perlu diwaspadai saat menggunakan satu produk,” katanya.

Baca Juga:  Harga Anjlok, Peternak Ayam Terpukul

 

Dijelaskannya, sarung stang motor bukan merupakan produk massal dan belum digunakan secara massal pula. Selain itu juga, produk yang belum diketahui siapa produsennya ini pun bukan merupakan produk yang benar-benar populer, dan bukan produk yang telah lolos dari standar pengujian Indonesia.

 

“Produk ini belum teruji, sehingga standar keamanan untuk konsumen itu belum ada, di Indonesia juga belum teruji, seperti perangkat motor lainnya Helm, ini sudah teruji SNI sehingga sangat terjamin, sementara sarung stang ini belum ada, dan sepertinya hanya di Indonesia, bukan produk yang diperjualbelikan di pasar bebas,” terangnya.

 

Maka dari itu, sambungnya, masyarakat mesti berhati-hati sebelum membeli sebuah produk. Sarung stang yang dihargai kisaran Rp40.000 ini memang cukup terjangkau. Tetapi masyarakat mesti cermat mengenai dampak dari penggunaan produk tersebut. Pasalnya, sarung tersebut cukup memberikan efek besar saat terjadi kecelakaan lalu lintas. Meskipun sejauh ini belum ada pengaduan secara resmi kepada YLKI, namun pihaknya sudah mendapatkan banyak keluhan mengenai akibat dari penggunaan barang itu.

Baca Juga:  KI Juga Tempat Bisnis

 

“Masyarakat harus jeli, barang ini lebih banyak memiliki risiko ketimbang manfaatnya. Dengan bentuknya yang menempel di stang motor dan saat tangan masuk ke dalamnya, tangan akan langsung terkunci karena ruang sarung cukup kecil, saat terjadi insiden, tangan tidak bisa reflek keluar dari stang, misalkan untuk jumping (loncat), sehingga yang ada tangan keseleo bahkan patah tulang,” tambahnya.

 

Sarung stang yang belum lama ini booming, diakuinya cukup langsung mendapatkan perhatian dari konsumen wanita. Hal ini pun menunjukkan bahwa masyarakat terbilang konsumtif. Saat melihat barang baru, langsung berinisiatif membeli tanpa mempertimbangkan manfaat dan resikonya. Hal ini lebih mengarah kepada lifestyle dikalangan wanita.

 

“Masyarakat kita ini konsumtif, saat ada barang baru, langsung ingin beli, dan saat sudah memiliki merasa bangga. Kita hanya mengimbau kepada masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas, jangan mudah tergiur, lebih aman menggunakan sarung tangan biasa yang menempel pada tangan, ini lebih aman,” imbaunya.#pit/ndi

 

Komentar Anda
Loading...