Target 140 Ribu Ton Padi Terancam Gagal

27
2403.01.KAKI.HASS
Batang padi di beberapa sawah warga Desa Segamit, Kecamatan Semendo, Muaraenim mati akibat terserang hama.

 

Pemkab Muaraenim menargetkan produksi gabah kering giling sebanyak 140.985 ton pada 2016. Namun dengan matinya ratusan hektar padi di Kecamatan Semende, mungkinkah target tersebut tercapai?

DERITA petani seolah tiada henti. Setelah sejumlah harga komoditas pertanian jatuh, kini ancaman rawan pangan menghantui. Kondisi ini terjadi di Kecamatan Semende, Muaraenim.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura harus cepat ambil tindakan. Sebab jika tidak, diyakini target produksi beras Pemkab Muaraenim tahun 2016 akan gagal terpenuhi. Pasalnya, ribuan hektar sawah di Semende terancam gagal panen. Padahal, kecamatan tersebut merupakan salah satu penghasil beras terbesar di Kabupaten Muaraenim.

Pantauan di Desa Segamit, puluhan hektar padi milik warga, seperti di Kabalan dan sejumlah lokasi lainnya, membusuk. Terutama pada batang bagian bawah. Menurut petani di sana, kondisi tersebut sudah berlangsung selama sebulan terakhir, namun belum ada tindakan dari dinas terkait. Entah itu meninjau langsung lokasi, apalagi memberikan penyuluhan.

Baca Juga:  2019, Sumsel Optimalkan Rawa Lebak Dan Pasang Surut di 250 Ribu Hektar

Sejumlah warga yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah malas melapor ke Pemerintah. Buat apa, toh yang didapat hanya sekadar basa-basi, tanpa ada solusi.

“Kami petani sekarang ini sudah pasrah dengan kondisi ini. Kalau Allah memberikan rezeki, Inshaa Allah diberikannya pertumbuhan yang lebih baik. Kalau kami sedang diuji, Inshaa Allah kami akan bersabar,” ujar petani ini sembari mewanti-wanti supaya namanya tidak ditulis.

Ketika ditanya apakah sawahnya sering mengalami kekurangan air, menurut pemilik sawah di Segamit ini, sawahnya tidak kekurangan air. Diakuinya, itu terjadi di awal-awal masa penggarapan lantaran siringnya mengalami kerusakan. Setelah diperbaiki secara gotong-royong bersama warga, akhirnya pasokan air normal kembali.

Baca Juga:  Dinkes Muaraenim Mulai Fogging Massal

Memang sebelumnya sempat sawah mengalami kekeringan akibat dampak musim kemarau, tapi sejak musim penghujan, sawah mendapat pasokan air yang cukup.

Namun, ia tidak mengetahui mengapa padinya bisa membusuk, terutama yang baru berumur 20 hari. Kalau penyebabnya serangan hama ulat, rasanya bukan. Tak ditemukan ulat pada batang padi, begitupun hama lain. Hal inilah, yang menjadi keluhan para petani sekarang ini.

Luasan padi yang membusuk rata-rata seperempat hingga setengah hektar di tiap petak sawah milik warga. Lantaran tidak ada lagi ketersediaan bibit untuk menggantinya, padi yang membusuk itu dibiarkan begitu saja oleh petani. Mereka hanya menjaga padi yang masih tersisa.

Baca Juga:  SPAL Amblas Tak Masuk Kategori Bencana

Terkait banyaknya padi yang mati tersebut, Kepala Dinas Pertanian Ir Kani Daa, yang ditemui di kantor Bapeda Muaraenim belum lama ini mengatakan, akan menurunkan stafnya untuk mengecek sawah petani di Kecamatan Semende.

Mirisnya, apa yang dikatakan Kani hingga kini belum ada realisasinya. Menurut petani, belum ada tim dari Dinas Pertanian melakukan pengecekan ke sawah atau memberikan penyuluhan kepada petani soal padi yang mati tersebut. Petani mengaku hanya bisa pasrah, sembari mengharap keajaiban padi yang mati bisa tumbuh kembali. # nurul hudi

 

 

 

Komentar Anda
Loading...