Bayar Uang Sekolah Pakai Sampah

46

Sekilas TK Junjung Biru sama seperti sekolah pada umumnya. Tapi, sekolah yang berada di kawasan kumuh ini, mempunyai keunikan. Wali murid cukup membayar SPP dengan sampah non organik.

Bayar Uang Sekolah Pakai SampahADA yang unik dari TK Junjung Biru, yang terletak di Jalan Demak Kertapati, Kelurahan Tuan Kentang, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I. Tidak seperti sekolah pada umumnya yang mengharuskan membayar dengan uang dan kadang harus mahal sehingga menyulitkan para orangtua. Sekolah ini justru menerima sampah non organik (sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non-hayati) sebagai pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) setiap bulannya.

Pantauan BeritaPagi, demi menuntut ilmu sejumlah anak-anak sengaja datang pagi hari hanya dengan bermodalkan sampah non organik. Sampah yang berhasil dipungut itu lantas ditimbang. Sejumlah uang kemudian didapat sesuai dengan sampah yang dibawa. Kemudian uangnya ditabung untuk membayar SPP.

Ya, meskipun telah menjadi barang sisa atau limbah rumah tangga, tapi manfaat sampah masih banyak. Hal itu diterapkan oleh TK Junjung Biru. Siswa di sini bisa bersekolah dengan gratis asalkan membawa sampah non organik seperti botol plastik, kardus, kertas atau koran. Sehingga orangtua tidak usah memikirkan uang SPP. Mereka cukup membawa sisa sampah ke Bank Sampah TK Junjung Biru, lalu akan dihitung berapa banyak sampah yang dikumpulkan.

Baca Juga:  Jamaah Majelis Taklim Masjid Ar Rahmah Peringati Maulid Nabi

Dengan keadaan ekonomi dalam keluarga yang pas-pasan, salah satu orangtua anak TK Junjung Biru, Leni, merasa sangat terbantu.

“Kami sangat bersyukur masih ada sekolah yang hanya mengumpulkan sampah non organik, anaknya masih bisa mengenyam pendidikan TK,” kata Leni kepada BeritaPagi saat ditemui di sela-sela menunggu Kaka anaknya, Senin (23/2).

Menurut dia, kebijakan TK Junjung Biru telah mengajarkan anaknya tentang cinta kebersihan. “Kadang kalau pergi jalan-jalan lalu lihat sampah botol plastik, anak saya langsung bilang sampah ini nanti dikasih ke ibu guru biar dapat uang,” ujarnya.

Setiap hari ada saja sampah non organik dibawa dari rumah. Walaupun tidak banyak uang yang dihasilkan, namun kalau ditabung tentu akan cukup untuk membayar SPP.

“Kalau memang tidak ada lagi barang-barang yang bisa dibawa ke sekolah, sering kali sengaja mencari sampah hanya untuk bekal anak saya sekolah,” bebernya.

Baca Juga:  Tari Sondok Piyogo Siap Tampil di Even Budaya Kambang  Iwak Harmoni, Sultan Palembang Beri Dukungan

Kepala TK Junjung Biru Syalfitri mengatakan, awal sekolah ini berdiri belum terpikirkan untuk membuat bank sampah. Namun setelah melihat perkembangan sampah dua tahun lalu yang semakin banyak, pihaknya mempunyai ide bagaimana cara agar lingkungan bisa bersih dan menjadikan sampah memiliki nilai jual ekonomis yang tinggi.

“Alhamdulillah dengan adanya bank sampah di TK Junjung Biru selama dua tahun ini, para orangtua sangat terbantu,” katanya.

Dia menambahkan, murid di TK Junjung Biru bersama orang tuanya setiap hari atau bulan selalu membawa sampah. Lalu sampah tersebut diserahkan ke kasir bank sampah, untuk dihitung sebagai tabungan atau SPP anak. Sampah yang mudah dibawa atau sering ditemukan pastinya sampah non organik seperti botol plastik, kardus, kertas dan sisa koran.

“Untuk TK Junjung Biru, SPP setiap bulan Rp50.000. Bayangkan, semakin banyak sampah disetorkan ke bank sampah, semakin banyak juga tabungan yang didapatkan. Dengan begitu, para orang tua tidak susah payah lagi memikirkan SPP anaknya,” katanya.

Disamping untuk membayar SPP, mereka juga membekali 36 siswanya menyelamatkan Bumi ini. Caranya dengan mengurangi sampah non organik di rumah tangga terlebih dahulu.

Baca Juga:  Singapura Siap Mengelola Sampah di Palembang

“Bayangkan kalau setiap anak membawa sampah setiap harinya 1 kilogram perhari, sebulan bisa mengurangi sampah non organik 360kg. Itu untuk satu TK, coba kalau seluruh sekolah seperti ini, pasti sampah yang ada di Kota Palembang akan bersih dan nyaman,” bebernya.

Saat ditanya berapa banyak sampah yang harus disetor wali murid setiap hari? Diterangkan Fitri, berapa pun sampah yang dibawa tetap mereka terima.

“Kita tidak memandang seberapa banyak, satu botol pun kita terima. Nanti sampah-sampah itu kita hitung, bila jumlahnya sudah melebihi biaya sekolah, uangnya bisa diambil. Ada perhitungan sendiri untuk jenis sampah-sampah itu, misal sampah plastik biasanya dihargai sekitar Rp1.500 per kg. Semuanya kita sesuaikan dengan harga pasaran,” katanya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mengajarkan kepada anak-anak untuk belajar menghargai sampah dengan memberi arahan, membuat yel-yel nyanyian sampah.

“Sehingga kelak mereka dewasa akan semakin bisa menghargai dan menjaga lingkungan tetap bersih,” pungkasnya. # adi kurniawan

 

Komentar Anda
Loading...