Tak Berorientasi Tata Ruang

13
BP/SYAIRUL BANJIR KEPUNG JALAN PALEMBANG - Jalan yang terendam banjir dikawasan Jalan M Isa Palembang akibat hujan lebat yang mengguyur  menjadi  arena bermain anak anak.
BP/SYAIRUL
Jalan yang terendam banjir di kawasan Jalan M Isa, Palembang akibat hujan lebat menjadi arena bermain anak anak.

PENGAMAT Perkotaan Kota Palembang Chairuddin Yusuf mengatakan, banjir di kota ini dampak pembangunan yang tidak memperhatikan aturan tata ruang. Jika memperhatikan, tidak mungkin hujan deras sebentar saja jalanan sudah tergenang.

“Pembangunan di Kota Palembang ini sudah tidak terawasi. Jikapun diawasi, tidak diterapkan dengan aturan yang tegas. Jika saja pembangunan yang terjadi saat ini memperhatikan tata ruang, banjir tidak sehebat saat ini,” tutur dia.

Ia melihat upaya yang dilakukan pemerintah seharusnya bukan lagi fokus pada normalisasi sungai. Namun sudah beroriensi pada penindakan bangunan yang tidak memenuhi syarat tata ruang.

“Normalisasi sungai bagus, tapi tidak menyelesaikan masalah jangka panjang. Pemerintah 20 tahun ke depan sudah harus memikirkan program berkelanjutan dan progres pembangunan harus signifikan. Program jangka panjang itu bukan dikerjakan saat terjadi banjir, tapi sudah jauh sebelum terjadi banjir,” jelas dia.

Dia mengatakan, pembangunan mal, perumahan, dan bangunan lainnya ini sudah harus memperhitungkan dampak banjir sebelum bencana itu datang. Bukan ketika banjir sudah terjadi.

“Itu dia tadi, banjir ini akibat pembangunan yang tidak berdasarkan aturan tata ruang,” jelas dia.

Berkaitan soal banjir, Walikota Palembang Harnojoyo saat diwawancarai BeritaPagi, Kamis (18/2), mengatakan, persoalan ini jadi perhatian khusus Pemerintah Kota (Pemko) Palembang.

Baca Juga:  Fauzi  H Amro Tekankan Pentingnya Akses Permodalan bagi UMKM 

Menurut dia, pihaknya tengah melakukan upaya mengurangi banjir yang terjadi di Kota Palembang setiap memasuki musim hujan. Salah satu upaya dengan rutin melakukan pembersihan parit dan anak sungai.

“Kita terus upayakan agar Palembang ini tidak kebanjiran. Upaya kita dengan melakukan pembersihan di titik rawan banjir wilayah kota Palembang,” kata Walikota.

Tahun ini, pihaknya juga akan membangun pompanisasi di Sungai Bendung untuk mengurangi genangan air di wilayah timur Palembang. Progress pembanguinan pompanisasi baru selesai tender.

“Awal tahun ini baru selesai proses tender. Selanjutnya akan mulai pembangunan pada tahun ini juga,” terangnya.

Ditanya soal pembebasan lahan, Harno mengungkapkan, itu sudah selesai dilakukan. Namun, untuk ganti rugi kepada masyarakat yang lahannya terkena pembangunan pompanisasi masih dilakukan secara bertahap

“Kita lakukan ganti ruginya secara bertahap kepada masyarakat,” tandasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Pemko akan segera menormalisasi daerah aliran sungai (DAS) di beberapa kelurahan di Palembang.

Normalisasi sungai dipandang sebagai solusi paling tepat dalam menuntaskan persoalan banjir, karena komposisi kota yang 65 persen merupakan tanah rawa.

“Pemko terus membersihkan sungai dan menggugah kesadaran warga untuk menjaga lingkungan sejak musim kemarau tahun ini. Seperti diketahui, warga yang bermukim di dekat sungai masih kurang peduli, sehingga masih perlu pemerintah turun tangan untuk menggerakkan,” tuturnya.

Baca Juga:  1127 Mahasiswa UIN Raden Fatah di Wisuda Secara Tatap Muka

Ia mengatakan, saat ini sejumlah anak Sungai Musi mulai mendangkal karena endapan tanah dan tumpukan sampah warga. Bahkan diameternya menyempit dan ada yang menghilang.

“Dari 100 anak sungai di Palembang, saat ini tersisa hanya 60 saja. Banyak yang menyempit dan mendangkal, seperti Sungai Buah di kawasan Pusri sebelumnya berkedalaman 3 meter, sekarang hanya 1,5 meter karena ada sedimentasi (endapan) dari sampah,” ungkapnya.

Selain Sungai Buah, beberapa anak sungai lain juga mengalami persoalan serupa, seperti Sungai Bendung, Sungai Sekanak, dan Sungai Aur.

Ia mengajak masyarakat Kota Palembang untuk bersama-sama mengantisipasi bencana banjir.

“Seluruh masyarakat harus rutin melakukan gotong royong membersihkan parit dan sungai. Ini agar ketika Palembang diguyur hujan dengan curah yang tinggi, air tidak tergenang dan bisa langsung mengalir ke sungai,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Palembang, M Syafri Nungcik mengatakan, Kota Palembang membutuhkan infrastruktur pintu air sungai dengan sistem buka tutup untuk mengatasi persoalan banjir yang masih terjadi saat turun hujan.

Baca Juga:  Hujan Satu Jam Saja Palembang Banjir

“Sistem drainase di Kota Palembang sebenarnya sudah maksimal, demikian juga dengan keberadaan kolam retensi. Tapi tetap saja sulit mengatasi banjir karena tidak ada pintu air yang mencegah air Sungai Musi yang meluap ke perumahan warga di saat hujan lebat,” kata Syafri.

Dia mengatakan, pintu air berada di muara sungai itu telah direncanakan akan dibangun sejak 2015 lalu namun masih mengalami kendala pembebasan lahan bersamaan dengan proyek rumah pompa.

“Pembangunan infrastruktur ini akan memaksimalkan kinerja saluran air dan kolam retensi yang sudah dibangun selama ini, jadi tidak ada pembangunan yang sia-sia,” ujarnya.

Selain merencanakan pembangunan pintu air sungai dan rumah pompa, pemerintah kota juga akan membangun dua buah waduk di lahan seluas 100 hektare di kawasan Gandus, Tanjung Barangan, dan simpang Bandara. Pada tahun ini, proyek pompa bendungan ini juga akan ditambah di muara Sungai Sekanak.

“Jika semua proyek terealisasi, maka persoalan banjir Kota Palembang akan teratasi hampir 80 persen. Selama ini lantaran tidak ada infrastruktur penanggulangan banjir, sementara titik banjir di dalam kota bertambah dari 39 menjadi 59 titik,” tukasnya. # ren/dil 

Komentar Anda
Loading...