D4F, Cara Cepat Untuk Kaya

98

Belum setahun berdiri, D4F sudah membuat heboh seluruh Indonesia. Iming-iming kekayaan dalam waktu singkat membuat banyak orang tertarik untuk bergabung.

Palembang, BP

11 30 -- Grafis Money Game D4FKota Palembang kini dihebohkan dengan munculnya sebuah komunitas yang begitu mencuri perhatian bernama Dream For Freedom (D4F). Ini adalah komunitas berbagi uang yang dirancang semua orang mendapatkan keuntungan 1% per hari tanpa harus merekrut member.

Program ini launching Januari 2015 serempak di 24 provinsi seluruh Indonesia. Sekarang sangat dahsyat dan akan terus berkembang. Penghasilan yang didapat sesuai paket yang dipilih. Ada passive bonus di mana member tidak harus merekrut anggota namun tetap dapat uang.  Belum lagi komisi pasangan dan komisi lainnya. Lalu bagaimana cara kerja D4F, yang banyak disamakan dengan Multi Level Marketing (MLM) atau Money Game?

Walaupun sistem sudah dibuat seaman mungkin, namun D4F juga mengantisipasi jika ada apa-apa dengan sistem, makanya disiapkanlah bisnis real yang beromset milyaran rupiah. Seperti RBT (Ring Back Tone Dream4Freedom), Promonesia.com (Web portal iklan), Dream Audio Program, Dream Tour, International Money Changer and Payment Processor, Dream4Freedom Magazine, Promonesia VISA Card bekerjasama dengan ribuan merchant yang memberikan Discount. Contoh. Jika target satu juta partisipan tercapai, maka jika semua partisipan D4F mengaktifkan RBT D4F maka keuntungan yang didapat Rp5 miliar (Rp5 ribu x 1 juta member). Ini baru dari RBT saja, belum yg lain.

Apriyanto salah satu penggiat D4F di Palembang mengatakan, dia tidak memperdulikan pandangan negatif tentang D4F dan terus maju mewujudkan mimpinya. Bahkan dengan hanya sekitar lima bulan bergabung dia mampu membeli satu mobil pribadi Toyota Avanza. Menurutnya, awalnya dia diajak teman sejawat yang mengajaknya bergabung. Namun butuh waktu tiga bulan baginya sebelum memutuskan bergabung. Setelah yakin dia berhasil mencatat lebih dari 200 partisipan yang sudah diajaknya bergabung dengan D4F.

“Semua bisnis ada risiko, tapi bagaimana kemudian kita menepis anggapan buruk itu. Mengenai riba, itu tinggal kembali ke diri kita. Apalagi Ketua MUI Pangkal Pinang sendiri sudah gabung di D4F, lalu di mana ribanya,” ujar Aprianto yang bergabung sejak Juni 2015, belum lama ini.

Disinggung mengenai ketakutan akan pergerakan D4F yang tidak akan bertahan lama dirinya kembali memantapkan visi bahwa risiko tersebut tentu sudah dipikirkan matang-matang. Bahkan dirinya pun bercita-cita menuju kebebasan finansial dan kebebasan waktu.

“Bagaimana kemudain kita sampai meyakinkan sampai lebih dari 200 orang? Bagi saya sukses bagi diri kita sendiri hanya 50 persen tapi sukses mengajak orang baru kemudian 100 persen,” kata Aprianto.

Aprianto tak kemudian menampik bahwa dari semua yang diajak bergabung tak sedikit yang menolaknya. Tapi menurutnya, bagaimana kemudian dari hasil yang ia raih banyak orang yang kemudain bergabung.

“Saya awalnya ikut paket gold kemudian sekarang memasang banyak paket sehingga penghasilan saya mencapai Rp6-7 juta per bulan,” urainya.

Rhere (23), pegawai swasta  mengaku telah sembilan bulan menjadi partisipan D4F yang diketahuinya melalui teman.

“Saya diajak teman, saya melihat teman saya itu sudah banyak penghasilan dan saya tergiur. Kalau sekarang saya sudah meraup keuntungan lebih dari Rp50 juta dari modal awal yang hanya Rp1 juta. Saya masih partisipan saja, kalau teman saya itu sudah jadi Ruby dan Safir atau posisi di atas partisipan,”ungkap Rhere.

Dirinya tak menampik akan adanya ketakutan jika bisnis ini tak bertahan lama.

“Sejauh ini yakin saja walaupun kadang takut juga, karena D4F ini juga punya produk seperti Promonesia dan Loketnesia. Kabarnya nanti tahun 2016 akan ada toko penjualan sejenis Indomart. Saya sadar bisnis ini sebenarnya tidak terlalu menjamin, tapi sejauh ini yakin saja, toh uang modal saya juga sudah kembali,” tukasnya.

Sejauh ini, sambung Rhere, dirinya telah memiliki ‘kaki’ dari bisnis tersebut sebanyak 20 orang.

“Bisa-bisa kita saja menjelaskan sama calon partisipan yang kita ajak, karena tanpa menjelaskan terlalu banyak orang juga sudah tahu ini cukup menguntungkan. Saya sudah membuktikan sendiri, untungnya juga sudah saya pakai jalan-jalan ke luar negeri,” imbuhnya.

Disinggung mengenai Money Game dan Riba, Rhere nampaknya tak terlalu memusingkan hal tersebut.

“Kalaupun Riba sepertinya saya tetap lanjut, tapi memang saya punya target sendiri sampai pada titik nominal yang saya inginkan. Secara pribadi saya ingin bisa memberangkatkan umroh kedua orangtua saya. Intinya nanti saya juga akan berhenti kok,” pungkasnya.

Baca Juga:  Sosialisasikan Perseroan Perorangan, Kemenkumham Sumsel Berikan Kemudahan bagi UMKM

Kalangan mahasiswa juga tertarik mengikuti bisnis ini, seperti yang dikatakan Agung. Dia mengaku awalnya tidak begitu tertarik dengan D4F, karena takut seperti MLM yang kemudian tenggelam dengan segudang janji palsu yang ditawarkan.

“Awalnya sih ragu, karna mikir D4F ini sama seperti seperti MLM pada umumnya yang ujungnya kita jual produk dan ajak teman
sebanyak mungkin dengan berbagai hadiah yang bisa kita dapat. Tapi ujungnya tidak jelas dan banyak teman yang kecewa,” kata Agung.

Sebelum bergabung, dirinya hanya mendengar D4F dari mulut ke mulut dan media sosial. Kemudian ada seorang temannya yang memberikan tawaran dan menjelaskan apa itu D4F, yang berbeda dengan MLM.

“Tahunya dari teman yang sudah terlebih dahulu bergabung. Dia meyakinkan saya bahwa bisnis ini menguntungkan dan tidak memberikan kerugian. Setelah mendapatkan penjelasan serta pengarahan bagaimana sistem yang dijalankan D4F, saya juga tidak langsung percaya. Bahkan hampir dua bulan saya memikirkan untuk bergabung dan meyakinkan saya bahwa D4F ini salah satu bisnis yang meyakinkan,” tuturnya.

Setelah yakin, Agung segera  menghubungi temannya untuk meminta bimbingan lebih lanjut terkait bisnis D4F. Lantas dia memilih paket gold dengan modal awal Rp5 juta.  Setelah bergabung dirinya mulai merasakan hasil dengan keuntungan tiga kali lipat.

“Kalau mau dibilang susah tidak juga. Bisnis ini bisa dilakukan oleh siapa saja dengan profesi apa saja karena bisnis ini tidak memakan waktu. Jadi kita meyakinkan orang dengan hasil yang sudah kita dapatkan dan itu sudah cukup meyakinkan. Ditambah anggota tidak diwajibkan untuk merekrut anggota baru, namun tergantung dari minat mereka ingin menambah bonus,” ujarnya.

Untuk keuntungan yang didapat Agung mengatakan, tidak hanya dalam bentuk finansial saja, tetapi dirinya juga bisa mendapatkan teman dan relasi baru. Baginya, menjalani bisnis di usia muda akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
“Untuk masalah Riba kita
juga masih bingung karena bisnis ini banyak yang mengikuti dan semuanya baik saja. Selain itu, ini merupakan bisnis saling membantu antar anggota,” jelasnya.

Fikar, seorang guru di Palembang mengaku ikut bergabung karena ajakan dan melihat dari kakaknya. Walau dirinya hanya mengikuti paket silver dengan modal Rp1 juta, namun dirnya sangat optimis akan mendapatkan hasil yang baik dengan kerja keras.

“Memang kita ambil paket kecil saja karena mau coba dulu. Tapi kita yakin bahwa ini akan menimbulkan hasil. Ketika sudah muncul progress saya akan mengambil paket gold atau platinum,” tegasnya.

Dirinya mengaku, bisnis ini tidak mengganggu dan juga perlahan menunjukan hasil. Jika ingin hasil lebih maka harus bekerja lebih giat.

“Pertama sih masih ragu tapi melihat teman sudah banyak ikut, jadi kita coba ambil paket silver dulu. Untuk masalah penipuan awalnya pasti ada rasa ragu, namun kita yakin dan percaya saja. Semoga bisnis ini bisa menjadi progress ke depannya,” katanya.
Belum Ada Laporan Penipuan

Bagi masyarakat di Kota Palembang yang tergabung dalam bisnis investasi seperti D4F jika merasa tertipu dan terjadi pelanggaran di dalam komunitas berbagi uang tersebut, semisal bonus yang dijanjikan macet. Para member dapat dengan cepat langsung melapor ke aparat kepolisian.

“Ya, kalau ada masyarakat yang merasa tertipu, tindakan hukum yang bisa dilakukan member atau masyarakat bisa langsung laporkan saja ke kantor polisi terdekat,” ujar Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova, Kamis (26/11).

Namun, Polda Sumsel sejauh ini belum menerima adanya laporan penipuan dari masyarakat atas nama D4F. Sebelumnya, pada 2012 banyak masyarakat yang melaporkan tentang investasi saham tersebut ke Polda Sumsel. Bahkan, saat itu sudah diusut.

Dalam pengusutan kasus penipuan berkedok investasi tersebut, dijelaskan Djarod, memang sudah lama, terlebih saat ini sudah terdakwa dan berada di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Selain itu, jika ada yang dilaporkan dalam kasus ini dan nantinya terbukti bersalah akan terancam hukuman di atas lima tahun penjara.

“Belum ada kalau saat ini, dulu yang ramai dilaporkan investasi saham tahun 2012 lalu dan itu juga sudah diusut dan sudah ditahan,” kata Djarod.

Baca Juga:  Kemenkumham Sumsel Dorong Pelayanan Berbasis HAM di Pemkab Empat Lawang

Disinggung mengenai sejauh mana pengawasan kepolisian terhadap bisnis money game tersebut, sambung Djarod, Polda Sumsel selalu melakukan tindakan prefemtif. Dalam tindakan ini, pihaknya terus memberikan imbauan, sosialisasi dan lainnya.

Polda Sumsel juga mengimbau, agar masyarakat tidak tergiur dengan iming-iming keuntungan besar yang diberikan perusahaan investasi. Bahkan, agar masyarakat juga tak tertipu dalam bisnis semacam ini pihaknya mengajak media di Sumsel agar ikut terlibat membantu melakukan pemberitaan.

“Saya harap juga media harus ikut membantu dengan mempublikasikan besar-besaran, memberikan imbauan agar warga di Sumsel, khusunya Kota Palembang tidak tertipu,” imbau Djarod.

Dari data yang dihimpun oleh Polda Sumsel, diakui Djarod, belum ada anggota Polri terutama di Mapolda Sumsel yang ikut mencari uang dengan bisnis investasi tersebut. Selain itu, belum ada juga anggota Polri yang melaporkan kasus penipuan bisnis investasi ini.
Osug/bel/ndi/rio

Diawasi Dirjen Pajak

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) meminta kepada semua sektor usaha yang memiliki keuntungan dalam transaksi bisnisnya dan wajib melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) pajak.
Kepala DJP Sumsel Babel Samon Jaya mengatakan, pihaknya sedang menelusuri semua kewajiban pajak bisnis ini. Jika tidak memenuhi kewajiban pajak maka pihaknya akan mengambil tindakan sesuai dengan peraturan pajak.

“Pada intinya kami DJP menyasar semua bisnis yang menghasilkan atau mendapat keuntungan, mereka ini harus memenuhi kewajibannya. Kami sudah pantau dan memiliki data, apalagi mereka cari uang dan member di Palembang,” kata Samon Jaya.

Apakah termasuk Dream For Freedom (D4F) yang ramai diperbincangankan di Kota Palembang? Samon tidak mau menyebut secara gamblang. Menurut data pihaknya, Wajib Pajak (WP) ini Objek Pajak (OP) berada di kawasan Seberang Ulu (SU).

“Kami sudah cek, saat ini masih kami telusuri kewajiban pajak yang harus dibayar. Dari nama PT yang kami dapat pusat usaha ini ada di Jakarta, untuk berkas tindak lanjutnya sudah berjalan, jika pun belum melaporkan SPT, kami baru sebatas kalirifikasi,” katanya.

Proses selanjutnya jika tidak membayar pajak di Ditjen Pajak Sumsel Babel sedangkan kewajiban pajaknya telah diketahui, Samon mengklaim tetap akan memediasi WP ini. Namun menurutnya, jika diselesaikan di tahun ini juga maka sanksi pajaknya bisa dihapuskan.

“Mudah-mudahan segera cepat diselesaikan oleh orang yang bersangkutan, berkasnya sudah berjalan. Kalau 2016 nanti baru akan diselesaikan, tidak ada penghapusan sanksi pajak lagi, tentu kewajiban pajaknya akan makin tinggi,” ujar.

Samon mengindikasikan D4F belum melaporkan pajak di Ditjen Sumsel Babel. Samon mengklaim, jenis usaha ini sudah menjadi sorotan pihaknya, termasuk jenis dan sektor usaha lain, apalagi sudah melibatkan masyarakat dan jumlah transaksi yang fantastis.
Pihaknya tidak peduli tentang jenis lembaga atau sektor bisnis yang digeluti.
“Mau MLM, Money Game apa pun jenis usahanya yang menghasilkan, wajib bayar pajak,” kata Samon sembari enggan menyebut apakah D4F sudah membayar kewajiban pajak atau belum.

Samon menjelaskan, dalam penerapan atau penagihan pajak, DJP memiliki prosedur dan ketentuan yang sudah diamanatkan Undang Undang. Sehingga wajib pajak tidak perlu khawatir akan kelebihan bayar pajak.

Setiap badan usaha maupun individu wajib melaporkan omset, biaya, keuntungan dan sebagainya dalam transaksi yang dilakukan. Termasuk barang-barang atau aset yang dibeli dari hasil keuntungan menjalani bisnis.

“Kami imbau laporkan dulu, kalau merasa belum melapor sebaiknya segera untuk melaporkan. Kami juga memiliki data akan secepatnya mengkalrifikasi, jika ini tidak ditanggapi, maka akan ada tindakan selanjutnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” katanya.

Dalam penerapan pajak, Samon menjelaskan para member harus memiliki bukti potong dari pemberi penghasilan. Sehingga pemenuhan ketentuan pajak terhadap bisnis yang digeluti semakin jelas. Samon mengakui, tim sudah melacak sejauh mana kewajiban pajak pada sektor usaha seperti ini dan tidak hanya D4F yang saat ini cukup ramai diperbincangkan.

“Terutama pihak yang menaungi ini harus melapor, jika tidak melapor maka kami wajib mengklarifikasi, bahkan melakukan penyelidikan jika memang ada potensi pajak yang belum dibayar,” tuturnya.

Jika lembaga yang menaungi berada di Jakarta, Samon mengklaim tidak menjadi masalah bagi pihaknya. Sebab, transakasi sudah ada di Palembang yang merupakan wilayah pengawasan DJP Sumsel Babel.

Baca Juga:  Aniaya Keponakan, Masuk Penjara

“Kami tetap akan telusuri semua transaksi yang ada, bahkan koordinasi juga sampai ke Jakarta. Jadi tidak ada masalah lembaga bisnisnya ada di Jakarta atau di Palembang,” kata Samon.
Oren

Bukan Wilayah OJK

Investasi berbasis Money Game tanpa jaminan tumbuh subur di Kota Palembang. Arahnya investasi ini juga belum jelas. Salah satunya yang sedang booming yakni Deam For Freedom (D4F), yang digadang-gadang  merupakan hasil copy paste dari
Sistem Manusia Membantu Manusia (MMM), yang sempat bersinar namun kemudian gulung tikar.

Setelah dikonfirmasi pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merupakan lembaga pengawasan industri keuangan di Sumatera Selatan, nama D4F tidak terdaftar sebagai lembaga yang berada dalam list pengawasannya.

Kepala OJK Sumsel, Patahuddin mengatakan, OJK mengawasi secara langsung sekitar 26 lembaga keuangan yaitu 25 Bank Pengkreditan Rakyat (BPR) dan satu Bank Pembangunan Daerah (BPD).

“Di luar itu bank BUMN dan swasta yang operasional di Palembang dan pusatnya di Jakarta, maka pengawasan dari OJK pusat. Di sini hanya sifatnya tetap mengawasi, tapi tidak menginstruksi secara langsung.  Kalau lembaga keuangan daerah sini baru ditindak langsung oleh kita,” katanya.

Kegiatan berbau Money Game tersebut kemungkinan punya izin usaha, tapi izinnya bukan dari pihak OJK. Money Game banyak beroperasi sehingga masyarakat harus berperan aktif agar investasi tersebut bisa ditindak oleh OJK. Setelah mendapat laporan, baru ada satgas yang menyelidiki, jika terjadi indikasi kejahatan, baru masuk ranah pidana.

Menurutnya, investasi ini tidak teridentifikasi sebelum ada korban. Investasi bodong akan menjanjikan untung berlipat di atas bunga bank, dengan iming-iming dalam waktu yang singkat mendapatkan keuntungan yang banyak. Investasi yang sehat bisa dilihat dari perusahaan harus jelas, memiliki izin, dan diselidiki dulu.

“Bagi masyarakat yang ingin berinvestasi hendaknya mencari referensi jenis investasi yang memiliki izin resmi dari pemerintah, sehingga modal yang ditanamkan terjamin. Bila perlu konsultasi ke orang yang lebih memahami,” katanya.

Selain itu, untuk Money Game sebisa mungkin dihindari. Jika memang dapat memahami risiko dari kegiatan tersebut tetap dipersilakan. Jika suatu saat terjadi crash (bangkrut) maka jangan menyalahkan pemerintah.

“Tapi yang disayangkan adalah masyarakat pemula yang dirugikan. Rata-rata bisnis seperti ini hanya bertahan di bawah tiga tahun,” ujarnya.

Selain ditawarkan dengan imbalan tinggi, tawaran model bisnis produk mirip dengan arisan berantai ini sangat memikat masyarakat. Karena itu OJK mengimbau kepada masyarakat yang akan melakukan investasi untuk memperhatikan rasionalisasi setiap produk investasi yang ditawarkan dari pihak mana pun.

“Kami juga sudah mengajukan laporan terbaru atas kasus investasi ilegal yang tengah marak saat ini di Sumsel,” katanya.

Untuk mengurangi korban penipuan investasi ilegal tersebut, OJK akan mengintensifkan kembali Satgas Waspada Investasi yang terdiri dari OJK, Kejaksaan Agung dan Polri.

“Satgas ini sebagai pilar utama pencegahan tumbuh kembang model investasi penipuan dan merugikan masyarakat,” pungkasnya.

Pengamat ekonomi dari Univesitas Tridinanti Palembang (UTP) Prof Dr Sulbahri Madjir, SE, MM, mengatakan, sebaiknya masyarakat memilih jenis bisnis yang jelas dan tidak mudah terjebak dengan keuntungan yang menjanjikan. Lihat dulu apakah jenis usaha ini merugikan atau tidak, keuntungan yang berlipat itu bersumber dari mana.

“Pada akhirnya banyak yang akan dirugikan jika bisnis yang digeluti ini tidak jelas. Perizinannya seperti apa, legalitas secara hukumnya bagaimana, kalau bisnis sudah tidak bayar pajak, atau sengaja menghindari pajak, ini sudah tidak benar,” kata Sulbahri.

Dia mengatakan, negara ini hidup dari pajak. Kalau badan usaha, bisnis atau sektor usaha sudah menghindari pajak, pemerintah harusnya sudah bertindak. Jangan sampai, sudah meluas dulu baru akan diproses, setelah banyak yang merasa dirugikan baru akan ditindak.

“Menurut saya, pilihlah usaha yang jelas, hasilnya juga jelas, tidak perlu muluk-muluk dengan janji bonus dan sebagainya, yang penting usaha yang digeluti ini sesuai dengan prosedur yang berlaku dan memang murni dari yang kita kerjakan dan tidak merugikan orang banyak,” tutupnya.
Opit/ren

Komentar Anda
Loading...