LAHAT – Sebanyak 305 pelajar SMP Negeri 1 Pagar Gunung, Kabupaten Lahat, mengikuti Gerakan Pelajar Cinta Budaya Sendiri dengan mengunjungi Situs Megalitik Batu Macan di Desa Pagar Alam, Kecamatan Pagar Gunung, Selasa (3/11/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut diikuti seluruh pelajar bersama belasan guru dan Kepala SMPN 1 Pagar Gunung, Yasher Arafat, S.Pd. Mereka berjalan kaki sejauh sekitar satu kilometer dari sekolah menuju lokasi situs megalitik.
Pemandangan ratusan pelajar berseragam putih biru yang berjalan memenuhi Jalan Lintas Pagar Gunung–Mulak Sebingkai menjadi perhatian masyarakat. Namun, mereka bukan meninggalkan sekolah untuk bermain, melainkan mengikuti kegiatan pembelajaran di luar kelas dengan mengenal langsung warisan budaya daerah.
Kepala SMPN 1 Pagar Gunung, Yasher Arafat, S.Pd., mengatakan Gerakan Pelajar Cinta Budaya Sendiri merupakan upaya mengenalkan, memahami, mencintai, dan melestarikan budaya bangsa beserta nilai-nilai luhurnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan mencegah hilangnya identitas daerah dan bangsa, menghargai warisan leluhur, serta menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, gerakan ini diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang memiliki rasa nasionalisme, sekaligus menjadi benteng terhadap pengaruh negatif budaya luar di tengah derasnya arus globalisasi.
“Melalui kegiatan ini, para pelajar diharapkan semakin mengenal dan mencintai budaya sendiri. Jangan sampai budaya daerah kehilangan nilai keasliannya atau tergeser oleh perkembangan zaman,” tegas Yasher.
Juru Pelihara Situs Batu Macan, Marlini, mengapresiasi kegiatan yang digagas SMPN 1 Pagar Gunung tersebut.
Menurutnya, meskipun Yasher Arafat belum lama menjabat sebagai kepala sekolah, kegiatan ini telah memberikan ruang pembelajaran yang bermanfaat bagi pelajar dan guru sekaligus mendukung pelestarian cagar budaya di Kecamatan Pagar Gunung.
Setibanya di Situs Megalitik Batu Macan, para pelajar langsung diarahkan menuju lokasi Arca Batu Macan. Kegiatan dipandu Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Agung, yang dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah dan pemaparan sejarah situs oleh Ketua Panoramic of Lahat, Mario Andramartik.
Mario yang pernah menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan 2017 menjelaskan bahwa Situs Megalitik Batu Macan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Kabupaten Lahat.
Situs tersebut menyimpan sejumlah peninggalan megalitik, di antaranya arca macan, lumpang batu, lesung batu, tetralith, dan batu datar. Peninggalan tersebut tersebar di kawasan perkampungan warga maupun persawahan.
Menurut Mario, keberadaan benda-benda megalitik tersebut menjadi bukti peninggalan kebudayaan masa lalu yang harus dijaga bersama.
Ia menilai kegiatan pembelajaran langsung di lokasi cagar budaya seperti yang dilakukan SMPN 1 Pagar Gunung dapat membantu generasi muda memahami sejarah daerah secara lebih dekat.
“Gerakan Pelajar Cinta Budaya Sendiri ini sangat bagus dan positif, bukan hanya bagi pelajar dan guru, tetapi juga untuk mendukung pelestarian budaya daerah serta bangsa Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Pagar Gunung, Elsye Hartuti, SSTP., MM., juga menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
Ia mengatakan, kegiatan mengenal budaya dan sejarah sering kali kurang diminati kalangan anak muda. Karena itu, langkah sekolah membawa ratusan pelajar langsung mengunjungi situs bersejarah dinilai dapat menjadi sarana pembelajaran yang lebih menarik.
Menurutnya, Kecamatan Pagar Gunung memiliki banyak peninggalan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi penerus.
“Nenek moyang kita pada masa lalu sudah berkarya dengan baik. Buktinya dapat kita lihat dari peninggalan megalitik yang ada. Karena itu, generasi sekarang harus lebih baik dan jangan sampai melupakan budaya atau sejarah daerah sendiri. Lebih baik mencintai budaya sendiri daripada budaya orang lain,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dicontoh dan dilaksanakan sekolah-sekolah lain di Kabupaten Lahat agar upaya pengenalan dan pelestarian cagar budaya berlangsung secara berkelanjutan.
Menurutnya, generasi muda merupakan aset bangsa yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan menuju Indonesia Emas 2045.#udi