
Palembang, BP--Memperingati Hari Sumpah Pemuda, sekitar 100 peserta dari berbagai komunitas di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, mengikuti kegiatan Lahat Historical Bike, Minggu (25/10/2026).
Kegiatan bersepeda bersama ini tidak sekadar menjadi ajang olahraga dan silaturahmi, tetapi juga mengajak masyarakat menelusuri jejak sejarah Kota Lahat melalui bangunan bersejarah, peninggalan perkeretaapian, hingga situs yang menjadi saksi perkembangan daerah.
Mengusung semangat persatuan dan kecintaan terhadap sejarah lokal, para peserta mengayuh sepeda menyusuri sejumlah lokasi bersejarah yang memiliki peran penting dalam perjalanan Kota Lahat.
Sebelum keberangkatan, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Lahat, AKP Desi Azhari, S.H., M.Si., CPH, memberikan arahan kepada peserta mengenai pentingnya menjaga keselamatan, ketertiban, dan mematuhi aturan lalu lintas selama kegiatan berlangsung. Ia diketahui baru dua hari menjabat di Lahat.
Rombongan memulai perjalanan dari kawasan Car Free Day di sekitar Tugu Kolonel Barlian, Kelurahan Bandar Jaya. Peserta kemudian menyusuri Jalan Kolonel Barlian hingga Jalan Letnan Alamsyah di Kelurahan Talang Jawa.
Perhentian pertama rombongan berada di pertigaan Masjid Al Mutaqim. Di lokasi ini, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah kawasan tersebut yang berdasarkan keterangan dalam kegiatan itu, dahulunya merupakan area pemakaman Tionghoa atau yang dikenal sebagai Kuburan Cina.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Bengkel Balai Yasa melalui Jalan Prof. Emil Salim.
Bengkel Balai Yasa merupakan salah satu peninggalan penting dalam sejarah perkeretaapian di Sumatera Selatan. Bengkel ini telah beroperasi sejak 1931 dan menjadi bagian dari perkembangan transportasi kereta api di wilayah tersebut.
Di lokasi ini, peserta tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto bersama sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.
Rombongan kemudian menuju Terowongan Gunung Gajah, terowongan kereta api yang telah beroperasi sejak 1929. Selain menjadi bagian penting dari infrastruktur perkeretaapian, terowongan ini juga menyimpan nilai sejarah dalam perkembangan jalur kereta api di wilayah Lahat.
Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berfoto sekaligus mengenal lebih dekat salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi kebanggaan daerah.
Dari Terowongan Gunung Gajah, perjalanan berlanjut ke kompleks sekolah Santo Yosef, salah satu kawasan pendidikan bersejarah di Kota Lahat.
Kompleks ini memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan. SD Santo Yosef mulai beroperasi pada 1936, disusul SMP pada 1938, sedangkan SMA mulai beroperasi pada 1967.
Sekolah tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Lahat dan telah melahirkan sejumlah tokoh daerah maupun nasional. Di antara nama yang disebut dalam kegiatan ini adalah Saifuddin Aswari, Bursah Zarnubi, Komjen Pol Susno Duadji, dan Sri Meliyana.
Setelah meninggalkan kompleks Santo Yosef, peserta kembali menyusuri kawasan bersejarah yang dahulu menjadi pusat pemerintahan wilayah Afdeling Palembang Dataran Tinggi.
Pada masa pemerintahan kolonial, Lahat memiliki peran administratif penting yang mencakup wilayah luas. Kawasan tersebut meliputi daerah-daerah yang kini menjadi Kota Prabumulih, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, Kabupaten Empat Lawang, Kota Pagar Alam, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Musi Rawas Utara.
Pusat pemerintahan berada di kawasan tepian Sungai Lematang. Pada era 1970-an hingga 1990-an, kawasan tersebut dikenal masyarakat sebagai kawasan Benteng.
Sejumlah bangunan peninggalan masa kolonial masih dapat dijumpai di kawasan ini. Salah satunya adalah rumah dinas Asisten Residen yang kemudian digunakan sebagai rumah dinas Bupati Lahat.
Selain bangunan tersebut, masih terdapat beberapa bangunan lama dengan gaya arsitektur Indies Style, yang memperlihatkan perpaduan unsur arsitektur Eropa dan lokal.
Sementara itu, bangunan bekas Kantor Asisten Residen yang kemudian menjadi Kantor Bupati Lahat telah digantikan bangunan baru yang kini digunakan sebagai Perpustakaan Daerah.
Keberadaan bangunan-bangunan tersebut menjadi pengingat bahwa Lahat pernah memegang peranan penting dalam sistem pemerintahan dan administrasi wilayah Sumatera Selatan.
Sebelum mencapai garis akhir, rombongan singgah di Gereja Santa Maria. Bangunan gereja yang selesai dibangun pada 1933 ini masih mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah di Kota Lahat.
Tidak jauh dari lokasi tersebut, dahulu terdapat tiga bangunan kolonial bergaya Indies Style. Namun, kini hanya satu bangunan yang disebut masih bertahan, yakni rumah dinas Manajer PLN UP3 Lahat. Dua bangunan lainnya telah digantikan bangunan baru.
Setelah menyelesaikan seluruh rute penelusuran sejarah, peserta mengakhiri perjalanan di Lapangan MTQ Lahat.
Sepanjang perjalanan, peserta tidak hanya mendapatkan manfaat olahraga, tetapi juga pengetahuan mengenai sejarah, perkembangan kota, dan keberadaan bangunan-bangunan yang menjadi bagian dari identitas Lahat.
Kegiatan Lahat Historical Bike mendapat sambutan positif dari para peserta. Mirlan menilai kegiatan tersebut menarik dan layak dijadikan agenda rutin.
“Mantap, keren gowes ini dan perlu dijadikan agenda rutin,” ujarnya.
Hal senada disampaikan AKP Irsan Rumsi. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kesehatan sekaligus menambah wawasan mengenai sejarah daerah.
“Alhamdulillah, gowes sehat, menyenangkan, dan mendapat pengetahuan tentang sejarah Kota Lahat,” katanya.
Sementara itu, Yasher, S.Pd., menilai kegiatan ini memiliki banyak manfaat positif. Selain menjaga kesehatan, kegiatan tersebut memperkenalkan peninggalan sejarah lokal kepada masyarakat, menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan terhadap Kota Lahat, serta mempererat silaturahmi antarkomunitas.
Kegiatan Lahat Historical Bike digagas oleh Lembaga Kebudayaan dan Pariwisata Panoramic of Lahat bersama Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Lahat serta sejumlah komunitas sepeda di Lahat.#udi