Membaca Musi Rawas Lewat Lensa: Kala Bunda Literasi Bicara Tentang Kekuatan Visual

11
Para peserta “Nonton, Workshop, & Diskusi Film” usai acara di Aula Sekretariat TP PKK Kabupaten Mudi Rawas, Kamis (7/5/2026). (Istimewa)

MUSI RAWAS, BP — Di tengah gempuran arus informasi digital, Komunitas Majelis Lingkaran mengambil langkah progresif dengan mendudukkan film bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai perangkat literasi masa kini. Upaya ini terwujud dalam agenda “Nonton, Workshop, & Diskusi Film” yang terselenggara atas dukungan penuh dari Dana Indonesiana, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Berbeda dari diskusi film pada umumnya, aula Sekretariat TP PKK Kabupaten Musi Rawas pada 7 Mei lalu dipenuhi oleh sosok-sosok penggerak akar rumput. Sebanyak 50 Bunda Literasi dari berbagai penjuru Kabupaten Musi Rawas hadir untuk menyelami dunia audiovisual. Langkah ini menjadi krusial; karena di tangan para Bunda Literasi inilah, pesan-pesan edukasi disampaikan ke keluarga dan lingkungan terkecil.

Baca Juga:  Perum Bulog Lubuklinggau Kembali Serap Gabah Kering Panen Sampai Desember 2025

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Musi Rawas, Ibu Endang. Beliau menggarisbawahi bahwa perpustakaan masa kini harus mampu bertransformasi, termasuk dalam mengadopsi narasi visual sebagai bagian dari penguatan kearsipan budaya.
Identitas daerah menjadi nyawa dalam sesi pemutaran film. Tiga karya terpilih yang diputar: “Rectoverso” (Rian Sastranegara), “FOURSTO” (Langgeng Prasetyo), dan “Bernapas Sejenak” (OMO Production), menampilkan fragmen kehidupan dengan latar belakang lanskap Musi Rawas yang autentik.

Baca Juga:  Anggota DPRD Sumsel Bembi Perdana Gercep Perjuangkan Keluhan Masyarakat Lubuk Linggau

Menonton karya ini seolah mengajak para peserta melihat diri mereka sendiri melalui sudut pandang kamera yang lebih jernih.

Diskusi berlangsung dinamis bersama panel narasumber yang menghadirkan H. Riza Novianto Gustam (Bapak Literasi Kabupaten Musi Rawas) beserta para praktisi film seperti Inung Linggau, Susanto, S.Pd., Rian Sastranegara, dan Langgeng Prasetyo. Fokus utamanya adalah membedah bagaimana konten audio visual dapat menjadi jembatan literasi bagi remaja di Musi Rawas.

Baca Juga:  Bersama Komisi V DPRD Sumsel, Januari, Sultan Palembang , Zuriat dan Dinas Terkait Akan Bertemu Fadli Zon, Minta Pembangunan Gedung Tujuh Lantai Rs dr Ak Gani Dihentikan

“Film adalah bahasa universal. Ketika Bunda Literasi memahami proses di balik layar, mereka bisa membimbing generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produser narasi yang positif bagi daerahnya,” ungkap Desy Arisandi sebagai perwakilan Komunitas Majelis Lingkaran.

Kegiatan ini membuktikan bahwa sinergi antara komunitas kreatif dan perangkat daerah mampu menciptakan ruang diskusi yang inklusif. Melalui layar lebar, Majelis Lingkaran dan para penggerak literasi Musi Rawas sedang menuliskan kembali cara mencintai daerah melalui karya yang abadi. #

Komentar Anda
Loading...