Majelis Lingkaran Gelar Refleksi di LSSMF 5th: Menautkan Masa Lalu dan Masa Depan

32

MUSI RAWAS, BP — Sinema Lubuklinggau Komunitas Majelis Lingkaran menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dana Indonesiana, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Melalui dukungan pendanaan dari lembaga-lembaga tersebut, rangkaian program 5th Lubuklinggau Students Short Movie Festival (LSSMF) dapat terselenggara sebagai ruang bagi para sineas muda
di Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara.

Kegiatan yang bertajuk “Sinema Lubuklinggau, Dulu dan Hari Ini”, berhasil diselenggarakan di lobi Benny Institute pada 30 April lalu. Acara ini dihadiri oleh narasumber ahli, serta 50 peserta terpilih yang merepresentasikan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar hingga profesional.

Baca Juga:  Stok Beras Aman Jelang Nataru, Bulog Lubuk Linggau Siap Tiga Bulan ke Depan

Diskusi dimulai dengan pemutaran tiga karya sinematik ikonik yang mencatat
evolusi perfilman daerah dalam dua belas tahun terakhir, yakni “Majasenja” (2014), “Bernapas Sejenak” (2017), dan film terbaru “Ayah Juara” (2026). Penayangan ini bukan sekadar ajang apresiasi, melainkan sebuah upaya untuk membedah transformasi narasi dan kemajuan teknis produksi yang terjadi di wilayah Lubuklinggau dan sekitarnya.

Empat praktisi perfilman yang bertindak sebagai narasumber yaitu, Ibnu Maja (Aktor), Agung Dhariant (Produser), Abdi Karim Amrullah (Sinematografer), dan Kiki Auliya Damayanti (Pekerja Seni), membedah secara komprehensif mengenai proses kreatif dan manajemen produksi di balik karya-karya yang mereka pernah buat atau terlibat di dalamnya. Keempat pembicara menyoroti pentingnya menjaga orisinalitas cerita lokal sembari terus beradaptasi dengan standar teknis industri modern.

Baca Juga:  Pemkab Musi Rawas Wujudkan Janji: Jalan Mulus Sampai ke Desa Kini Terasa Nyata

“Melalui forum ini, Komunitas Majelis Lingkaran berupaya menjembatani pemikiran para pendahulu dengan semangat kreator muda saat ini. Kami ingin memastikan bahwa sinema lokal tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi dokumen sosial yang kuat,” ungkap Sri Rahayu sebagai perwakilan Komunitas Majelis Lingkaran dalam sambutannya.

Kehadiran 50 peserta dari berbagai latar belakang profesi menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap literasi perfilman kian meluas. Dengan sinergi yang terus terjalin antara komunitas, pemerintah, dan lembaga kebudayaan, diharapkan sektor perfilman di Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara dapat tumbuh menjadi salah satu pilar industri kreatif yang mandiri dan kompetitif di kancah nasional. #

Komentar Anda
Loading...